in

Season Review: Juan Mata

Kedatangan Jose Mourinho di Manchester United banyak disambut baik oleh berbagai pihak, namun tampaknya Juan Mata belum tentu merasakan hal serupa. Mata memiliki memori buruk dengan pelatih asal Portugal itu. Mourinho menjadi alasan mengapa Mata hijrah dari Chelsea. Ia jarang dimainkan karena tidak cocok dengan pemikiran Mourinho yang menginginkan kontribusi pertahanan dari penyerang Chelsea. Padahal Mata sebelumnya dua musim berturut-turut menjadi pemain terbaik Chelsea.

Kondisi ini tentu memunculkan berbagai spekulasi terkait masa depan Mata. Ditambah dengan kedatangan Henrikh Mkhitaryan yang dipercaya akan menggeser posisi Mata. Eks pemain Valencia itu menjalankan pramusim dengan baik bersama United dan tidak ada tanda kuat ia akan pindah.

Rumor tersebut kian merebak setelah pertandingan Community Shield menghadapi Leicester City. Mourinho memasukan Mata pada menit ke-63 namun Mata diganti pada menit injury time. Alasannya, Mourinho merasa bahwa pada menit akhir pertandingan, Leicester akan melancarkan umpan-umpan jauh yang membuatnya harus mengganti pemain yang paling pendek. Mata sendiri dikabarkan tidak senang dengan keputusan itu.

Namun Mata bermain sejak menit pertama pada pertandingan perdana Mourinho di Premier League untuk United. Pemain asal Spanyol itu bahkan mencetak gol pembuka pada pertandingan melawan Bournemouth itu. United memetik tiga poin usai menang dengan skor 3-0.

Mata bermain dalam tiga pertandingan pertama United di Premier League. Ia akhirnya bertahan di United dan menyatakan bahwa dirinya senang dapat membela United. Setelah jeda internasional, Mata absen kala United menjalani laga Derby Manchester. Mata kemudian tampil apik kala United menghajar Leicester dengan skor 4-1. Ia mencetak satu gol dan satu asis pada pertandingan itu.

Meski semula masa depannya diragukan, namun nyatanya Mata mampu menjadi pilihan utama Mourinho. Hingga 2016 berakhir, ia hanya absen dalam lima laga United di kompetisi liga. Ia bahkan selalu dimainkan di setiap laga penyisihan grup Europa League.

Paruh musim ia tutup dengan catatan lima gol dan tiga asis di semua kompetisi. Pada periode itu, Mata juga mencatatkan rating tertinggi selama musim ini. Kala menghadapi Arsenal, ia sukses mencetak satu gol dan Whoscored memberinya rating 8,68 untuk berbagai kontribusi yang ia buat.

Mata memulai 2017 dengan baik. Dari tiga pertandingan pertama, ia membuat dua gol dan satu asis, termasuk gol di pertandingan semifinal EFL Cup melawan Hull City. Namun rotasi pemain yang dilakukan Mourinho membuatnya absen pada leg kedua.

Ia terus dipercaya sebagai pemain utama United. Ia bermain di seluruh delapan laga yang dijalani United pada kompetisi liga sejak pergantian tahun. Mata juga tampil pada laga final EFL Cup menghadapi Southampton. Namun ia diganti oleh Michael Carrick pada menit ke-46 guna memperkuat sektor pertahanan.

Petaka hadir bagi Mata pada laga kontra Middlesbrough di bulan Maret. Ia mengalami cedera kunci paha yang membuatnya harus dioperasi. Bahkan awalnya Mourinho merasa musim 2016/2017 telah berakhir bagi Mata. Ia absen selama sebulan dan aben pada delapan laga United. Padahal, Mata adalah pemain dengan jumlah gol terbanyak kedua saat itu, dibawah Zlatan Ibrahimovic.

Mata mulai pulih pada awal Mei. Ia kembali bermain kala United bertandang ke Emirates Stadium, markas Arsenal. Hingga akhir musim, ia tampil pada empat dari enam pertandingan yang dimainkan United di semua ajang. Namun ia tidak mampu mencetak gol atau asis pada periode itu.

Tampil sebanyak 42 kali di semua kompetisi, Mata mampu mencetak 10 gol dan enam asis. Kreativitasnya membuat serangan United lebih berbahaya. Ia mencatatkan 1,8 umpan kunci per pertandingan di Premier League, hanya kalah dari Paul Pogba (1,9). Musim depan, Mata harus terus meningkatkan performanya karena United diyakini akan terus menambah amunisi guna mencapai target yang lebih tinggi musim depan.

Facebook Comments
Loading...