OUR NETWORK

Menikmati Proses Seperti Jesse Lingard

Jika ada satu pemain yang benar-benar merepresentasikan Manchester United pada turnamen Piala Dunia kali ini, maka orang itu adalah Jesse Lingard. Ia benar-benar menjadi citra dari Manchester United, klub yang berisi pemain-pemain dengan etos kerja tinggi, kesabaran, dan memiliki hasrat untuk selalu menjadi yang terbaik. Dan Lingard mewakili semua itu.

Semasa kecil, Lingard bisa saja memilih Liverpool ketimbang Manchester United. Jarak kedua kota terserbut sama-sama 32km dari tanah kelahirannya yaitu Warrington. Ia bahkan sempat berlatih beberapa kali bersama The Reds sebelum akhirnya ia merasa tidak nyaman karena tidak pernah diumpan oleh rekannya.

“Saya berada di Liverpool dan seseorang tidak mau membagi bola kepada saya. Saya merasa tidak bisa melakukan ini. Lalu saya berjalan keluar dan mengatakan kepada kakek saya kalau saya lebih nyaman di United daripada di sana (Liverpool),” tuturnya.

Baca juga: Kisah Jesse Lingard yang Ternyata Pernah Menimba Ilmu di Akademi Liverpool

Lingard seolah ditakdirkan untuk menjadi pemain United. Akan tetapi, butuh 14 tahun baginya untuk bisa benar-benar meraih takdirnya sebagai pemain utama Setan Merah. Itupun harus dilalui dengan berkelana di empat kota yaitu Leicester, Birmingham, East Sussex dan Derby. Kota-kota tersebut merupakan tempat penempaan mental seorang Lingard.

Selain menjalani peminjaman, Lingard pun harus menghadapi cibiran dari banyak orang. Tidak sedikit yang menyebut kalau dia tidak pantas bermain sepakbola dikarenakan posturnya yang mini serta kecepatan yang di bawah rata-rata. Setidaknya itu menurut legenda United, Bryan Robson. Namun pesan seorang Sir Alex Ferguson seolah menguatkan Lingard yang terus dikritik.

“Pada waktunya, Lingard akan menjadi pemain yang hebat. Datang dari akademi dan ia memiliki perkembangan seperti seorang Jean Tigana (legenda Prancis). Tigana tidak pernah menjadi sorotan publik hingga usia 24 tahun. Saya kira, Lingard akan punya takdir serupa. Talenta yang ia punya akan membuat United di masa depan akan menggantungkan harapan di pundaknya,” ujar Fergie enam tahun lalu.

Baca juga: Keraguan yang Sempat Hinggap pada Jesse Lingard

Lingard bisa saja meniru jejak sahabatnya, Paul Pogba, yang memilih keluar dari Manchester sebelum akhirnya dibeli mahal beratus kali lipat. Namun ia tidak mau. Ia memilih untuk tetap menjadi pemain pinjaman di klub-klub divisi Championship ketimbang hijrah ke klub yang bukan merupakan kesebelasan favoritnya. Di sinilah contoh kematangan mental seorang Lingard.

Bersama klub-klub peminjamnya, Lingard selalu tampil baik meski tidak pernah dianggap oleh pelatih Manchester United saat itu, David Moyes. Ia mampu mencetak enam gol dari 13 pertandingan bersama Birmingham. Sebuah catatan yang menyilaukan manajer mereka saat itu, Lee Clark untuk mengontraknya secara permanen.

Sayangnya, Clark ditolak oleh Lingard karena di hatinya hanya ada Manchester United. Tidak masalah meski saat itu usianya sudah menginjak 22 tahun, usia yang seharusnya sudah membawa Lingard berada di tim utama United. Barulah saat Louis Van Gaal datang ke Manchester, Lingard menjelma menjadi pemain utama United yang kemudian dilanjutkan Jose Mourinho per 2016/2017.

Lingard bisa menjadi contoh bagi para pemain muda lain kalau proses adalah kata penting bagi pesepakbola yang sekarang ini menginginkan hal yang serba instan. Jika saja para pemain muda mau bersabar dan menjalani proses seperti yang ia rasakan sekarang ini, maka bukan tidak mungkin kesuksesan yang didapat akan jauh lebih berkesan.

Dua tahun setelah Lingard resmi menjadi pemain utama United, ia akhirnya mendapat panggilan pertama untuk tim nasional. Debut melawan Malta pada Oktober 2016 menjadi laga pertamanya bersama tim Tiga Singa. Kurang dari dua tahun setelah debut pertama, ia ikut dalam turnamen besar pertamanya yaitu Piala Dunia 2018 di Russia.

Lingard layak untuk tampil di Piala Dunia. Sepanjang musim lalu ia membuat 13 gol dan 7 asis di semua kompetisi. Tidak hanya itu, ia juga menjadi pilihan utama Jose Mourinho di setiap laga menyingkirkan juara Piala Dunia yaitu Juan Mata dan salah satu remaja termahal di Eropa, Anthony Martial.

Baca juga: Ini Alasan Martial Tak Dipanggil Timnas Prancis

“Jesse Lingard adalah satu dari banyaknya bakat muda di sepakbola. Dia adalah pesepakbola sangat baik. Banyak pemain muda yang tidak mampu melewati tantangan besar seperti yang ia lakukan sepanjang kariernya. Ia adalah pemain yang selalu berkembang menjadi pemain yang lebih baik,” tutur Jose Mourinho.

Puncak dari segala kerja keras yang dilakukan Lingard membuahkan hasil pada pertandingan Inggris melawan Panama, Minggu kemarin. Lingard mencetak satu gol indah yang sering ia latih bersama Manchester United sekaligus membawa kemenangan Inggris 6-1 atas Panama.

Ia mengungkapkan, “Perasaan yang hebat bisa mencetak gol di ajang sekelas Piala Dunia. Skuad kami sekarang ini memberikan banyak kepercayaan diri untuk berkata kalau kami bisa (menjadi juara dunia).”

Mental yang kuat, proses panjang yang ia jalani, serta pribadinya yang periang adalah tiga hal yang begitu disukai oleh Jose Mourinho. Itulah yang membuat ia menjadi pemain pilihan utama meski ia tidak memiliki atribut yang berarti. Kisah Lingard ini juga menunjukkan kalau tidak ada yang tidak mungkin di sepakbola. Seandainya kita mau berusaha, bekerja keras, dan menikmati segala proses maka kita bisa cepat untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Comments

Loading...