OUR NETWORK

Kisah Giuliano Maiorana dan Sifat Egois yang Menghancurkan Kariernya

Bayangkan Anda adalah seorang pesepakbola di sebuah klub amatir. Klub tempat Anda bermain hanya berada di divisi 10 dalam tatanan sepakbola di negara tersebut. Lalu bayangkan jika setelah Anda bermain, tiba-tiba Anda didatangi oleh orang yang mengaku sebagai pencari bakat. Dan apa yang Anda rasakan ketika pencari bakat tersebut mengatakan, “Hai, saya berasal dari Manchester United?”

Kaget, bengong, atau mungkin Anda tidak tahu harus berbuat apa. Itulah yang dirasakan oleh seseorang bernama Giuliano Maiorana. Dia adalah salah satu rekrutan mengejutkan yang pernah dilakukan oleh Sir Alex Ferguson.

Hampir tiga dekade lalu, Giuliano Maiorana masih bermain untuk sebuah klub divisi 10 bernama Histon. Sembari bermain di Sunday League (kompetisi amatir Inggris), ia adalah seorang pegawai di sebuah toko roti. Jules, sapaan akrabnya, tentu saja tidak pernah terpikir akan melompati delapan divisi. Jangankan bermain di First Division, bisa bermain di Divisi keempat saja mungkin menjadi sebuah kebanggaan baginya.

Akan tetapi, kita berbicara soal Manchester United. Sebuah klub yang saat itu sedang mencoba bangkit kembali bersama Alex Ferguson. Meski di era tersebut prestasi mereka berada di bawah Liverpool, namun United tetaplah klub bersejarah. Dan pada November 1988, sejarah bagi Jules muncul selepas memperkuat Histon.

“Ketika saya mendengar United menonton saya pada Rabu malam, saya pikir itu adalah lelucon. Kemudian, pada hari Sabtu, saya diberitahu tentang trial. Saya pikir mereka akan menunggu saya selama tiga sampai empat minggu, tapi ternyata saya diberitahu kalau mereka membutuhkan saya di hari Senin,” tuturnya dilansir Manchester Evening News.

The Cliff menyambut kedatangan Jules. Saat itu dia merasa begitu tegang untuk melangkah ke tempat legendaris tersebut karena datang terlambat. Beruntung bagi Jules, sesampainya disana, para pemain United ternyata belum melakukan sesi latihan demi menunggu kedatangan Jules. Sesuatu yang membuatnya tersanjung.

Tidak ada kecanggungan dari Jules saat menjalani trial. Bermain di sisi penyerangan sebelah kiri, ia menunjukkan kelincahan dan kecepatannya dalam membangun serangan. Siapa yang menyangka kalau penampilan perdana Jules di Manchester mampu merebut hati Ferguson.

“Dia adalah representasi dari betapa hebatnya sesi trial,” tutur Ferguson. Perasaan senang pria Skotlandia tersebut kemudian membuahkan sesuatu yang mungkin tidak disangka-sangka oleh Giuliano Maiorana . Sebuah kontrak berdurasi empat tahun dilayangkan kepada Jules.

“Bahkan hingga 1 juta tahun kemudian, saya tidak akan yakin mendapat kontrak profesional. Saya hanya berpikir kalau saya mungkin bertahan dalam sesi latihan ini hanya seminggu saja,” tuturnya.

Debut Giuliano Maiorana Melawan Millwall Hingga Konflik dengan Ferguson

Tidak butuh waktu lama bagi Jules untuk merasakan nikmatnya kompetisi tertinggi. Ia berhasil mendapatkan debut profesionalnya pada Januari 1989 ketika United berhadapan dengan Millwall. Jules bahkan dimainkan sejak awal ketika United melawan Arsenal beberapa minggu setelahnya.

“Saat saya terengah-engah, telinga saya mendengar para penggemar berteriak ‘United, United, United!’ tuturnya mengenang laga debut tersebut. Sepanjang musim 1988/1989, Jules bermain sebanyak enam pertandingan. Jumlah laga yang sangat banyak untuk pemain yang dua bulan sebelumnya bermain di lapangan becek divisi 10.

Akan tetapi, dalam enam laga tersebut Fergie melihat gelagat yang kurang bagus dari Jules. Si pemain memang dibekali kemampuan individu yang bagus. Akan tetapi, saat bola di kakinya, ia akan mencoba melewati satu hingga dua pemain lawan dan baru melepas bola saat keadaan terdesak. Hal ini tidak disukai oleh Ferguson yang menekankan kolektivitas tim sebagai inti permainan.

“Saya dipanggil Ferguson ke kantor dan berkata kalau saya harus berhenti melakukan trik-trik itu. Tetapi saya menolaknya karena begitulah saya bermain sepakbola. Saya ingin disukai oleh penggemar saya. Bagi saya, membawa bola hanya sejauh lima meter adalah sesuatu yang percuma. Saya ingin mencoba melakukan hal-hal yang akan orang lain ingat.”

“Saya beruntung diberkati kemampuan seperti itu. Paul Ince bahkan terkagum-kagum dengan kemampuan saya. Ketika Anda berlari bersama bola dan melihat tiga pemain mengejar Anda maka saya hanya bisa meneruskannya karena kami harus nyaman dengan bola.”

Segala keegoisan tersebut yang membuat hubungannya dengan Ferguson memburuk pada musim selanjutnya. Ia terus-terusan dicadangkan dan hanya bermain dua kali pada musim berikutnya. Jules ngotot minta dimainkan mengingat para penggemar saat itu menyukai permainannya.

“Ferguson seolah meremehkan saya. Saya sempat berkata kepada Darren (anak Ferguson) mengapa ayahnya tidak memainkan saya. Tapi dia hanya geleng-geleng kepala. Padahal, ketika saya menjadi cadangan di laga melawan Leicester, manajer mereka berkata kalau saya anak laki-laki brilian. Ini soal harga diri karena penggemar berteriak mengapa saya tidak bermain?”

Namun Ferguson tidak mengubris protes dari Jules. Ia juga masa bodoh terhadap keinginan para penggemar yang terus meminta Jules agar dimainkan. Baginya, susunan pemain United ditentukan olehnya dan bukan atas dasar keinginan para penggemar.

Cedera yang Menghancurkan Karier

Ferguson sebenarnya yakin kalau Jules cocok untuk bermain di bawah arahannya. Buktinya adalah ia menolak keinginan Jules untuk pindah dari United. Ferguson hanya meminta Jules untuk mengurangi keegoisannya ketika membawa bola. Namun, Jules tidak mau mengubah gaya mainnya tersebut.

“Saya dibiarkan membusuk di cadangan. Tetapi ketika saya ingin pergi, dia tetap ngotot mempertahankan saya. Tetapi saya tidak diizinkan untuk membangun kisah saya. Saya bukan siapa-siapa.”

Ferguson juga yang nampaknya memenangi konflik tersebut. Saat ia bermain bersama tim cadangan United menghadapi Aston Villa, keinginannya menghibur penonton berkat aksi-aksi individunya membuahkan petaka. Ia mengalami benturan dengan Dwight Yorke saat melakukan tendangan salto.

“Kejadiannya sepersekian detik. Seharusnya saya yang memenangi duel perebutan bola tersebut. Tapi begitulah cara saya bermain sepakbola.”

Jules menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menjalani penyembuhan agar ligamennya yang pecah bisa kembali lagi. Tetapi setelah sembuh, ia tidak bisa kembali menjadi Giuliano Maiorana yang senang bermain bola. Pada 1993, kariernya di Manchester benar-benar berakhir.

Merajut kembali karier sepakbolanya, Jules sebenarnya sempat bermain untuk klub Swedia, Ljungskile pada 1995. Namun kariernya tidak bertahan lama dan ia kemudian memutuskan pensiun.

Kepada FourFourTwo, Jules menceritakan betapa kesalnya ia harus mengakhiri karier di usia yang saat itu baru menginjak 26 tahun. Ia pun sempat menyalahkan United sebagai penyebab kariernya berakhir. Ia merasa kalau Ferguson mau memberikannya kesempatan, ia tidak akan mengalami kejadian menyakitkan tersebut. Beruntung, ia memiliki keluarga yang begitu perhatian kepadanya sehingga mampu menjalani hari-harinya tanpa penyesalan.

“Selama tujuh hingga delapan tahun, saya tidak ingin berbicara sepakbola. Bahkan saya tidak ingin ada orang yang menyebut kata United di depan saya. Mereka membuat saya terlihat seperti sampah. Untungnya saya punya keluarga yang selalu mengatakan kalau saya memang tidak berhasil di Manchester United, tapi setidaknya ada sisi positif yang bisa diambil.”

Giuliano Maiorana akhirnya bisa berdamai dengan kenyataan. Bertahun-tahun setelahnya ia kerap diminta oleh United untuk menjadi pembicara terhadap pemain muda tentang pentingnya bersikap rendah hati dan menghormati segala keputusan manajer.

Di sisi lain, kehilangan Giuliano Maiorana seolah menjadi berkah bagi United, khususnya Ferguson. Ia memiliki satu pemain lincah yang mungkin beberapa kali lipat lebih baik ketimbang Jules. Pemain itu berasal dari Wales bernama Ryan Wilson yang beberapa tahun kemudian namanya berubah menjadi Ryan Giggs.

Baca juga: Pandangan Ferguson terhadap Penggawa Class of ’92: Ryan Giggs

Sumber: Manchester Evening News, FourFourTwo

Comments