OUR NETWORK

Apa yang Terjadi Setelah United Kalah 1-6 Dari City?

23 Oktober 2011 menjadi tanggal yang paling tidak bisa dilupakan oleh para pendukung Manchester United di seluruh dunia. Pada hari itu, Setan Merah tumbang dengan skor yang sangat telak yaitu 1-6 dari rival sekotanya, Manchester City.

Kekalahan telak bukan hal yang lazim bagi pemilik 20 gelar juara Liga Inggris ini. Mereka pernah kalah dari Chelsea dan Newcastle dengan skor 5-0 pada masa lampau. Bahkan kekalahan 7-0 pun pernah dirasakan saat era televisi masih hitam putih. Namun kekalahan 1-6 di kandang sendiri dan diperoleh dari rival sekotanya, tentu menjadi sesuatu yang tidak bisa dimaafkan.

Keenam gol City saat itu dicetak oleh Mario Balotelli (dua gol), Sergio Aguero, Edin Dzeko (dua gol), dan David Silva. Sementara satu gol United dicetak oleh Darren Fletcher. Kekalahan paling mengerikan yang pernah terjadi di Old Trafford. Kekalahan yang membuat para pundit mulai melihat City sebagai ancaman. Kekalahan yang membuat penggemar United merasa kalau Fergie mulai habis. Kekalahan yang membuat Ferguson menyebut tanggal itu sebagai hari terburuknya melatih Manchester United.

“Setelah peluit akhir, saya memberi tahu pemain kalau mereka semua telah mempermalukan diri mereka sendiri,” kata Ferguson.

Rene Meulensteen, salah satu tangan kanan Fergie, menyebut kalau Ferguson sangat marah setelah hasil memalukan tersebut. Bukan karena kalahnya melainkan karena skornya yang menunjukkan betapa buruknya United saat itu.

Satu hal yang paling sulit dilakukan saat menerima kekalahan seperti itu adalah melupakan dan berusaha untuk bangkit. Inilah yang dirasakan para pemain United saat itu. Darren Fletcher menyebut kalau beberapa rekan setimnya berada dalam situasi terpuruk karena menerima hujatan setelah kekalahan tersebut. Tantangan pula bagi para staf pelatih mengingat mereka masih harus bertanding pada banyak pertandingan dan mengembalikan mental para pemain yang sudah pasti trauma kalau-kalau kekalahan seperti itu akan terjadi lagi dalam waktu dekat.

“Yang kami lakukan untuk memulihkan mental mereka adalah membuat suasana di lingkungan mereka kondusif. Anda perlu kekuatan mereka dan harus bisa membawa mereka kembali ke atas lapangan. Mereka diminta untuk bangkit, bersemangat, tapi juga penuh perhatian dan fokus,” kata Rene menambahkan.

Cara jitu dilakukan Ferguson. Sebisa mungkin, ia tidak menyinggung hasil pertandingan melawan City. Tidak ada basa-basi ketika United sudah mendekati pertandingan selanjutnya. Segala kalimatnya hanya terpusat pada pertandingan yang akan mereka hadapi. Bukan di masa lalu. Selain itu, dukungan para pemimpin seperti Giggs, Carrick, dan Rooney membantu para pemain yang banyak dari mereka masih cukup muda.

“Manajer langsung menangani dampak emosional dari kekalahan itu setelah pertandingan. Kami langsung berdiskusi dengan kelompok pemain tertentu. Saya akan memilih empat bek dan penjaga gawang untuk memberi tahu apa yang bisa mereka perbaiki. Dalam sesi ini, kami harus memastikan kalau para pemain mengerti tanggung jawab mereka,” kata Rene menambahkan.

Sesi latihan berubah menjadi lebih intens dari sebelumnya. Rene dan Mick Phelan akan meminta izin kepada Ferguson untuk bisa berbicara empat mata dengan para pemain. Hal ini terus dilakukan setiap hari. Begitu pula dengan para pemain yang berposisi sebagai penjaga gawang.

Jarak laga melawan City dengan laga United berikutnya saat itu tergolong singkat yaitu dua hari. Beruntung, pertandingan saat itu hanyalah babak keempat Piala Liga melawan tim League Two, Aldershot Town. United saat itu menang dengan skor 3-0 melalui gol Berbatov, Owen, dan Valencia. Raut muka pemain United setelah mencetak gol saat itu jauh dari rasa bahagia. Masih ada trauma di sana. Meski begitu, permainan United membaik.

Selanjutnya, United meraih kemenangan dalam empat dari lima pertandingan Premier League. Yang membedakan adalah, United lebih menekankan keseimbangan ketimbang berfokus untuk menyerang dan mencetak gol. Ferguson mencoba untuk pragmatis pada saat itu.

“Orang-orang United berpikir kalau kami harus bermain menyerang dengan hebat. Namun gaffer beberapa kali menyebut kalau clean sheet juga sangat penting. Setiap kali musim memasuki Januari dan Februari, Ferguson akan datang sambil berkata kalau jumlah clean sheet kita sekian, maka kami akan juara Premier League,” kata Eric Steele, mantan pelatih kiper United era Ferguson. Sang manajer benar-benar menggunakan prinsip defense wins you title dengan baik. Dia juga menambahkan kalau Ferguson lebih suka menang 1-0 ketimbang 4-2.

Lima pekan adalah waktu yang dibutuhkan United untuk pulih sebelum mereka bisa kembali bermain luwes seperti keinginan penggemar United pada umumnya yaitu mencetak banyak gol dan bermain menghibur. Yang patut disayangkan, kebangkitan United saat itu tidak diiringi dengan hadirnya gelar pada akhir musim.

Comments

Loading...