OUR NETWORK

Kritikan Keras Ibra untuk Manchester United dan Class of ’92

Zlatan Ibrahimovic dikenal sebagai sosok yang gemar membuat pernyataan yang nyeleneh. Komentarnya jujur, apa adanya, spontan, meski terkadang terasa menyakitkan. Seperti yang ia keluarkan beberapa waktu lalu. Ibra, yang biasanya jarang mengkritik United, kini memilih untuk memberikan komentar yang cukup pedas kepada mantan klubnya tersebut.

Baru-baru ini, Ibra mengkritik United yang dianggap tidak bisa berdamai dengan masa lalu. Kepada Mirror, Ia mengungkapkan kalau United masih terjebak dengan kisah indah bersama Sir Alex Ferguson. Ibra merasa kalau hal ini tidak akan membuat Setan Merah maju karena akan selalu dibanding-bandingkan dengan era Fergie.

“Entah kenapa, segala sesuatu yang terjadi di klub ini selalu disamakan dengan era Ferguson. Mereka mengatakan jika Ferguson ada di sini, maka hal ini tidak akan terjadi. Ferguson tidak akan melakukan hal seperti itu, tetapi Ferguson akan melakukan seperti ini,” tuturnya.

“Jika hal itu terjadi kepada saya, saya akan mengatakan kalau saya tidak butuh Sir Alex lagi. Dan saya datang ke sini (United) untuk membuat sejarah saya sendiri. Saya ingin membuat kisah saya sendiri. Jadi saya tidak ingin mendengar lagi apa yang terjadi sebelumnya kepada klub ini pada masa lalu. Yang paling penting adalah sekarang. Anda harus datang dengan mentalitas baru.”

Kritikan ini mungkin diarahkan Ibra kepada Ole Gunnar Solskjaer yang relasinya sangat dekat dengan Ferguson. Sejak ia menjadi caretaker Manchester United per Desember lalu, Ole memang mengubah beberapa kebijakan hingga membuat United terlihat seperti di era Ferguson dulu.

Ia mengubah kebiasaan pemain dalam berpakaian. Tidak hanya itu, Ole juga membawa Ferguson langsung kepada para pemain untuk memberikan saran sebelum menghadapi pertandingan. Bahkan tidak jarang Ole meminta saran dari Fergie untuk membahas soal taktik. Hal ini yang menurut Ibra tidak akan membuat United berkembang.

“Ferguson sudah memiliki tempat dalam sejarah klub ini tetapi klub harus terus berlanjut dan melangkah ke depan. Klub harus menemukan identitasnya sendiri dan itu memang sangat sulit,” ujarnya menambahkan.

Ibrahimovic juga merasa kalau keputusan Pogba pindah ke Juventus juga ada andil dari Ferguson. Dalam buku autobiografinya, Fergie menyebut kalau Pogba pindah karena tidak menghormati dirinya. Namun menurut Ibra, ada sesuatu lain di luar masalah hormat menghormati. Ibra sendiri memang dikenal dekat dengan Pogba dan kerap dianggap sebagai orang yang mampu mengontrol ego pemain Prancis tersebut.

“Pogba keluar dari United lalu kembali lagi. Dan di lingkaran Ferguson, mereka tidak menyukai Pogba. Karena mereka tinggal sepanjang hidup mereka di bawah naungan Ferguson. Mereka bahkan tidak berbicara jika Ferguson tidak menyuruhnya membuka mulut. Jadi sekarang jika para pemain ini berbicara, aku tidak tahu apakah Ferguson sudah memberikan mereka izin atau tidak.”

Sulit memang untuk keluar dari bayang-bayang manajer yang selama 26 tahun memberikan banyak sekali kesuksesan untuk klub. Seandainya ada yang salah dari klub ini, maka otak kita otomatis langsung mengingat kembali masa-masa kepelatihan Fergie untuk mencari solusi. Kata-kata seperti ‘kalau di era Fergie’ otomatis akan langsung keluar dari mulut kita sebagai penggemar.

Meski sudah pensiun 2013 lalu, keberadaannya juga masih sering terlihat di sekitaran Old Trafford dan Carrington. Hal ini yang dianggap memberikan beban kepada para penggantinya yang gagal untuk membangun dinastinya sendiri. Moyes adalah sebuah kesalahan. Van Gaal membosankan dan otoriter. Sedangkan Mourinho tidak sesuai dengan filosofi United. Semuanya memiliki kesamaan yang sama yaitu sama-sama tidak seperti Fergie.

Selain mengkritik United dan Ferguson yang terus membanding-bandingkan kisah sekarang dengan masa lalu, Ibra juga memberikan serangan kepada Class of 92 yang bekerja sebagai pundit. Menurut Ibra, para pundit ini sangat berlebihan ketika mengkritik United.

“Mereka sudah tidak ada lagi di klub ini. Mereka sekarang ada di TV dan terus mengeluh sepanjang waktu. Jika Anda memang ingin bekerja di klub, pergi dan carilah pekerjaan di klub. Jadi Anda tidak bisa lagi tampil di TV dan mengeluh serta mengkritik. Anda pasti punya waktu untuk melakukannya,” ujarnya.

Dalam hal ini, sasaran jelas mengarah kepada Gary Neville dan Paul Scholes, dua orang alumni Class of 92 yang bekerja di media. Gary sendiri sempat menyebut kalau ia kapok bekerja di klub sementara Paul Scholes baru saja mengundurkan diri dari Oldham meski baru 31 hari bekerja di klub tersebut.

Sumber: Mirror

Comments

Loading...