OUR NETWORK

Manchester United dan Mimpi Buruk Bernama Samuel Eto’o

Hat-trick menjadi sesuatu yang langka bagi Manchester United saat ini. Khususnya pada ajang Premier League. Sudah lama sekali, United tidak memiliki pemain yang bisa mencetak tiga gol dalam satu pertandingan. 2013 menjadi kali terakhir penggemar United melihat pemainnya mencetak tiga gol dalam satu pertandingan. Saat itu, trigol dari Robin van Persie membawa United menang 3-0 melawan Aston Villa sekaligus memastikan titel ke-20 mereka sepanjang sejarah.

Tidak hanya dari sisi yang menang, United juga sudah lama tidak melihat gawangnya dibobol tiga kali dalam satu pertandingan oleh lawannya. Gawang Setan Merah memang bisa dikatakan cukup anti dengan kata hat-trick. Sejak 1992, hanya ada empat pemain saja yang bisa membuat tiga gol ke gawang United. Mereka adalah David Bentley (2006), Dirk Kuyt (2011), Romelu Lukaku (2013), dan yang terakhir Samuel Eto’o (2014).

***

Nama terakhir sedang menjadi pusat pemberitaan beberapa hari terakhir. Striker asal Kamerun ini baru saja memutuskan untuk pensiun setelah 22 tahun berkarier sebagai pesepakbola. Kesebelasan asal Qatar, Qatar SC, menjadi klub terakhir yang dibela oleh pemain kelahiran Douala tersebut.

“Berakhir. Menuju tantangan baru. Terima kasih semua, big love,” tulis Eto’o dalam akun instagram pribadinya.

Semasa aktif bermain, Eto’o dikenal sebagai salah satu striker terbaik yang pernah dimiliki Kamerun dan terutama sepakbola Afrika. Ia menjadi satu dari sedikitnya pemain yang bisa menjuarai Liga Champions dan meraih treble dengan dua kesebelasan berbeda yaitu Barcelona (2008/2009) dan Inter Milan (2009/2010).

Eto’o dikenal sebagai striker yang cepat, kuat, dan memiliki penempatan posisi yang bagus. Selain itu, ia juga dibekali dengan kemampuan bermain pada beberapa posisi seperti second striker, gelandang serang, hingga penyerang sayap. Ia juga memiliki stamina, work-rate, dan penyelesaian akhir yang bagus dengan kaki dan kepalanya. Catatan 370 gol adalah bukti bahwa Eto’o pantas disebut sebagai salah satu striker terbaik di dunia.

Manchester United menjadi satu dari beberapa kesebelasan yang merasakan ganasnya mantan pemain Real Madrid ini. Tercatat, ada dua momen dimana Eto’o menjadi mimpi buruk United. Yang pertama terjadi dalam final Liga Champions 2008/09. Saat itu, golnya pada menit ke-10 langsung memecahkan konsentrasi pemain United yang sebelumnya menguasai pertandingan dan lebih sering mengancam gawang Barcelona.

“Barcelona memulai dengan Messi di sayap kanan, Eto’o di tengah dan Thierry Henry di sayap kiri. Sebelum terjadinya gol, Eto’o pindah ke sayap kanan dan Messi menjadi gelandang. Mereka memindahkan Eto’o karena Evra berhasil lepas dari Messi sejak awal. Guardiola kemudian menukar Messi dengan Eto’o agar dia (Messi) tidak terus-terusan melawan Evra,” tutur Sir Alex dalam My Autobiography.

Taktik Guardiola itu yang kemudian membuat MU langsung kebobolan. Proses gol pertama Barcelona hadir ketika Eto’o bergerak dari sayap kiri memanfaatkan Evra yang terlambat melakukan transisi. Ferguson menambahkan kalau sejak saat itu penampilan keempat beknya (O’Shea, Ferdinand, Vidic, dan Evra) langsung berantakan. Dominasi pada awal laga menjadi tidak berarti selepas Eto’o mencetak gol tersebut.

Lima tahun berselang, Eto’o kembali menjadi mimpi buruk bagi United. Saat itu, usianya sudah 32 tahun dan menjalani musim perdananya di Inggris bersama Chelsea. Perekrutan Eto’o saat itu cukup mengejutkan mengingat The Blues sebenarnya mengincar Wayne Rooney untuk mengisi posisi striker. Siapa yang menyangka kalau pemain yang sebelumnya hanya diincar sebagai alternatif justru menjadi bintang lapangan.

Pertandingan baru memasuki menit ke-17, Eto’o langsung mencetak gol setelah sepakannya dibelokan kaki Phil Jones sehingga bola menjadi menukik dan merepotkan De Gea. Gol kedua dan ketiga datang dari rapuhnya lini belakang Setan Merah yang membiarkan dirinya mendapat ruang yang luas untuk membuat gol. Tiga golnya ini membuat namanya menjadi pemain tertua yang pernah membuat hat-trick ke gawang United sepanjang sejarah Premier League.

“Sebuah kehormatan besar bisa mencetak tiga gol, dan mendapat bola adalah souvenir yang hebat. Saya suka bermain pada laga-laga big match. Sebelum laga melawan United, saya berkata kepada Mourinho kalau saya ingin bermain. Pada akhirnya, kesempatan itu datang dan membawa tim untuk menang,” tuturnya dalam situs resmi Chelsea.

“Gol pertama dibantu oleh defleksi. Dua gol lain bisa tercipta karena saya tidak mendapatkan banyak peluang jadi saya senang ketika peluang untuk mencetak gol tiba. Itu adalah buah dari kerja sama tim dan mengambil tiga poin adalah hal yang penting.

Comments

Loading...