OUR NETWORK

14 Maret 1998: Pupusnya Harapan Manchester United di Tangan Arsenal

Dalam buku autobiografinya, Sir Alex Ferguson pernah mengungkapkan kalau Arsenal adalah tim yang jauh lebih berbahaya ketika bermain di stadion Old Trafford ketimbang di kandang sendiri. Hal ini dikarenakan permainan mereka yang jauh lebih konservatif di laga tandang ketimbang menyerang habis-habisan seperti yang sering mereka lakukan.

Sepakbola konservatif tersebut yang kemudian memupus harapan Manchester United untuk mempertahankan gelar Premier League pada musim 1997/1998. Ambisi Setan Merah untuk mempertahankan gelar ketiga mereka secara beruntun musnah oleh Meriam London yang bertransformasi menjadi kesebelasan yang berbahaya bersama Arsene Wenger.

Hingga Februari 1998, United sebenarnya sudah jauh meninggalkan para pesaingnya di urutan pertama. Hingga pertandingan ke-28, mereka sudah mengumpulkan 59 poin. Unggul 11 poin dari Blackburn Rovers di urutan kedua dan Arsenal di urutan ketiga. Akan tetapi, Arsenal memiliki sisa tabungan tiga laga akibat berlaga di Piala FA dan laga tunda menghadapi Wimbledon.

Meski begitu, tidak ada yang menganggap kalau Meriam London bisa mengangkat piala di akhir musim. Alasan utamanya adalah performa mereka yang naik turun di paruh pertama. Dalam rentang 1 November hingga 13 Desember, Arsenal menderita empat kekalahan dari enam pertandingan. Sebaliknya, United baru menelan dua kekalahan hingga paruh pertama musim berakhir.

Ketika memasuki paruh kedua musim, perjalanan terjal justru diterima kubu Sir Alex Ferguson. Sejak akhir Desember hingga awal Februari, United hanya satu kali menang dari empat pertandingan. Beruntung, mereka menutup tiga laga setelahnya dengan kemenangan.

Memasuki Maret, United kembali goyah. Kekalahan dari Sheffield Wednesday dan hasil imbang melawan West Ham membuat Arsenal mampu memperkecil jarak menjadi 10 poin. United lupa, kalau tabungan laga Arsenal masih cukup banyak dibanding mereka. Namun, ada satu cara sebenarnya untuk memperlebar kembali jarak menjadi 13 angka. Caranya adalah mengalahkan mereka pada 14 Maret.

Namun Arsenal ternyata memberikan perlawanan yang sengit. Dengan Marc Overmars dan Dennis Bergkamp di lini depan, dua Belanda ini mengacak-ngacak lini pertahanan United melalui kecepatan dan skill individu yang mereka miliki. Overmars bahkan nyaris membuka keunggulan apabila sepakannya tidak melebar tipis pada babak pertama.

United menanggapi peluang Overmars tersebut dengan menciptakan beberapa peluang berbahaya. Akan tetapi, penjaga gawang Alex Manninger tampil cukup gemilang. Ia dua kali mementahkan bola sepakan Teddy Sheringham dan Andy Cole yang sudah berhadapan dengannya satu lawan satu.

Jual beli serangan terus terjadi pada babak kedua. Sepakan bebas Beckham melambung tinggi. Sepakan Ray Parlour, yang sudah satu lawan satu melawan Schmeichel, justru melambung. United yang butuh tiga poin terus menekan pertahanan Arsenal yang nampak mulai mengincar hasil seri. Namun memasuki 10 menit terakhir, di tengah kelelahan yang mendera kedua kesebelasan, tim tamu justru menbuka keunggulan melalui skema konservatif yang ditakutkan Fergie.

Bola panjang kiriman Martin Keown sukses disundul Dennis Bergkamp. Sebelum menyentuh tanah, Nicolas Anelka menyundul bola ke arah lari Marc Overmars. Kecepatan Overmars tidak bisa dikejar oleh pemain belakang United hingga akhirnya ia membobol gawang Schmeichel yang membuat jarak poin mengecil menjadi enam angka sekaligus memberikan kekalahan ketujuh untuk United.

Kemenangan tersebut disambut meriah para pendukung Meriam London yang hadir. Salah satunya adalah Barry Ferst (menit 2:41). Pria berambut keriting ini merayakan kemenangan timnya di Teater Impian dengan mengepalkan kedua tangannya sambil melotot hingga bola matanya nyaris keluar dari tempatnya berada.

“Kami kembali ke perburuan gelar juara dengan beberapa keuntungan banyak laga di tangan. Kami sekarang menjadi kesebelasan yang sulit untuk dikalahkan. Meski begitu, United tetap dalam posisi terbaik,” tutur Wenger.

Di sisi lain, Ferguson menyebut kalau Arsenal pantas menang. Faktor cedera memaksanya menurunkan skuad seadanya. Alasan ini yang membuat timnya mudah sekali kehilangan poin di saat-saat akhir perburuan gelar. Ia bersyukur masih bisa memainkan sepakbola atraktif dengan tim yang seadanya.

“Mereka pantas menang. Kekuatan kami sangat minim dan dengan beberapa pemain yang mengalami cedera. Lini tengah kami tidak dalam bentuk terbaik. Satu-satunya hal positif adalah kami bermain sepakbola dengan tampilan kalau kami memenangi pertandingan. Ini hasil yang sangat buruk bagi kami,” kata Fergie.

Skuad United memang sangat pas-pasan pada pertandingan itu. Ferguson memainkan enam pemain bertahan dan hanya menyisakan David Beckham dan Paul Scholes sebagai pemain tengah. Formasi 6-2-2 ia pakai dengan Neville bersaudara akan bertindak sebagai wingback sekaligus pemain sayap.

Cedera menjadi alasan mengapa United tidak bisa mempertahankan gelarnya. Sepanjang musim tersebut, beberapa pemain utamanya mengalami cedera. Sebut saja Ryan Giggs, Roy Keana, Gary Pallister, Nicky Butt, Peter Schmeichel, Ronny Johnsen, dan Phil Neville, bergantian masuk ruang perawatan. Yang terparah tentu saja Roy Keane. Ligamen lututnya rusak akibat terjatuh pada pertandingan menghadapi Leeds United beberapa bulan sebelumnya.

“Jika mereka memenangi laga sisa maka mereka akan mengungguli kami. Kami berharap mereka kehilangan beberapa poin di sisa laga nanti. Mereka hari ini main bagus dan pantas menang, tapi saya tetap memandang mereka bukan tim yang bagus dalam bermain sepakbola meski mereka kelihatan kuat.

Selepas pertandingan tersebut, laju Arsenal tidak terhenti. Delapan kemenangan beruntun ia raih sehingga memastikan mereka merengkuh titel Premier League pertama mereka pada pekan ke-36. Gunners kemudian menutup musim 1998 dengan titel Piala FA sekaligus menyamai pencapaian United pada 1994 dan 1996. Arsenal menunjukkan kepada United kalau mereka layak menyandang status terbaik saat itu.

Comments