OUR NETWORK

Ketika Sang Kapten Disuguhkan Permainan Hambar

Michael Carrick bersiap untuk memasuki lapangan Old Trafford untuk terakhir kalinya sebagai pemain dalam pertandingan Manchester United kontra Watford. Ia berjalan bersama kedua anaknya yaitu Loise dan Jacey. Pemain bernomor punggung 16 itu melangkah diiringi dengan tepuk tangan dari seisi stadion serta Guard of Honour yang dibuat oleh kedua kesebelasan

Partai tersebut adalah laga kompetitif terakhir Michael Carrick setelah 12 musim mengabdi dalam balutan seragam berwarna merah. Diturunkannya pemain-pemain kunci macam Alexis Sanchez, Marcus Rashford, serta Juan Mata, menunjukkan kalau Jose Mourinho ingin memberikan kenangan manis kepada Carrick berupa kemenangan.

Pada akhirnya, United tetap menjadi pemenang. Akan tetapi, gol tunggal Rashford menjadi satu-satunya pembeda dalam laga yang terbilang begitu menjemukan. Ya, laga semalam memang sulit didefinisikan. Entah sudah tidak menentukan atau kelelahan karena cuaca yang terik, kesan pas-pasan justru ditampilkan para pemain United pada laga yang seharusnya bisa memberikan kesan.

Sepanjang 90 menit, United hanya sanggup membuat satu tembakan ke gawang yaitu tendangan Rashford yang menjadi gol. Itupun diawali dari kejelian Michael Carrick, pemain yang musim ini hanya tampil lima kali.

Baca juga: 
Kesebelasan Negara Inggris yang Membuat Michael Carrick Depresi

Hanya itu saja ancaman yang bisa United lakukan. Sisanya, tidak ada yang mengancam gawang Heurelho Gomes. Sepakan Rashford bahkan dua kali mengarah ke angkasa alih-alih ke target.

Sebaliknya, kubu lawan bisa mengancam melalui tiga tembakan ke gawang Romero meski memiliki jumlah sepakan yang sama dengan United yaitu tujuh tembakan. Salah satunya bahkan membahayakan gawang Sergio Romero.

Serangan United lebih banyak patah karena permainan mereka yang begitu terburu-buru. Ketika Michael Carrick mendapat bola, ia langsung mengirim bola tersebut ke pemain depan. Sialnya, jumlah orang yang menerima bola dari Carrick tidak sebanding dengan pemain bertahan Watford.

Ketika ingin melakukan serangan balik, para pemain United pun terlambat naik. Situasi menit ke-59 menggambarkan bagaimana tidak adanya dukungan dari para pemain tengah ketika United mencoba mengancam lini belakang The Hornets. Saat Alexis menggiring bola di sayap kiri, tidak ada pemain tengah yang mengikuti arah lari Sanchez ataupun Rashford meski saat itu hanya ada tiga pemain Watford yang mengawasi mereka.

Beberapa kali kita melihat raut wajah Alexis yang begitu kecewa. Serangan yang sudah dibangun justru kerap patah oleh rekannya sendiri. Tidak sedikit para suporter yang kecewa dengan cara main United saat itu yang seolah menganggap enteng Watford.

Serangan yang sudah dibangun matang dan bisa menjadi peluang kerap berakhir sia-sia. Beberapa kali terdengar teriakan dari para penonton saat Marcus Rashford yang mendapat bola dari Daley Blind justru mengembalikannya kembali ke belakang alih-alih mengirim bola ke depan.

Ketika memasuki 10 menit terakhir, Rashford berlari cukup cepat menuju lini belakang Watford dan menerima umpan terobosan dari Scott McTominay. Akan tetapi, Rashford justru memutar badannya membelakangi gawang dan memilih untuk memulai serangan dari sayap alih-alih mencoba berduel satu lawan satu.

Pada menit ke-92, Mata yang sebenarnya bisa memberikan umpan lurus ke arah lari Michael Carrick justru memberikan bola silang kepada Sanchez yang bergerak dari sisi kiri. Umpannya pun tidak akurat dan justru melebar meski akhirnya oleh Sanchez, bola tersebut berhasil dikirimkan kepada Herrera meski akhirnya serangan tersebut kembali patah.

Ancaman dari sisi sayap pun terhitung sepi. Hanya 14 umpan silang yang bisa dikirimkan pemain United dan itupun tidak ada yang menemui sasaran. Total, akurasi umpan United dalam laga ini pun tergolong rendah yaitu hanya 77% berbanding 82% milik Watford.

Sang kapten mengakhiri laga pamungkasnya dengan menjadi pemain yang paling banyak memberikan umpan (69 umpan) dan menyentuh bola (80 kali). Hanya Carrick yang bisa dibilang bermain sangat baik sampai akhirnya ia ditarik keluar lima menit menjelang akhir pertandingan dengan diiringi tepuk tangan dari seluruh pengunjung Teater Impian.

Kenyataannya, para pemain United tampil begitu pas-pasan. Memakai dalih Piala FA sebagai alasan justru terkesan jauh panggang daripada api. Dari susunan 11 pemain yang dimainkan, kemungkinan hanya Ashley Young, Alexis Sanchez dan Eric Bailly saja yang berpeluang besar main di Wembley sejak awal. Sisanya? Bukan tidak mungkin mereka akan dijual musim panas mendatang.

Apa yang ditunjukkan hari ini tidak lebih baik dibandingkan musim lalu. Ketika itu, para pemain yang tanpa pengalaman macam Demetri Mitchell, Angel Gomes, hingga Josh Harrop justru memberikan penampilan yang jauh lebih menghibur ketimbang para pemain seniornya hari Minggu kemarin.

Mereka membuat perpisahan sang kapten terasa sangat hambar. Ibarat semangkuk sup, lezatnya hanya bisa dirasakan pada suapan pertama (gol Rashford) tapi tawar ketika memasuki suapan kedua, ketiga, hingga terakhir.

Selepas pertandingan, Jose Mourinho terkesan kalem menghadapi wawancara. Baginya, yang paling penting adalah musim ini bisa diselesaikan dengan peningkatan yang cukup baik ketimbang musim lalu. Namun, jika melihat jalannya pertandingan kemarin, bukan tidak mungkin dalam hati Jose Mourinho berkata, “Kalau tahu mainnya bakal begini, mending saya mainkan Tahith Chong saja.”

Baca juga: 
Tahith Chong, Kecewakan Feyenoord dengan Pindah ke Manchester United

Comments