OUR NETWORK

Ron Atkinson, Sosok yang Mengembalikan Filosofi Bermain Manchester United

Selepas menjuarai Piala Champions pada 1968, performa Manchester United mengalami penurunan yang begitu drastis. Hal ini tidak lepas dari pensiunnya Sir Matt Busby yang sudah menangani klub selama 25 tahun. Sederet pengganti tidak bisa menggantikan perannya karena serangkaian alasan yang berbeda-beda.

Wilf McGuinness minim pengalaman. Frank O’Farrel tidak disukai para pemain senior. Tommy Docherty terganjal kasus perselingkuhan. Yang terakhir, Dave Sexton gagal karena pendekatan sepakbolanya yang cenderung defensif hingga membuat dirinya saat itu tidak begitu disukai para pendukung United.

Bagaimana tidak, United yang akrab dengan pola permainan operan pendek dari kaki ke kaki justru bermain sangat pragmatis di bawah kepelatihan Sexton. Pendukung United jelas tidak terbiasa menyaksikan sepakbola seperti ini. Bahkan Tommy Docherty, pelatih yang membawa United degradasi ke Divisi II, dianggap memiliki gaya main yang jauh lebih enak dilihat ketimbang Sexton.

Hal ini kemudian membuat Martin Edwards, Chairman United saat itu, mencari pengganti yang bisa mengembalikan sepakbola United. Jauh sebelum matanya mengarah ke sosok Sir Alex Ferguson, Edwards lebih dulu naksir kepada manajer West Brom dari tahun 1978-81, Ron Atkinson.

Atkinson dianggap mampu mengembalikan filosofi United sekaligus mengembalikan United ke papan atas. Hal ini tidak lepas dari keberhasilannya membawa WBA finis di peringkat tiga pada 1979 dan melaju hingga perempat final Piala UEFA. Ia bahkan mengalahkan United milik Sexton pada 1978 dengan skor 5-3 saat itu. Musim terakhirnya bersama Baggies, ia membawa klub ini finis di posisi keempat di liga.

Pengangkatan Atkinson disambut meriah saat itu. Selain karena filosofi sepakbolanya, sikapnya yang ramah dan murah senyum juga menjadi nilai tersendiri di mata para penggemar. Tidak hanya itu, United sukses membuat beberapa gebrakan hebat ketika dipegang oleh Atkinson.

Pada Oktober 1981, klub memecahkan rekor transfer Britania dengan merekrut Bryan Robson. Sederet nama lain seperti Remi Moses, Jesper Olsen, Paul McGrath, Frank Stapleton, dan Gordon Strachan juga didatangkan. Mereka-mereka adalah pemain bintang pada saat itu.

“Tujuan terbesar tentu saja merekrut Bryan Robson. Saya bilang kepada direktur klub kalau pembeliannya bukan perjudian tetapi garansi,” kata Atkinson.

Sempat kalah dalam pertandingan pertamanya, Atkinson langsung menjalani musim yang oke pada tahun pertama sebagai pelatih. United yang sebelumnya berada di urutan kedelapan, ia bawa naik hingga ke posisi tiga. Ia juga menepati janjinya dengan memainkan sepakbola yang menghibur. Bahkan ada yang menyebut kalau mereka bermain lebih baik ketimbang Liverpool yang saat itu berstatus tim hebat di Inggris dan Eropa.

“Saya tidak pernah berpikir bahwa menikmati apa yang Anda lakukan adalah sebuah kejahatan. Saya rasa kenikmatan bermain dengan enak dicabut dari para pemain ini,” tuturnya.

Setelah mengembalikan gaya main United, langkah Atkinson berikutnya adalah menghentikan puasa gelar United. Raihan trofi mereka sangat miris selepas memenangi Piala Champions. United hanya meraih satu Piala FA dan satu trofi Divisi Dua saja sejak 1968. Hal ini jauh jika dibandingkan Liverpool yang ketika itu meraih 14 gelar dalam kurun waktu yang sama.

Dahaga prestasi tersebut dituntaskan pada musim 1982/1983. United meraih Piala FA setelah mengalahkan Brighton and Hove Albion. Mereka nyaris menambah gelar apabila tidak kalah dari Liverpool pada Piala Liga. Inilah trofi pertama United dalam enam tahun terakhir yang kemudian diikuti oleh gelat Community Shield beberapa bulan kemudian. United bahkan punya kesempatan untuk meraih gelar Piala Winners musim berikutnya apabila tidak terhenti di babak semifinal oleh Juventus.

Pada 1985, Ron kembali membawa United memenangi Piala FA setelah mengalahkan Everton 1-0 lewat gol tunggal Norman Whiteshide. Akan tetapi, kesempatan berprestasi di level Eropa urung dilakukan United karena hukuman dari UEFA akibat tragedi Heysel.*

Meski sukses meraih dua gelar dan berhasil mengembalikan filosofi permainan United, namun para penggemar United ternyata tidak terlalu puas terhadap kinerja Atkinson. Rasa senang mereka yang muncul pada awal pengangkatannya berubah menjadi kekecewaan. Penggemar United tidak ingin timnya hanya menjadi kesebelasan spesialis ajang-ajang piala saja. Mereka ingin gelar liga diraih secepatnya.

Sayangnya, United hanya bisa menjadi penggangu di kompetisi liga. Posisi yang mereka raih tidak jauh-jauh dari urutan tiga dan empat. Selain itu, mereka juga terkendala dengan inkonsistensi permainan.

United bisa bermain bagus ketika melawan tim papan atas. Mereka bisa mengalahkan Liverpool dan melakukan comeback dramatis ketika menghadapi Barcelona pada Piala Winners. Akan tetapi, ketika menghadapi tim yang cenderung lemah United justru sering terjungkal. Pada musim 1983/84, United tersingkir pada babak tiga Piala FA dari Bournemouth yang saat itu bermain di divisi tiga. Kekalahan United saat itu menjadi salah satu kejutan terbesar yang pernah terjadi sepanjang sejarah Piala FA.

Pada musim 1985/1986, United sempat tampil meyakinkan dengan memenangi 10 pertandingan beruntun. Namun, serangkaian cedera membuat perjalanan United menjadi oleng dan kembali mengakhiri musim di urutan keempat. Momen ini yang kemudian membuat pihak klub merasa kalau Atkinson hanya spesialis empat besar dan turnamen piala saja.

“Kami mengalami tiga sampai empat pemain cedera yang penyembuhannya membutuhkan waktu yang cukup lama sehingga kami tidak bisa mempertahankan momentum kami karena kami tidak memiliki pemain cadangan.”

Setelah menjalani serangkaian hasil buruk pada musim 1986/87, dan sempat menempati peringkat ke-19, United memutuskan untuk memecat Atkinson dan mengambil Sir Alex Ferguson dari Aberdeen. Fergie kemudian menyebut kalau alasan United gagal bersama Atkinson adalah karena kebijakan Atkinson yang membebaskan para pemainnya untuk menenggak minuman keras.

Atkinson memang identik dengan minuman keras. Ketika masih memegang Sheffield, ia bahka menyuruh timnya untuk menenggak minuman keras sebelum bertanding. Kebiasaan ini ia bawa hingga ke Manchester United yang membuat Ferguson terheran-heran ketika menemukan pemain yang ia dapat ternyata gemar mabuk-mabukan.

Hari ini menjadi hari penunjukkan Ron Atkinson sebagai manajer Manchester United pada 9 Juni 1981.

Keterangan: Tragedi Heysel adalah kejadian yang terjadi pada final Liga Champions 1984/85 yang melibatkan pendukung Juventus dan pendukung Liverpool. Tercatat ada 39 pendukung yang 32 diantaranya adalah pendukung Juventus menjadi korban tewas. UEFA kemudian menghukum tim-tim Inggris untuk bermain di kompetisi Eropa selama 5 tahun.

Comments

Loading...