OUR NETWORK

Saat Ryan Giggs Menjadi Pelatih Manchester United (1)

Vonis itu akhirnya datang. 10 bulan setelah diangkat menjadi pelatih Manchester United, David Moyes dipecat. Kekalahan menghadapi Everton menjadi akhir dari seorang The Choosen One. Pemecatan ini sebenarnya sudah diprediksi sebelumnya mengingat perjalanan United begitu memburuk bersama Moyes.

Spekulasi kemudian bermunculan terkait siapa pengganti Moyes. Akan tetapi, United tidak mau terburu-buru untuk mencari pengganti mengingat pertandingan musim 2013/2014 hanya tersisa empat laga saja. Sembari mencari kandidat baru, pihak klub akhirnya memilih Ryan Giggs sebagai pelatih sementara.

Baca juga: Jika David Moyes Tidak Dipecat, Toni Kroos Akan Menjadi Pemain United

Sama seperti pemecatan Moyes, pengangkatan Giggs sebagai pelatih sebenarnya sudah diprediksi sejak awal. Hal ini dikarenakan Giggs, pada musim itu, menjabat peran sebagai player-manager. Selain tenaganya, kepintaran serta pengalaman Giggs bersama United dibutuhkan untuk memudahkan Moyes dan stafnya beradaptasi.

“Aku tahu jika United memecat David Moyes, maka Ryan akan mengambil alih selama sisa pertandingan. Dan itu bukan sesuatu yang mengejutkan karena dia secara alamiah sudah ada di sana, punya otoritas di ruang ganti, dan dihormati semua orang di klub,” tutur Gary Neville.

Giggs sendiri sempat kecewa dengan keputusan klub memecat Moyes. Apalagi dengan ditunjuknya dia sebagai pengganti, maka ia mendapat tugas yang teramat berat. “Pekerjaan yang sangat gila dan aku belum punya waktu untuk memikirkan tugasku selanjutnya. Ini akan jadi pengalaman gila. Aku mungkin mendapat hasil yang buruk, aku mungkin bukan orang yang tepat, atau bahkan aku belum siap,” ujarnya.

Sisa pertandingan United saat itu terbilang cukup mudah karena tiga diantaranya dimainkan di Old Trafford yaitu melawan Norwich, Sunderland, dan Hull City. Satu laga tandang dimainkan di St Mary Stadium, markas Southampton.

Tugas Giggs dimulai dengan mencari orang-orang yang bisa mendukung perannya di United. Phil Neville dipertahankan, kemudian ia memanggil Nicky Butt dan Phil Scholes. Seandainya ada dua jabatan lagi yang kosong, bukan tidak mungkin nama David Beckham dan Gary Neville dibawa serta menjadi stafnya.

Giggs mencoba memulai beradaptasi dengan peran barunya. Terlihat ketegangan saat dirinya menjelaskan soal taktik kepada pemain yang sebelumnya adalah rekannya di atas lapangan. Di situ Giggs baru menyadari kalau ternyata United adalah kesebelasan yang dipenuhi banyak sekali pemain bintang.

Baca juga: Kritikan yang Mulai Berdatangan untuk Ryan Giggs

Pertandingan pertama Giggs sebagai pelatih semakin dekat. Seperti biasa, satu atau dua hari sebelum laga, akan ada konferensi pers sebelum pertandingan. Di sinilah Giggs dituntut untuk memberikan jawaban yang tepat dan tidak disalah artikan oleh para wartawan.

“Pertama-tama, saya berterima kasih kepada David Moyes atas ksempatan ini. Kedua, saya sangat bangga bisa mengelola klub yang telah membinaku selama 25 atau bahkan 26 tahun. Saya sudah tidak sabar untuk bertanding melawan Norwich.”

“Yang saya inginkan saat ini adalah para pemain tampil dengan semangat, cepat, berani, dan penuh imajinasi. Saya tidak terpikir untuk menjadi manajer permanen di sini. Untuk saat ini saya hanya ingin menunjukkan apa yang bisa saya lakukan baru setelah itu urusan lain bisa dibahas.”

Giggs boleh percaya diri dengan jawabannya. Tetapi ketika ia berada di dalam mobil, wajahnya kembali menunjukkan kebingungan. Yang ia pikirkan adalah United punya 10 pemain di tujuh posisi. Itu berarti ada yang harus ditinggalkan. Ia takut akan mengecewakan beberapa pemain yang ia singkirkan ke bangku cadangan.

Baca juga: Ryan Giggs yang Kesulitan Jalani Hidup Tanpa Manchester United

Pertandingan itu akhinya tiba. Dengan setelan necis, ia melangkah masuk ke Old Trafford dengan peran baru sebagai pelatih. Ia bertepuk tangan lalu berbali ke arah Stretford End. Ia berjalan dengan latar seorang anak yang mengangkat tulisan “In Giggsy We Trust” sebagai tambahan motivasi sebelum peluit dibunyikan. Meski begitu, rasa gugup masih nampak jelas dari wajahnya.

“Selama 20 tahun, Sir Alex seringkali berkata, tunggu sampai kalian semua jadi manajer dan kau akan temukan betapa sulitnya memilih sebuah tim dan meninggalkan pemain bagus di bench. Lalu aku sering berkata, ya, ya, dan terserah.”

Sayang, United tampil kurang baik pada babak pertama. Skor masih 0-0. Pada babak kedua, barulah United tampil sesuai dengan keinginan Giggs. Empat gol disarangkan untuk memberikan kemenangan telak 4-0 dalam debut pertama Giggs melatih.

Kemenangan yang cukup mudah memang, tetapi masih ada tiga pertandingan yang harus dilalui. Sunderland, yang sedang menghindari zona degradasi akan menjadi lawan berikutnya. Tren si Kucing Hitam sedang bagus saat itu bersama Gustavo Poyet.

Persiapan kembali dilakukan. Kali ini, Giggs, Scholes, Butt, dan Phil berkumpul di satu ruangan bersama Toni Strudwick membahas mengenai laga melawan Norwich sebelumnya. Setelah itu, ia berurusan dengan sesi komersial klub dengan menandatangani baju, foto, dan patch untuk dijadikan hadiah.

Giggs sudah mulai merasa nyaman dengan peran barunya. Tidak ada lagi kegugupan. Akan tetapi, saat konferensi pers, ia mendapat pertanyaan tentag Louis van Gaal yang saat itu menjadi kandidat kuat pelatih United berikutnya. Mendengar pertanyaan itu, dia memilih santai dan menyebut kalau Van Gaal adalah pelatih penuh reputasi.

Laga kedua sayangnya di luar harapan. United kalah di kandang sendiri 0-1 melawan Sunderland. Kekalahan ini adalah yang ketujuh di Old Trafford dan ke-12 sepanjang musim. Giggs menyebut ada kesan timnya meremehkan mereka.

“Anda tidak boleh meremehkan lawan seperti mereka yang berada dalam performa terbaiknya. Meski kami tampil jauh lebih baik namun mereka layak meraih kemenangan. Aku terpukul dan sedikit kecewa dengan beberapa pemain.”

Tulisan ini diambil dari beberapa harian di Inggris dan disesuaikan dengan situasi dalam film Life of Ryan yang rilis pada 2014 lalu. Tulisan ini juga menjadi bagian dari perayaan ulang tahun Giggs ke-45 pada tanggal 29 kemarin.

Comments