OUR NETWORK

Pantang Menyerah Seperti Jesse Lingard

Stadion Nizhny Novgorod sedang menggelar pertandingan antara Inggris melawan Panama pada Piala Dunia 2018 lalu. Tim Tiga Singa saat itu sedang unggul 2-0 dan laga sudah memasuki menit ke-35. Belum puas dengan keunggulan dua gol, Jesse Lingard melepaskan sepakan jarak jauh melewati kepungan empat pemain untuk menambah keunggulan.

Gol itu sangat spesial bagi Lingard. Bukan karena gol tersebut adalah gol kedua dalam kariernya, melainkan karena gol itu dicetak dalam ajang prestisius seperti Piala Dunia. Lingard harus menunggu empat tahun lagi untuk bisa mencetak gol seperti itu, dan belum tentu namanya masih beredar pada skuad yang akan bermain di Qatar nanti. Saking spesialnya gol tersebut, Lingard hanya memberikan emoticon angin untuk menjelaskan gol tersebut.

Sayangnya, Inggris tidak bisa membawa Piala Dunia sekaligus merealisasikan slogan “Footballs Coming Home” yang begitu diagungkan para pendukungnya. Mereka hanya mentok sampai babak semifinal karena dikalahkan Kroasia 2-1. Pada perebutan tempat ketiga, mereka juga kalah dari Belgia. Walau begitu, Inggris tetap disambut baik karena menunjukkan penampilan yang mengesankan.

Selepas Piala Dunia, Lingard kembali tampil gemilang pada ajang UEFA Nations League. Ia membantu negaranya membalaskan kekalahan di semifinal Piala Dunia dengan mencetak gol ke gawang Kroasia. Inggris menang dan melangkah ke semifinal sekaligus membuka asa meraih gelar di ajang internasional sejak 1966.

“Kami sudah belajar dari kekalahan di Piala Dunia dan kami sekarang memegang momentum. Kemenangan ini memberikan kesempatan untuk memenangi trofi UEFA Nations League. Kami ingin melangkah sejauh mungkin,” kata Lingard.

Membawa Inggris melangkah jauh di Piala Dunia dan berpeluang menjuarai UEFA Nations League, adalah puncak karier dari seorang Jesse Lingard. Hal ini tentu tidak akan terjadi jika dia tidak bermain baik bersama Manchester United. Butuh proses serta perjuangan panjang bagi Lingard untuk bisa sampai ke sana.

***

Premier League musim 2014/2015 dibuka dengan pertandingan Swansea City melawan Manchester United di stadion Old Trafford. Lingard menjalani debut resmi pertamanya bersama Setan Merah dengan bermain di posisi wingback kanan. Namun perjalanannya berakhir hanya dalam tempo 24 menit. Ia mengalami cedera parah dan harus keluar digantikan oleh Adnan Januzaj. Langkahnya sangat lemas saat ia keluar dari lapangan. Ada raut kekecewaan karena permainannya selesai dalam waktu singkat.

Kekecewaan Lingard semakin bertambah saat menerima vonis kalau dia tidak bisa bermain selama enam bulan. Ini berarti kariernya di Manchester United berakhir pada musim itu. Tanda-tanda itu sepertinya semakin menguat ketika Lingard dipinjamkan ke Derby County untuk memulihkan kebugarannya.

“Pertandingan melawan Swansea adalah hadiah bagi saya setelah semua rasa sakit yang saya rasakan selama 22 tahun. Akan tetapi, lutut saya nyeri setelah 20 menit. Saya ingat kalau saudara saya menangis saat itu. Laga itu adalah segalanya bagi saya,” kata Lingard kepada Player’s Tribune.

“Saya tidak bisa bermain selama enam bulan. Tidak bisa berlatih, berjalan, melakukan apa-apa. Saya hanya bisa berbaring, nonton United di Match of The Day, sakit rasanya. Itu adalah titik terendah dalam hidup saya. Saya depresi. Beberapa kali saya mencabut rambut saya.”

Wajar jika Lingard nampak frustrasi. Ia harus menunggu cukup lama untuk bisa mendapatkan debut pertamanya bersama klub masa kecilnya tersebut. Disaat Angel Gomes dan Tahith Chong sudah bisa bermain bersama United di usia yang baru 18 dan 19 tahun, Lingard baru menjalani debutnya pada umur 22 tahun.

Frustrasi menjadi sifat alamiah seorang manusia. Akan tetapi, terus terjebak dalam rasa putus asa juga tidaklah bagus. Dengan segala keterpurukan yang ia alami, Lingard memilih bangkit dan kembali memacu dirinya untuk lebih baik lagi. Cedera parah yang ia terima memberikan pelajaran baginya untuk menghargai kaus Manchester United.

“Cedera itu memberi saya waktu untuk merenung dan menghargai kesempatan setiap kali saya mengenakan seragam United. Butuh 14 bulan sebelum saya mendapatkan kesempatan kembali memakai baju itu. Dan sejak saat itu saya tidak bisa berhenti tersenyum.”

Pantang menyerah nampaknya sudah tertanam dalam pribadi Jesse Lingard. Hal itu bisa dilihat dari perjalanan kariernya di sepakbola yang menarik untuk diikuti. Saat rekan seangkatannya seperti Paul Pogba sudah bergelimang gelar bersama Juventus di usia muda, ia masih disibukkan dengan bermain di tim-tim kelas menengah di divisi bawah.

Ia bisa saja pindah ke klub yang lebih besar seperti Pogba. Namun dalam hatinya hanya ada Manchester United. Tidak masalah dia terus-terusan dipinjamkan, baginya lebih baik terlambat daripada tidak memakai baju United sama sekali. Ia berhasil menepati janji Sir Alex yang pernah ia utarakan saat bocah dulu.

“Sir Alex berkata, ‘ini akan memakan waktu, Jesse. Kami percaya kepadamu tetapi Anda harus bersabar. Sampai usia saya 22 atau 23 tahun, saya tidak bisa bermain di tim utama. Saya kecewa, tetapi ketika legenda seperti Sir Alex mengatakan hal seperti itu, maka itu adalah segalanya.”

Sir Alex adalah orang yang sangat dikagumi oleh Lingard. Ia terpukau ketika sosok sebesar Ferguson mau menegurnya terlebih dahulu saat ia berjalan di lorong. “Saat saya berjalan, ada sebuah pukulan yang melayang kepada saya. Saya kaget, dan ternyata yang melakukan itu adalah Sir Alex sambil mengatakan, “Bagaimana kabarmu, bwoy?”

Sir Alex pernah berkata kalau tantangan terbesar Jesse di United adalah postur tubuhnya yang kecil. Saat ia berusia 15 tahun, badannya seperti anak umur 10 tahun. Kecilnya postur Lingard juga nampak terlihat hingga saat ini. Namun saat ini, badan kecil Lingard bisa membawanya menjadi pemain penting Manchester United dan juga tim nasional.

Comments

Loading...