OUR NETWORK

8 Mei 2002: Arsenal Pesta di Old Trafford

Sepanjang sejarahnya, Arsenal hanya memiliki tiga gelar Premier League. Meski sedikit, namun tiga gelar tersebut sangat berkesan jika melihat tempat mereka memastikan gelar tersebut. Dua dari tiga titel Premier League Arsenal didapat di kandang rivalnya. Satu di White Hart Lane (2003/2004), dan satu lagi di Old Trafford (2001/2002).

Rivalitas kedua kesebelasan mewarnai perjalanan Premier League di penghujung 90-an hingga memasuki era 2000-an. Hal itu bisa dilihat dari dominasi kedua tim yang saling bergantian juara Premier League sejak 1997/1998 hingga 2003/2004.

Ada cerita yang memilukan bagi dua rival Arsenal saat itu terkait gelar tersebut. Trofi 2004 diraih dengan status mereka yang tidak terkalahkan sepanjang musim. Sementara perayaan di Teater Impian membuat langkah United untuk meraih titel Premier League empat kali secara beruntun musnah.

Penampilan Manchester United sepanjang musim 2001/2002 memang kurang konsisten, atau bahkan cenderung buruk. Padahal, mereka melakukan dua transfer besar pada musim panas yaitu mendatangkan Ruud van Nistelrooy dan Juan Veron. Inilah musim ketika United untuk pertama kalinya menderita tiga kekalahan beruntun. Selain itu, inilah kali pertama mereka kalah sebanyak sembilan pertandingan di liga.

Sebaliknya, Arsenal 2001/2002 adalah Arsenal yang begitu superior. Mereka hanya tiga kali kalah yang semuanya justru terjadi di Highbury. Ketika bermain tandang, Arsenal justru lebih menakutkan ketimbang si pemilik rumah. 14 dari 19 laga berhasil mereka akhiri dengan tiga poin termasuk laga melawan United.

Datang ke Old Trafford dengan misi hanya butuh satu poin, Arsenal justru menjadi pemenang berkat gol tunggal Sylvain Wiltord pada menit ke-57. Striker Prancis ini memanfaatkan bola muntah hasil tendangan dari Freddie Ljungberg yang sebelumnya mengecoh Laurent Blanc, bek United yang dituduh menjadi titik lemah klub sepanjang musim itu.

Setelah peluit panjang dibunyikan, penggemar Arsenal larut dalam kebahagiaan. Ada yang menangis karena terharu, namun tidak sedikit yang juga pongah karena mereka berhasil juara di depan rivalnya. Pemandangan berbeda jelas terlihat dari pendukung United yang hanya bisa terdiam melihat rumahnya menjadi tempat pesta juara klub lain yang merupakan rivalnya sendiri.

Bagi Sir Alex Ferguson, itulah kekecewaan kedua yang ia dapat hanya dalam tempo kurang dari dua pekan. Sebelumnya, ia lebih dulu kecewa karena tidak bisa membawa United lolos ke final Liga Champions yang saat itu digelar di Skotlandia. United tersingkir pada babak semifinal akibat kalah gol tandan dari Bayer Leverkusen.

“Target saya membawa United ke final Liga Champions tetapi kami kalah dari Bayer Leverkusen Kami sial! Kami kehabisan waktu. Dalam rangkaian menuju final, saya diminta ke Glasgow untuk mencari hotel agar bisa dipakai oleh kami. Ketika pulang dari sana, saya merasa kalau mencari hotel adalah sesuatu yang tidak perlu. Pada akhirnya, kami kalah di semifinal. Seperti itulah hidup,” kata Fergie.

Mengutip kalimat terakhir, Fergie menegaskan kalau kehidupan tidak selamanya akan berpihak kepada kita. Ada masa-masa ketika kenyataan dalam kehidupan memberi rasa sakit. Itulah yang dirasakan oleh Ferguson ketika dua kali mendapat fakta yang sangat menyakitkan.

Namun Fergie mencoba untuk tegar. Di tengah rasa kecewa melihat rivalnya menang di depan matanya, sang gaffer hanya bisa pasrah dan mengucapkan selamat kepada Arsenal sebagai cara untuk mengakui kekalahan. Ia bahkan datang ke ruang ganti Arsenal untuk memberikan champagne kepada mereka.

“Sir Alex datang ke ruang ganti dan memberi selamat kepada kami dan menatap musim depan. Di situlah kelas seorang Alex Ferguson,” kata Martin Keown.

“Ia mungkin marah karena kami menang dan jadi juara, tapi itulah inti dari sepakbola, menerima kekalahan dan mengakui lawan sebagai pemenang. Itu adalah malam yang besar bagi kami dan kami sedikit kesulitan karena mereka bertahan dengan sangat baik,” tutur Ray Parlour menambahkan.

Beruntung bagi United karena mereka hanya butuh satu musim untuk kembali ke puncak. Mereka kembali menjadi juara Premier League pada musim 2002/2003 dengan keunggulan lima poin dari Meriam London. Yang menarik, kepastian United menjadi juara dibantu oleh rival abadinya yaitu Leeds United yang menang 2-3 di kandang Arsenal.

Arsenal boleh saja menjadi juara di Old Trafford pada 2002. Namun 11 tahun kemudian, giliran anak asuh Arsene Wenger yang menjadikan Emirates Stadium sebagai tempat penyambutan Manchester United yang baru saja memastikan diri meraih gelar Premier League yang ke-13 kalinya.

Comments

Loading...