OUR NETWORK

Tragedi Munich (Bagian 4): Kenny Morgans, Penyintas yang Tak Pernah Menemukan Kembali Kedamaian

Cerita tentang penyintas Tragedi Munich, Kenny Morgans, tentang bagaimana ia menderita meskipun selamat dari tragedi tersebut. Morgans bahkan tak pernah merasa tenang dalam hidupnya.

“Saat kali ketiga kami mencoba lepas landas, aku duduk di pinggir jendela, kami bergerak dengan sangat kencang. Aku ingat saat pesawat menabrak pagar di ujung landasan dan itulah akhirnya. Aku tak ingat lagi apapun…”

***

Hanya sembilan dari 17 pemain Manchester United yang selamat dari Tragedi Munich. Dua di antara yang selamat, Johnny Berry dan Jackie Blanchflower, tak lagi bisa bermain sepakbola karena cedera akibat tragedi tersebut. Sementara itu, Bobby Charlton dan Bill Foukes, pada akhirnya mengangkat piala European Cup satu dekade kemudian.

Para pemain yang selamat lain seperti Harry Gregg dan Albert Scanlon, sudah tak lagi bermain saat MU menjuarai European Cup pada 1968. Sementara itu, Dennis Violet, Ray Wood, dan Kenny Morgans, menyaksikan United juara dengan status sebagai pemain kesebelasan lain.

Buat para korban maupun yang selamat, United menyimpan kenangan begitu mendalam dalam hati mereka. Tiga pemain yang disebutkan di atas, misalnya, tak pernah bergabung dengan kesebelasan yang lebih besar dari United. Mereka mengakhiri kariernya dengan tenang tanpa kebisingan dan riuhnya penonton.

Salah satu dari mereka adalah pemain sayap kelahiran Swansea, Kenneth “Kenny” Geodfrey Morgans.  Pemain kelahiran 16 Maret 1939 ini telah bergabung dengan United sejak usia 17 tahun. Ia pun memulai karier juniornya di United.

Saat itu, Kenny bukanlah pilihan utama Matt Busby. Posisinya sebagai kanan luar, telah ditempati oleh pemain yang lebih senior, John James Berry, yang pernah memperkuat kesebelasan negara Inggris.

Tragedi Munich bisa dibilang menjadi pemupus segala sukacita yang dirasakan oleh Kenny. Pasalnya, kecelakan nahas tersebut terjadi sehari setelah ia mulai diturunkan secara reguler oleh Matt Busby.

Kenny diturunkan saat United menang 2-1 atas Red Star Belgrade pada leg pertama European Cup pada 14 Januari 1958. Kenny kembali diturunkan saat United menang 5-4 dalam pertarungan sengit dengan Arsenal di Highbury.

Kenny pun terbang ke Belgrade dengan percaya diri. Ini tak lain karena Busby kembali menaruh kepercayaan kepada dirinya untuk menghuni pos kanan luar. Hasilnya pun bisa dibilang memuaskan. United berhasil menahan imbang Belgrade 3-3. Hasil tersebut sudah cukup mengantarkan United ke semifinal.

Hampir Mati

“Anda mengingkanku untuk bicara soal kecelakaan itu?” tanya Kenny kepada jurnalis Independent, Steve Tongue pada 3 Februari 2008. “Cuacanya saat itu sangat buruk. Waktu itu bersalju, berangin, sementara es membeku di lantai.”

Kenny menjabarkan bahwa saking dinginnya kondisi saat itu, es membeku di sayap pesawat. Kru pesawat pun membersihkannya sampai tiga kali.

“[Sebelum] Percobaan lepas landas yang ketiga kalinya, banyak pemain menukar kursi dan pindah ke belakang. Saat itu kami diberi tahu kalau dengan toilet di bagian belakang, sisi itu menjadi lebih kuat ketimbang di tengah,” kata Kenny menjelaskan.

Kenny kala itu memilih untuk duduk di pinggir jendela. Ia pun melihat pesawat bergerak sangat kencang. Ia masih sadar saat pesawat menabrak pagar di ujung landasan. Namun, setelahnya, ia tak lagi sadar, “Aku hilang kesadaran.”

Apa yang terjadi pada Kenny sebenarnya mengerikan. Ia terdorong ke bagian belakang pesawat dan berakhir dengan terjerembab di bawah roda.

Sebelum tim evakuasi datang, kiper United, Harry Gregg, dengan berani menolong para penumpang yang masih terjebak dalam reruntuhan. Ia mengabaikan instruksi Kapten Thain, sang pilot, yang memintanya untuk segera pergi karena pesawat akan meledak.

Aksi Gregg membuahkan hasil dengan membantu setidaknya tiga korban. Namun, Kenny masih belum juga ditemukan, sementara pesawat telah terbakar.

Saat itu, semua korban telah ditemukan, kecuali Kenny. Tim evakuasi pun memutuskan untuk menghentikan pencarian seiring dengan cahaya matahari yang telah menghilang. Lalu, keajaiban terjadi.

“Sekitar setengah delapan (lima jam setelah tragedi), dua wartawan Jerman kembali ke pesawat yang terbakar. Mereka menemukanku. Mereka membawaku ke rumah sakit, dan aku tidak bangun sampai Minggu pagi, atau tiga hari kemudian,” ucap Kenny.

Tersiksa Fisik dan Emosi

Kenny Morgans saat dirawat di rumah sakit. Foto: Manchestereveningnews.co.uk
Kenny Morgans saat dirawat di rumah sakit. Foto: Manchestereveningnews.co.uk

Fisik Kenny jelas tersiksa. Ia tidak bangun sampai tiga hari kemudian. Tapi, emosinya tak kalah pedih setelah apa yang ia bayangkan tak menjadi kenyataan.

“Aku pikir anak-anak ada di ruangan lain. Profesor di rumah sakit pun datang dan duduk di sampingku sementara yang lain (Charlton, Scanlon, Wood) terdiam. Dia memberi tahuku daftar pemain yang meninggal sementara pemain yang mengalami luka parah ada di lantai atas. Di sana ada si bos, juga Duncan Edwards dan Johnny Berry. Kondisi mereka tidak terlalu bagus,” ingat Kenny.

Emosi Kenny bukannya tanpa alasan. Sama seperti Scanlon, ia juga berpikir begini, “Saat profesor bilang padamu kalau Anda hidup sementara pemain lain tidak, Anda pasti berpikir, ‘kenapa aku mesti di sini?’. Anda pasti berpikir kalau Anda mengerikan bisa beruntung untuk hidup.”

Si Bos Matt Busby harus tinggal dalam kasur yang diselubungi oksigen. Bahkan, telah dua kali digelar upacara penghormatan terakhir, untuk “melepasnya”. Meskipun demikian, Matt Busby berangsur-angsur sembuh.

Sementara itu, Duncan Edwards meninggal setelah 15 hari dirawat. Di sisi lain, Berry hampir sulit untuk disembuhkan karena menerima luka yang amat mengerikan. Ia mengalami koma selama dua bulan. Tengkoraknya retak, rahang, siku, dan tulang pinggulnya patah. Semua giginya bahkan mesti dilepas untuk pengobatan rahangnya.

Meskipun demikian, Berry bisa kembali merumput United meskipun musim tersebut menjadi musim terakhirnya di Old Trafford setelah mengabdi selama tujuh musim.

Salah satu yang mengusik jiwanya adalah saat ia terbangun, ia mendapati Matt Busby di sampingnya saat di rumah sakit. Ia merasa kalau rekannya, Tommy Taylor, bukanlah rekan yang baik karena tak pernah menjenguknya. Lalu, ia mulai berhenti memikirkan itu setelah diberi tahu kalau Taylor termasuk dalam korban yang wafat.

Berjuang untuk Sebuah Kejayaan

“Aku tidak sedang bercanda tapi kami saat itu punya tim terbaik di dunia. Usia Duncan masih 20 tahun tapi dia sudah main lima tahun untuk United dan empat tahun untuk Inggris. Dia masih punya 10 tahun lagi, akan jadi sehebat apa dia? Eddie Colman dan Mark Jones, baru 23 tahun, mereka juga punya 10 tahun lagi di sepakbola, dan Tommy Taylor…” kenang Kenny.

Kehebatan itu pada akhirnya tidak berarti apa-apa karena mereka yang disebutkan Kenny menjadi korban dalam Tragedi Munich. Selain itu, di babak semifinal, United pun disingkirkan oleh AC Milan dengan agregat 5-2.

Tragedi Munich membuat Matt Busby hampir menyerah. Putra Matt, Sandy Busby, mengungkapkan bahwa saat ayahnya sadar, ia langsung bilang pada ibunya Sandy, “Sudah selesai aku di sepakbola, untuk para pemuda [yang wafat].”

Namun, istri Matt meminta Matt untuk tak mudah menyerah. Tragedi ini mesti menjadi tonggak bagi United untuk lebih berprestasi, “Mereka ingin kamu lanjut dan memeroleh sesuatu dan nama mereka akan ada di sana bersama apa yang diraih oleh tim.”

Segalanya memang tidak mudah karena membutuhkan proses panjang karena United mesti membangun kesebelasan dengan skuat yang baru.  Hal ini membutuhkan waktu lima musim bagi United untuk memenangi Piala FA, dan sepuluh tahun tambahan untuk benar-benar menjuarai kompetisi Eropa.

Proses panjang ini tak lepas karena hampir semua pemain utama United kala itu wafat. Sandy Busby pun mengingatkan bahwa Jackie Blachflower dan Johnny Berry tak lagi bisa bermain.

“Sementara Kenny Morgans akan mengatakan pada Anda bahwa ia bukan lagi pemain (dengan kemampuan) yang sama seperti dulu. Ditambah dengan delapan orang yang meninggal, itu adalah full team,” ucap Sandy.

Gelar juara Liga Inggris serta European Cup pada 1968 membuat sejumlah pemain yang begitu tegar macam Bobby Charlton sekalipun mesti menyeka air mata.

“Aku ingat Bobby setelah final [European Cup], dia benar-benar kering, dan aku yakin bahwa Munich adalah alasan mengapa dia merasa begitu emosional,” ucap Sandy.

***

Petang itu, saat Kenny duduk di pinggir jendela, berkecamuk dalam pikirannya soal perayaan lolosnya United ke babak semifinal European Cup. Malamnya, United akan menggelar di hall dansa di Plasa Manchester dengan DJ Jimmy Savile sebagai penampil utama.

Namun tragedi itu merenggut segalanya, bahkan karier Kenny meski ia berhasil selamat. Kenny punya beban yang tak kasat mata. Perasaan bersalah sampai rasa trauma berkecamuk dalam kepalanya.

Kejatuhan pertamanya adalah saat tak dimainkan oleh pelaksana tugas pelatih United, Jimmy Murphy, di partai final Piala FA. Padahal, waktu itu, Kenny turut membawa United lolos ke babak final. Jimmy beralasan kalau Kenny kehilangan terlalu banyak berat badan. Padahal, momen tersebut amat penting bagi dirinya untuk memberikan penghormatan terakhir kepada rekan-rekannya yang wafat.

Sepanjang tiga musim kemudian, Kenny hanya bermain empat kali. Rasa traumanya mengalahkan segalanya. Ia tak bisa menunjukkan permainan terbaiknya. Pada akhirnya, Kenny menyaksikan Bobby dan Bill mengangkat piala European Cup, dari sebuah kesebelasan kecil yang tenang, Barry Town.

Pada 18 November 2012, Kenny menghembuskan nafas terakhirnya. Meskipun ia disebut sebagai korban yang selamat dari Tragedi Munich, tapi ia tak pernah benar-benar bisa  mendamaikan rasa kehilangannya.

“Dalam banyak hal, Kenny Morgans adalah pesepakbola yang merupakan korban kesembilan dari Tragedi Munich,” tulis The Independent.

Comments

Loading...