OUR NETWORK

Lidah Roy Keane yang Mengintimidasi

Roy Keane kerap digambarkan sebagai sosok yang sangar, keras, dan gahar. Hal ini yang membuat dirinya dinilai sebagai pemain yang menakutkan. Tidak jarang, perangainya yang keras ini menimbulkan gesekan yang melibatkan dirinya dengan para pemain lain, bahkan tidak jarang pelatihnya pun menjadi korban.

Dalam bukunya, Sir Alex Ferguson pernah menyebut kalau senjata mematikan dari Roy Keane adalah lidahnya yang tajam. Layaknya mak-mak yang nyinyir ketika melihat tetangganya membeli mobil baru, Keane kerap mengeluarkan sindiran-sindiran yang bisa mengintimidasi orang-orang yang berada di sekitarnya. Tidak sedikit dari mereka yang akhirnya mengalami ketakutan yang berlebih ketika menghadapi pria kelahiran Cork ini.

Tanyakan saja kepada Ian Harte, salah satu pemain tersukses yang pernah dimiliki Republik Irlandia. Pemain yang dikenal memiliki akurasi tendangan bebas ciamik ini langsung kalut ketika mulut Roy Keane mengeluarkan sebuah ancaman kepadanya. Saat itu, Harte adalah penggawa Leeds United dan Keane masih menjadi pemain Setan Merah.

“Saya ingat waktu itu United dan Leeds akan bertemu pada akhir pekan. Namun sebelum pertandingan itu, kami sedang menjalani pertandingan internasional dan kami menginap di hotel yang sama. Saya dan pemain lain sedang minum-minum, dan ketika itu Roy juga ada di sana,” tuturnya kepada Independent.

“Lalu saya mencoba menawarkan minum kepada Roy, namun Roy menjawab ‘Tidak usah, tidak usah’. Namun yang paling mengejutkan saya adalah ketika ia berbicara, “Hartey, saat kita bertemu akhir pekan nanti, saya akan menghajarmu,”. Siapa yang menyangka kalau hanya dengan ucapan tersebut bisa langsung membuat Harte ketakutan dan memutuskan kembali ke kamarnya.

Tidak hanya Harte saja yang merasa ketakutan. Mantan pemain Manchester United, Gerard Pique, merupakan salah satu korban dari gaharnya tingkah laku mantan pemain Nottingham Forest ini. Saat itu, Pique duduk di sebelah Keane dan sedang menunggu Sir Alex Ferguson untuk memberikan arahan terakhir sebelum memasuki lapangan.

Namun di tengah situasi hening tersebut, telepon genggam Pique berbunyi dan getarannya terdengar cukup kencang di ruangan tersebut. Naas bagi Pique, karena telepon yang berbunyi tersebut merupakan telepon genggamnya. Mendengar ada suara aneh, Keane berusaha mencari sumber suara tersebut.

“Roy tidak bisa menemukan sumber bunyi tersebut. Dia lalu melihat ke sekeliling seperti maniak. Dia benar-benar ingin tahu dari mana suara tersebut. Tiba-tiba, Roy berteriak “Ponsel siapa itu?!” namun tidak ada jawaban. Dia kembali bertanya untuk kedua kalinya namun tetap tidak ada jawaban. Hingga akhirnya dia bertanya untuk ketiga kalinya, “Punya siapa ponsel itu?!”

Pique saat itu masih berusia 18 tahun. Tentu saja seorang pemain muda akan gugup dan merasa malu ketika membuat kesalahan di depan para seniornya. Akhirnya suami dari Shakira ini mengaku kalau ponsel itu merupakan miliknya. Pengakuan yang membuat Keane mengamuk.

“Setelah saya mengaku, Keane mengamuk. Dia membabi-buta di depan semua orang. Saya hampir ngompol karena kejadian itu.” Kejadian tersebut bahkan membuat Gerard Pique tetap merasa takut meski ia sudah meninggalkan United dan mengumpulkan banyak gelar bersama Barcelona, “Sebelum kami bermain melawan Celtic pada Oktober 2013, saya melihat dirinya menjadi seorang pandit. Saya takut dan menutupi wajah saya.”

Rio Ferdinand juga merasakan hal yang sama. Pada tahun 2002, ia didatangkan oleh United dan menjadikannya sebagai salah satu pemain belakang termahal di dunia. Statusnya tersebut tidak membuat Keane takut untuk melawan Rio pada sesi latihan.

“Kasih bolanya ke depan, bodoh. Itu yang diucapkan kepada saya. Lalu saya menatapnya dan melihat semua wajahnya berkerut, dan dia berkata, ‘memberi bola ke samping itu adalah pekerjaan mudah, sekarang kamu berikan bola itu ke depan, bodoh,” kata Rio.

Selain Pique dan Ferdinand, beberapa intimidasi lain juga pernah dilakukan Keane terhadap pemain United lainnya meski tidak dikeluarkan secara langsung. Saat orang-orang Skotlandia memuja Darren Fletcher yang sukses merebut satu tempat di lini tengah United, Keane dengan enteng berkata, “Saya heran, mengapa orang-orang Skotlandia begitu menyukai Darren Fletcher.”

Bahkan legenda besar seperti Bobby Charlton tidak bisa berbuat banyak ketika melihat Roy Keane dan Peter Schmeichel sedang berkelahi karena takut kalau dirinya bisa menjadi korban Keane berikutnya.

“Kami berada dalam sebuah tim yang selalu berkelahi tiap minggu. Hughes, Schmeichel, Bruce, Ince, Keane, dan Cantona. Setiap kali mereka bertemu pasti akan ada perkelahian terutama dalam sesi latihan. Untuk itu saya lebih baik berdiri di sisi saya. Sulit untuk melawan Roy Keane karena lidahnya yang tajam,” kata Ryan Giggs kepada Independent

Lidah tajam Keane seolah tidak mau pensiun meski dirinya sudah tidak lagi menjadi sepakbola. Saat menjadi pandit, beberapa ucapan nyinyirnya masih menghiasi beberapa media. Saat Class of 92 meluncurkan film dokumenter, dia menyebut kalau peran mereka terlalu dibesar-besarkan dan seolah melupakan pemain lainnya. Atau ketika ia menyebut pemain United saat ini memiliki mental seperti bayi cengeng dan bertingkah layaknya seorang pecundang.

***

Apa yang diucapkan Keane terhadap beberapa pemain tersebut memang terasa menyakitkan untuk didengar. Namun hal itu semata-mata ia lakukan agar si objek sasaran bisa bangkit dan menunjukkan penampilan terbaiknya. Darren Fletcher, Rio Ferdinand, dan Gerard Pique langsung sadar setelah dihardik oleh Keane dan menjelma menjadi pemain yang konsisten di klubnya masing-masing. Begitu juga dengan Harte.

Keane hanya berusaha untuk menjadi orang yang jujur. Dia lebih suka berkata jujur meski menyakitkan ketimbang bermulut manis penuh omong kosong seperti yang kerap terjadi di dunia sepakbola saat ini. Hal ini yang menjadikan dirinya sebagai salah satu pemain dengan karakter, teladan, dan jiwa kepemimpinan terbaik yang pernah dimiliki Setan Merah sepanjang sejarah.

Tulisan ini dibuat untuk merayakan keberhasilan Manchester United merekrut Roy Keane dari Nottingham Forest pada 19 Juli 1993.

Comments

Loading...