OUR NETWORK

Solskjaer dan Kegagalan Manchester United Merekrut Alan Shearer

Andai tak pernah menjadi pemain United, Solskjaer mungkin tak akan pernah menjabat sebagai manajer The Red Devils.

Ole Gunnar Solskjaer direkrut Manchester United dari Molde pada awal musim 1996/1997. Segala pencapaian telah ia dapatkan, termasuk dengan menjadi manajer United. Andai tak pernah menjadi pemain United, Solskjaer mungkin tak akan pernah menjabat sebagai manajer The Red Devils.

Pengandaian ini sebenarnya hampir terjadi, asalkan pengandaian kedua terjadi: United berhasil merekrut Alan Shearer di musim panas 1996.

Kala itu, Alex Ferguson memutuskan untuk menambah kualitas di lini serang. Sebelumnya, Fergie cuma punya Eric Cantona dan Andy Cole di lini serang. Target Fergie saat itu adalah Alan Shearer yang memang diincar sejak lama saat ia masih di Southampton.

Shearer adalah pilihan yang tepat di lini serang United. Ia adalah top skorer Premier League dua kali beruntun sejak musim 1994/1995. Di musim itu juga, ia meraih trofi bersama Blackburn Rovers. Saat tampil bersama timnas Inggris di Piala Eropa 1996, ia tampil memukau dengan menjadi top skorer lewat lima golnya. Shearer juga berhasil membawa The Three Lions hingga semifinal.

Namun hal ini juga menjadi ganjalan buat United. Soalnya, Shearer sudah meraih gelar juara bersama Blackburn. Tak ada pula yang meragukan ketajamannya. Artinya, Shearer punya daya tawar yang lebih tinggi, termasuk untuk memilih apakah akan pindah ke United atau Real Madrid.

Namun, transfernya tidak semudah itu. Bukan karena uang yang ditawarkan kurang, tapi karena Blackburn menolak menjual Shearer ke Manchester atau Madrid. Hal ini dipastikan oleh Chairman United, Martin Edwards, dan Presiden Madrid, Lorenzo Sanz.

“Shearer sudah ke rumah Alex Ferguson, bicara padanya dan meyakinkannya kalau ia ingin datang. Masalahnya, aku pikir, adalah chairman Blackburn, Jack Walker, tak ingin ia bergabung dengan United. Shearer cukup dekat dengan Walker, yang sudah seperti figur ayah buatnya, dan aku tak merasa Alan ingin bikin dia marah dengan pindah ke United,” kenang Edwards bertahun-tahun kemudian.

Hal ini juga dipastikan oleh Shearer. Ia bahkan menyebut kalau dirinya sudah hampir pasti bergabung dengan United.

“Lalu aku mendapatkan telepon dari Kevin Keegan dan lantas berpikir: ‘Kamu tahu, aku akan kembali ke Newcastle’. Itu adalah klub yang selalu aku dukung dan ingin sekali aku main di sana,” kata Shearer.

Di tengah kebimbangan itu, Fergie mendapatkan laporan dari Jim Ryan. Sang pemandu bakat tengah menonton pertandingan Norwegia untuk menyaksikan penampilan Ronny Johnsen.

United kemudian merekrut Johnsen pada 10 Juli 1996 dari Besiktas. Namun, laporan Ryan belum selesai. Ia menyodorkan satu nama yang kurang terkenal berusia 23 tahun. Namanya adalah Ole Gunnar Solskjaer.

Dana sebesar 1,5 juta paun disepakati untuk transfer tersebut. Meski terbilang kecil, tapi perekrutan Solskjaer dianggap sebagai perjudian. Soalnya, selain masih muda, Solskjaer juga belum pernah main di luar liga Norwegia.

Kepastian transfer Solskjaer terjadi pada 29 Juli 1996. Sehari kemudian, rekor dunia pecah ketika Newcastle mengeluarkan 15 juta paun buat menebus Shearer.

Kegagalan United merekrut Shearer tampaknya tak pernah disesali, mengingat apa yang telah dilakukan Solskjaer. Ia telah melampaui segala ekspektasi, bahkan menjadi kunci, saat United meraih treble winners pada 1999.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah Ole akan tetap bergabung dengan United apabila transfer Shearer terwujud?

Jawaban Solskjaer mengejutkan: Iya akan tetap bergabung dengan United.

“Aku bukan orang yang khawatir dengan orang lain dan apa yang mereka lakukan. Tentu saja, Alan Shearer adalah salah satu striker terbaik yang main di Inggris, tapi aku akan mengambil tantangannya,” kata Solskjaer.

“Kalau dia direkrut, aku akan dengan mudah bergabung dan merasa percaya diri kalau aku bisa membuat dampak karena aku sangat percaya diri pada kemampuanku sendiri sebagai pencetak gol.”

Seperti yang Ole bilang bahwa segala hal, kecil atau besar, akan punya konsekuensi di masa depan. Jadi, kalau ia bisa kembali ke masa lalu, ia tak akan mengubah apapun. Karena pada akhirnya, segala keputusan tepat, tak akan menghadirkan sesal. Termasuk dengan kegagalan United merekrut Alan Shearer.

Sumber: Manutd.com

Comments

Loading...