OUR NETWORK

Kualitas Pemain Cadangan yang Menjadi Masalah Manchester United

Ole Gunnar Solskjaer tidak henti-hentinya membuat penggemar Manchester United bahagia. Dari 10 pertandingan yang sudah dijalani, sembilan diantaranya berakhir dengan kemenangan. Hanya satu kali saja terpeleset yaitu ketika melawan Burnley. Itupun ditutup dengan penampilan spektakuler tim yang penuh determinasi hingga berhasil mengejar ketertinggalan dua gol.

Tidak hanya hasil akhir, permainan United juga jauh meningkat bersama Ole. Mereka kini lebih berani menguasai bola. Dua ujian di London Utara dilewati dengan hasil manis. Kini, mereka percaya diri bisa menaklukkan Eropa yang diawali dengan pertemuan antara klub dari kota penghasil industri melawan kota yang kerap dijuluki sebagai surga mode tersebut.

Berkat Ole, banyak hal yang sebelumnya dianggap mustahil menjadi mudah untuk digapai. Dari segi peringkat, United yang sempat tertinggal delapan angka dari Arsenal kini berbalik unggul satu angka dari Meriam London. Gelar manager of the month yang tidak bisa diraih sejak 2012, kini berpeluang jatuh ke tangan Ole.

Segala hal-hal baik bermunculan saat Ole menangani United selama dua bulan terakhir. Akan tetapi, hal ini tidak menutupi fakta kalau masih ada beberapa kekurangan yang sejauh ini belum bisa diselesaikan pria Norwegia tersebut. Salah satu yang paling terlihat jelas adalah ketergantungan United kepada para pemain utama.

Ole sah-sah saja mengatakan kalau skuad United saat ini cukup lengkap. Namun melihat fenomena yang terjadi sejak akhir Desember, kehebatan skuad ini baru sebatas kuantitas dan bukan karena kualitas. Kedalaman skuad United masih cukup minim. Para pemain pelapis tampak belum bisa diandalkan terutama saat strategi utama mengalami kebuntuan.

Masalah ini pertama kali muncul saat Ole mengganti mayoritas pemain pilarnya ketika laga menghadapi Reading, khususnya tiga pemain tengah. Ketika itu, ia memilih memainkan Fred, Andreas, dan Scott McTominay. United memang menang, namun pada pertandingan tersebut lini tengah United bermain biasa saja jika tidak ingin dikatakan buruk.

Rotasi yang dilakukan Ole kerap membuat United menjadi lemah alih-alih mendapatkan poin penuh. Jika melawan Reading tertolong dengan kualitas lawan yang buruk, maka hal itu tidak kejadian ketika melawan Burnley. Tanpa Ander Herrera, lini tengah kembali tidak dominan. Apesnya, Andreas Pereira, yang seharusnya menjalani peran Herrera, justru menjadi penyebab bobolnya gawang mereka. Sejak Herrera kembali, lini tengah Setan Merah kembali bernyawa. Sementara Andreas nampak meminta pertolongan kepada tuhan agar permainannya selalu diberkahi seperti unggahannya dalam akun instagramnya. Para pemain lain seperti Juan Mata, Fred, dan Diogo Dalot pun juga belum bisa berbuat banyak.

Dari 10 pertandingan yang sudah dimainkan, hanya 12 pemain saja yang sudah mengumpulkan lebih dari lima caps bersama Ole. Rashford dan Phil Jones merupakan dua pemain yang selalu bermain di semua pertandingan entah sebagai starter maupun pemain pengganti. Hal ini menunjukkan bagaimana ketergantungan Ole begitu tinggi terhadap skuad utama.

Terlalu bergantung kepada skuad utama dan menerapkan prinsip don’t change the winning team jelas membawa risiko yang besar. Meski kekompakan tim terus terjaga, namun lambat laun permainan tim menjadi mudah terbaca. Hal ini yang mulai terlihat dalam kepemimpinan Ole. Sejak mengalahkan Bournemouth, ketajaman United di liga perlahan menurun. United hanya sanggup mencetak dua gol. Para pemain mulai terlihat kelelahan yang berujung pada penampilan tim yang mendadak pragmatis di sisa pertandingan.

Disinilah tugas pemain cadangan begitu diperlukan. Akan tetapi, seperti apa yang saya singgung di awal kalau kualitas pemain cadangan masih terlalu jauh dari pemain utama. Beberapa diantaranya bahkan siap untuk ditendang keluar akhir musim nanti.

Antonio Valencia tidak pernah lagi bermain sejak melawan Newcastle. Cedera menjadi kendala baginya untuk kembali di atas lapangan. Yang terbaru, ia menunjukkan bajunya yang basah karena sibuk latihan lalu kemudian memerasnya, yang justru menunjukkan kalau dia begitu frustrasi alih-alih bersemangat.

Matteo Darmian juga tidak pernah nongol lagi sejak dimainkan jadi bek tengah ketika melawan Reading. Chris Smalling dan Scott McTominay belum pernah dipercaya meski sudah memperpanjang kontrak. Sementara Marcos Rojo nampak sudah dilupakan dan mulai menggeser status Marouane Fellaini sebagai deadwood.

Buruknya kualitas pemain cadangan juga merembet ke beberapa nama yang berstatus bintang. Romelu Lukaku dan Alexis Sanchez contohnya. Konsistensi mereka masih begitu diragukan. Lukaku tidak lagi mencetak gol sejak melawan Reading, sementara Sanchez nampak tidak bisa mengisi posisi Martial di sisi kiri pada pekan lalu.

Dari pandangan saya sebagai penulis, beberapa pemain nampak lebih kompak ketika bermain dengan pemain-pemain tertentu saja. Lukaku dan Sanchez terlihat lebih klop jika dibandingkan Lukaku-Rashford maupun Rashford-Sanchez seperti apa yang mereka tampilkan di King Power. Tentu hal ini tidak bagus bagi sebuah tim yang menuntut konsistensi dari semua pemainnya.

Setelah menghadapi Fulham, United akan bertemu PSG, Liverpool, dan Chelsea secara berturutan. Dalam laga-laga seperti ini, rotasi perlu untuk dilakukan. Tugas Ole sekarang adalah mengeluarkan potensi para pemain yang sebelumnya jarang mendapat kesempatan agar bisa bermain sebagus para pemain utama. Jangan sampai, ketergantungan terhadap pemain utama membuat United harus kehilangan salah satu dari Premier League, Piala Fa, dan Piala Champions.

Comments

Loading...