OUR NETWORK

Paradoks Romelu Lukaku

Romelu Lukaku mengatakan bahwa dirinya belajar banyak hal di bawah asuhan manajer sementara Ole Gunnar Solskjaer. Namun, belakangan ini muncul sebuah paradox tentang penilaian kualitas yang pas terhadap Lukaku.

Meski ia mencetak dua gol saat Manchester United memastikan kemenangan tandang kedelapan berturut-turut dengan kemenangan 3-1 atas Crystal Palace, tapi tetap saja, Lukaku masih sulit dikatakan sebagai striker baik bagi Setan Merah.

Padahal, pemain asal Belgia ini telah menjadi salah satu dari 20 pencetak gol terbanyak sepanjang masa Premier League. Dua golnya melawan Crystal Palace merupakan gol ke-111-nya di Premier League. Itu berarti, sekarang ia sudah sejajar dengan mantan pemain United seperti Dion Dublin di posisi ke-20, dan membutuhkan dua gol lagi untuk melewati posisi mantan striker Arsenal, Ian Wright, ke peringkat ke-19.

Harus diakui, memang ada beberapa bukti bahwa penyerang di usia yang sama seperti Lukaku sebelum era 1992 –sebelum Premier League ada– mungkin telah mengumpulkan lebih banyak gol darinya. Tapi tetap saja, sekarang Lukaku hanya berdiri tepat dua gol di belakang Ian Wright dan sembilan gol di belakang Steven Gerrard di tabel pencetak gol sepanjang masa Premier League. Padahal semua orang tau bahwa saat ini umurnya masih 25 tahun.

Di sisi lain, Romelu Lukaku sendiri sebenarnya baru empat kali merasakan bermain 90 menit di bawah asuhan Ole Gunnar Solskjær, dan dua gol yang dicetaknya kemarin adalah gol pertamanya dalam hampir dua bulan terakhir. Hal inilah yang kemudian membuat Lukaku dinilai seperti seorang pemain yang sedang diuntungkan dari perubahan yang dibuat Solskjaer di Old Trafford.

Namun, Lukaku sendiri membantah penilaian tersebut dengan mengatakan bahwa dirinya bukan diuntungkan, tapi dirinya justru merasa beruntung diasuh oleh Solskjaer. Karena menurutnya, ia telah banyak belajar dan hal inilah yang membuatnya terus berkembang di tiap pekannya.

“Jika Anda melihat karier saya, saya selalu memiliki striker yang baik membantu saya. Jadi, saat ini saya sedang diasuh oleh Ole, dan saya belajar banyak darinya. Setiap hari adalah hari untuk belajar, dan hari berikutnya adalah hari untuk melakukan peningkatan. Saya beruntung bisa diasuhnya,” tutur Lukaku dilansir dari Sky Sports.

“Saya senang dengan dua gol saya, saya juga senang dengan kinerja saya, dan tentunya saya senang dengan kemenangan ini. Sangat penting bagi kami untuk menang. Kami melakukan apa yang harus kami lakukan, dan sekarang kami harus terus berjalan dengan membuat banyak hasil positif.”

Terlepas dari itu, sebenarnya ada sesuatu yang sedikit meresahkan tentang Romelu Lukaku. Ia adalah pemain yang tampaknya sering mendapat kritik yang selalu tidak proporsional. Ada sesuatu tentang dirinya yang terasa tidak meyakinkan. Sentuhan pertamanya terkadang terasa berat. Gerakannya pun kadang-kadang tampak tidak imajinatif dan terkesan lambat. Ia juga seringnya melewatkan peluang yang padahal cukup mudah, seperti yang sempat ia lakukan di menit awal di Selhurst Park kemarin.

Namun persoalannya, Lukaku juga bisa mencetak gol secara konsisten di tiap musimnya. Dalam tujuh musim terakhir, ia bahkan berhasil masuk ke dalam daftar pencetak gol terbanyak sepanjang masa Premier League. Ini adalah sesuatu yang lebih luar biasa mengingat dirinya hanya mampu mencetak dua gol saja ketika ia melawan tim enam besar. Yang jelas, ia sudah memiliki serangkaian atribut yang luar biasa, entah itu berupa teknis maupun fisik.

Masalah yang Lukaku miliki selama ini, mungkin, adalah kenyataan bahwa dirinya tidak cukup baik seperti apa yang tampak dari permainannya. Hal yang paling mencolok tentang Lukaku adalah ukuran tubuhnya. Ia memiliki fisik seorang target man klasik, dan itu memungkinkannya untuk melakukan hal-hal yang tidak mungkin dilakukan orang lain. Namun faktanya, ia bukanlah pemain dengan tipikal target man. Jadi, penilaian terhadap dirinya ini tampak seperti sebuah paradox.

Bagaimanapun, Romelu Lukaku adalah striker yang mampu mencetak gol, mampu beradaptasi secara taktis, mampu menunjukkan keunggulan teknis dan mampu beradu fisik dengan pemain lawan. Kendati ia bukanlah bagian yang jelas dari visi Solskjaer, yang selalu mengedepankan trio penyerang yang lebih atraktif seperti Marcus Rashford, Anthony Martial dan Jesse Lingard, akan tetapi, sebagai pemain cadangan, Lukaku masih memiliki banyak hal untuk ditawarkan kepada United.

Jadi sekali lagi, menilai Lukaku dari fakta dan data yang ada, lalu kemudian menyimpulkannya dengan sebuah asumsi, itu semua hanya akan melahirkan sebuah paradoks.

Catatan redaksi: Paradoks berarti pernyataan yang seolah-olah bertentangan (berlawanan) dengan pendapat umum atau kebenaran, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran.

Comments

Loading...