Buat para penggemar Manchester United yang masih berusia belasan tahun, Cristiano Ronaldo tak lebih sebagai mitos. Mereka tak cukup sadar untuk benar-benar memahami bagaimana Ronaldo dibentuk dan akhirnya menjadi pemain terhebat di dunia.

Era 2000-an adalah zaman yang serba cepat buat Manchester United. Usai bersaing ketat dengan Arsenal sejak dekade 1990-an, United mesti menghadapi kekuatan baru bernama uang. Lebih spesifiknya uang dari Rusia, yang menjadikan Chelsea mulai diperhitungkan di London.

United melalui dan menjadi saksi sejarah The Invincibles-nya Arsenal, si mulut besar-nya The Special One, sampai menyaksikan bangkitnya klub langganan degradasi di timur Manchester, yang kembali hidup karena uang Arab.

Selain dibikin deg-degan, era 2000-an menghadirkan kenangan manis buat para penggemar United. Salah satu aktor yang kerap disorot tak lain dan tak bukan adalah Cristiano Ronaldo.

Mewajarkan Cinta Ronaldo pada Manchester United

Setelah kontrak dan segala rupanya disepakati, Cristiano Ronaldo mengunggah tulisan di akun Fesbuk-nya yang diikuti 149 juta akun itu.

“Semua orang yang mengenalku, tahu tentang cinta tanpa akhirku untuk Manchester United. Tahun-tahun yang aku habiskan di klub ini yang sungguh amat luar biasa dan jalan yang kami buat bersama, tertulis dengan tinta emas dalam sejarah klub yang hebat dan luar biasa ini,” tulis Ronaldo.

Cinta Ronaldo untuk Manchester United pastilah masih ada. The Red Devils menjadi awal sekaligus alasan mengapa namanya dikenal seluruh dunia. Proses perekrutannya juga menghadirkan cerita yang cocok untuk dibikin naskah film: berawal dari latih tanding, Sir Alex Ferguson kemudian tertarik mendatangkannya. Setelahnya, semuanya adalah sejarah.

Di United, Ronaldo mendapatkan mental juara. Tiga juara liga ia dapatkan, serta satu gelar Liga Champions yang diraih dengan fenomenal. Di United pula, ia mendapatkan gelar sebagai pesepakbola terhebat di dunia lewat trofi Balon d’Or.

Di luar capaiannya di sepakbola, ia juga menjalani salah satu momen terberat dalam hidupnya. Fokusnya jelas terpecah ketika ayahnya tengah kritis di rumah sakit. Satu hal yang kemudian membuat cara pandangnya berubah adalah karena Sir Alex Ferguson yang dengan senang hati memberinya libur untuk menemani ayahnya, yang tak lama kemudian akhirnya berpulang untuk selamanya.

Secara permainan, United juga mengubahnya dari tukang gocek, tekuk sana tekuk sini, menjadi pencetak gol ulung. Lewat skema serangan balik, otaknya harus ia pakai dengan prima, agar hasilnya menjadi efektif. Lantas, menjadi hal yang lumrah ketika kita melihat ia, bersama dengan Wayne Rooney dan Park Ji-sung, melancarkan serangan balik yang berbuah gol buat MU. Sejak musim 2006/2007, jumlah golnya pun mencapai dua digit.

Aku bahkan tak bisa menjelaskan bagaimana perasaanku sekarang, sebagaimana aku menyaksikan kepulanganku ke Old Trafford diumumkan ke seluruh dunia. Ini seperti mimpi yang menjadi nyata, setelah sekian lama aku sempat bermain melawan Manchester United, dan bahkan sebagai lawan, aku selalu merasakan cinta dan rasa hormat dari para suporter di tribun. Ini benar-benar 100 persen hal yang terbuat dari mimpi!

Gelar liga domestik pertamaku, piala pertamaku, panggilan pertamaku ke timnas Portugal, gelar Liga Champions pertamaku, Golden Boot pertamaku, dan Balon d’ Or pertamaku, itu semua lahir dari koneksi spesial antara aku dan the Red Devils. Sejarah telah dicatat di masa lalu dan sejarah akan tertulis sekali lagi! Pegang ucapanku!

Aku di sini! 

Aku kembali ke tempatku yang seharusnya!

Mari kita wujudkan sekali lagi!

PS – Sir Alex, ini untukmu…

***

Cristiano Ronaldo akhirnya kembali. Ia sebenarnya tak perlu diperkenalkan, karena siapa pula yang tak mengenalnya?

Seperti pesan dalam aku Fesbuknya, yang perlu dilakukan Ronaldo hanyalah mengulangi sejarah dan tinta emas yang pernah ia torehkan bersama Manchester United. Sebuah tugas yang tak mudah, tapi bukan hal yang mustahil untuk terlaksana.

Satu hal yang berbeda dari 18 tahun lalu adalah usia. Kita tentu punya ekspektasi tinggi dengan kembalinya Ronaldo, berharap ia bisa menampilkan permainan yang sama di usia emasnya. Ronaldo mungkin tak keberatan, karena ia tak mau mengecewakan. Namun, pada akhirnya, semua harapan dan keinginan tidak tercipta untuk selalu dikabulkan.

Kalau pada akhirnya Ronaldo tak bisa seperti 18 tahun lalu, setidaknya kita masih diuntungkan: bahwa arah transfer Manchester United sudah kembali ke jalan yang benar. Dan romantisme kembalinya Ronaldo, bukan cuma menguatkan penjualan jersey United, tapi juga meneguhkan keyakinan dan harapan kita semua akan masa depan The Red Devils.