OUR NETWORK

Soal Teknik dalam Tendangan Penalti Rashford dan Martial

Manchester United berhasil menang 3-1 atas Norwich City di Carrow Road. Ini merupakan kemenangan pertama MU di Premier League sejak 14 September silam. Kala itu, MU menang 1-0 atas Leicester di kandang. Yang menarik dari pertandingan ini adalah momen dua tendangan penalti The Red Devils yang berhasil ditahan kiper Norwich, Tim Krul.

Pada menit ke-29, Daniel James dilanggar bek Norwich. Wasit Stuart Attwell awalnya membiarkan pelanggaran tersebut, sampai VAR mengoreksi keputusannya. Tendangan penalti dilepaskan oleh Marcus Rashford. Tendangannya mengarah ke sisi kanan Krul yang berhasil ia selamatkan. Semenit kemudian, Rashford memupus kesalahannya dengan mencetak gol kedua Manchester United.

Semenit sebelum babak pertama usai, Fred melepaskan tembakan dari luar kotak penalti. Bola terlihat membentur tangan Todd Cantwell. Setelah berkomunikasi dengan VAR, wasit memutuskan kalau itu adalah handsball, dan United diberi hadiah penalti.

Anthony Martial yang kini maju sebagai eksekutor. Namun, lagi-lagi sepakannya berhasil ditepis Tim Krul. Bola berbeda arah dengan yang dilakukan Rashford, tapi Krul berhasil membacanya.

Dua kegagalan penalti ini membuat United hanya mencetak dua gol dari enam tendangan penalti musim ini.

Alasan kegagalan United mencetak gol lewat tendangan penalti bisa dikerucutkan menjadi dua alasan. Pertama, Tim Krul punya kemampuan membaca arah bola dan keberuntungan untuk bisa menepisnya. Kedua, memang alogjo United yang kurang berlatih.

Kalau mau dianalisis, di tendangan pertama, kesalahan sebenarnya ada di Marcus Rashford. Arah tubuh saat akan menendang, tidak terlalu terbuka. Ini membuat presentase arah bola tendangannya akan lebih besar ke sisi kanan kiper.

Krul pun sudah menebak arah tendangan Rashford. Saat Rashford akan menendang, di saat yang sama tubuh Krul sudah condong ke kanan. Kebetulan bola sepakan Rashford pun tak mengarah ke pojok, sehingga Krul lebih mudah menahannya. Ia bahkan tak menepis, melainkan menangkapnya!

Pendekatan berbeda dilakukan Anthony Martial di tendangan penalti kedua. Arah tubuhnya mirip dengan Rashford, tapi dengan teknik, ia melepaskan bola ke sisi kanan.

Sama seperti penalti pertama, di penalti kedua juga Krul sudah menebak. Saat bola hampir dilepaskan, Krul seolah-olah akan melompat ke arah kanannya. Namun, ia akhirnya melompat ke kiri dan berhasil menepis bola tendangan Martial.

Secara teknik, Martial mestinya bisa menipu Krul. Tapi ia membuat kesalahan karena jarak kaki kiri dengan bola cukup jauh. Ini yang bikin Martial mampu melepaskan ke sisi kanan yang presentasenya harusnya lebih kecil. Akan tetapi, Krul bisa melihat detail kecil ini sehingga bola berhasil ditahan.

Saat tendangan penalti, ancang-ancang dan arah tubuh menjadi sangat penting. Pasalnya, dua hal ini yang biasanya dibaca oleh kiper.

Semakin lebar ancang-ancangnya, presentase ke mana arah bola akan ditempatkan, menjadi kian sulit untuk ditebak. Pun sebaliknya, semakin sempit ancang-ancangnya, besar peluang penendang kaki kanan akan melepaskan tendangan ke arah kiri, seperti yang terjadi di penalti pertama.

Arah tubuh pun punya peran penting. Semakin miring arah tubuh, semakin sulit diprediksi ke mana ia akan menendang. Ini yang tak terjadi di tendangan penalti kedua. Arah tubuh Martial terlihat lurus, sehingga meski ancang-ancangnya sempit, ia masih berpeluang menendang ke arah kanan. Apalagi, ia menggunakan kaki bagian dalam.

Tentu, level pesepakbola profesional berbeda dari sekadar teori di tempat latihan. Contohnya Jorginho yang tak pakai teori-teorian karena ia mengarahkan bola tergantung dari gerakan kiper. Ciri khas Jorginho adalah melompat sebelum menendang, saat melompat ini, selama sepersekian detik, ia melihat kiper condong bergerak ke mana. Ia pun akan menendang ke arah sebaliknya. Tentu, Jorginho akan mengorbankan power dengan cara seperti ini. Anti tesisnya adalah kiper yang tak bergerak ketika Jorginho melakukan ancang-ancang, atau bergerak ke sana kemari.

Dua gol dari enam tendangan penalti bukanlah angka yang memuaskan. Sebaliknya, justru mengkhawatirkan. United mesti lebih sering melatih tendangan penalti. Atau mengganti eksekutornya sekalian.

Comments

Loading...