Foto: Irishmirror.ie

Jari jemari Alexis Sanchez begitu lihai ketika memainkan tuts piano. Beberapa tembang seperti Right here waiting for you, Raining Blood, hingga theme song Mario Bros begitu mudah dikuasai pria asal Cile tersebut. Bahkan saat diperkenalkan sebagai pemain baru United, Sanchez langsung memainkan lagu Glory-Glory Man United sebagai perkenalan.

Walaupun begitu, profesi tetap seorang Alexis Sanchez adalah pemain sepakbola. Yang orang lihat dari majikan Atom dan Humber ini adalah kiprahnya sebagai bintang lapangan hijau bukannya berapa banyak lagu yang bisa ia mainkan. Orang-orang tentu lebih tertarik melihat berapa gol yang ia cetak, berapa asis yang ia buat, hingga berapa piala yang ia raih.

Akan tetapi, kaki Sanchez untuk saat ini tidak selihai jari jemarinya ketika memainkan piano. Penampilannya bersama Manchester United masih begitu-begitu aja alias standar. Tidak ada kualitas mewah seperti yang ia tunjukkan saat masih memperkuat Arsenal beberapa tahun lalu. Padahal United sampai rela menukarkan Henrikh Mkhitaryan demi dirinya. Ya, meskipun kenyataannya Miki juga tidak bagus-bagus amat di Arsenal.

Musim ini seharusnya menjadi ajang bagi Sanchez untuk unjuk gigi. Tidak adanya Cile di Piala Dunia Rusia membuat ia bisa menjalani pra musim pertamanya secara penuh sejak 2013. Akan tetapi, segalanya belum terlihat hingga pertandingan terakhir yang ia mainkan melawan Leicester pekan lalu. Padahal Sanchez direkrut agar kekuatan sisi sayap United bisa semakin kuat.

Saat pertama kali direkrut, para penggemar United diliputi optimisme kalau mereka berhasil mendapatkan pemain yang sudah punya pengalaman banyak di Premier League. Hal itu langsung dibuktikan ketika ia mencetak gol dalam debut kandangnya melawan Huddersfield. Tidak hanya itu, satu golnya ke gawang Tottenham pada semifinal Piala FA membawa United melaju ke final. Meski hanya mencetak tiga gol, namun saat itu penampilannya dimaklumi karena baru beradaptasi dengan lingkungan baru.

Namun hingga satu setengah tahun kariernya di kota Manchester, Sanchez baru membuat lima gol saja dari 35 pertandingan. Itu berarti, musim ini ia baru membuat dua gol. Pada musim terakhirnya di kota London, Sanchez butuh 11 laga saja untuk membuat jumlah gol serupa. Tentu saja catatan ini tidak terlalu baik bagi pemain yang gajinya menjadi yang tertinggi diantara pemain lain tersebut.

Sanchez adalah satu dari sekian banyak pemain yang belum bisa nyetel dengan skema Ole Gunnar Solskjaer. Hal ini sangat disayangkan mengingat pemain dengan kecepatan plus skill individu yang komplit macam Sanchez, seharusnya bisa nyetel dengan taktik Ole yang menekankan sisi sayap sebagai inti serangan.

Pertandingan melawan Leicester pekan lalu seharusnya menjadi momentum perubahan penampilan Sanchez. Itulah penampilan ketiganya sebagai starter bersama Ole. Namun yang terjadi, ia justru menjadi pemain yang paling sering kehilangan bola. Ia kemudian digantikan oleh Anthony Martial. Terlihat raut wajah kekesalan muncul saat ia ditarik keluar.

Sanchez juga mengemban nomor punggung tujuh. Nomor yang selalu identik dengan pemain-pemain hebat klub macam Eric Cantona, Cristiano Ronaldo, dan David Beckham. Sanchez adalah harapan agar momok nomor tujuh bisa diputus setelah kegagalan Michael Owen, Antonio Valencia, hingga Memphis Depay.

Jelang laga melawan Fulham, permasalahan seorang Sanchez masih sama seperti sebelumnya yaitu soal posisi. Namun hingga hari ini, dimanapun Sanchez bermain penampilannya belum terlalu baik. Dia sudah bermain di kiri, kanan, dan striker selama beberapa kali. Bahkan golnya pada musim ini dibuat ketika ia menjadi striker. Akan tetapi, bukan berarti permasalahan soal Sanchez akan kelar jika ia dimainkan menjadi ujung tombak.

Di bawah Ole, Sanchez bukannya tidak pernah bermain bagus. Laga melawan Newcastle, Reading, dan Arsenal adalah contoh ketika penampilannya cukup lumayan bagus dibanding saat masih dipegang Mourinho. Namun apiknya penampilan eks Udinese ini kerap tidak berlanjut pada pertandingan berikutnya yang menegaskan kalau dia belum konsisten.

Di United, Sanchez mungkin menjalani situasi yang berbeda. Di Arsenal, dia ditemani oleh Mesut Ozil yang mengerti pergerakannya di lini depan. Saat bermain di Barcelona, Messi bisa menjadi pemberi suplai bagus kepada dirinya. Sementara di United, Sanchez adalah pelayan sesungguhnya. Hal ini juga yang mungkin memberatkan penampilannya.

Sanchez boleh saja beralasan kalau penurunan performa yang ia alami diakibatkan cedera yang sempat menyerangnya pada awal musim ini. Namun tetap saja, penampilannya yang ia tunjukkan setelah cedera tidak jauh berbeda dibandingkan saat pertama kali direkrut. Singkatnya, Sanchez ada di ambang menuju label sebagai pembelian gagal sepanjang sejarah Setan Merah.

Lagipula, klub ini memang tidak ramah kepada para pemain Amerika Latin. Diego Forlan, Juan Veron, Kleberson, Fabio, hingga Angel Di Maria adalah contoh dari melempemnya talenta Conmebol di kota Manchester, terutama Manchester merah. Kalau Sanchez tidak segera menemukna performanya kembali, siap-siap saja label tersebut akan menempel kepadanya.