OUR NETWORK

Cara Sir Alex Ferguson Menangani Pemain Muda

Sudah kita ketahui bersama kalau Manchester United era Ole Gunnar Solskjaer akan lebih banyak bergantung kepada para pemain muda. Hal ini terlihat dari rataan skuad Setan Merah yang hanya 24 tahun ketika mereka mengalahkan Chelsea pada pekan pertama. Bahkan pemain tertua mereka dalam pertandingan tersebut adalah David de Gea yang usianya bahkan belum masuk 30-an.

Namun lambat laun, kebijakan pemain muda United era Ole mulai dipertanyakan. Hal ini seiring dengan rentetan hasil minor yang didapat dalam tiga laga setelahnya. Sederet alasan kemudian dibeberkan seperti tidak ada sosok senior hingga kemampuan para pemain yang mentok diangkat ke permukaan.

Dalam autobiografinya yang berjudul Leading, Sir Alex Ferguson sempat membahas secara singkat mengenai kebijakan yang menjadi ciri khasnya selama melatih United. Ketika itu, ia menyebut kalau pemain muda tidak cocok untuk diberi kesempatan main sesering mungkin. Alasan ini tidak jauh berbeda dari apa yang diungkapkan pada buku sebelumnya yaitu Managing My Life.

***

Sepanjang karir saya sebagai pelatih, saya selalu beranggapan bahwa kebijakan pembinaan pemain muda adalah hal yang sangat positif. Ini saya lakukan sejak saya masih melatih di Skotlandia dan saya lanjutkan ketika saya di Manchester United.

Anak-anak muda United di era saya sangat menjanjikan, seperti yang ditunjukkan oleh para seniornya yang meraih dua gelar pada 1994. Saya merasa, inilah posisi paling kuat klub sejak saya datang ke Old Trafford. Ada masa depan cerah dan alasan kuat bagi saya untuk optimis.

Kemajuan yang didapat anak muda itu begitu cepat, membuat saya memiliki banyak pemain cadangan berkualitas yang memadai. Kalaupun ada kemunduran prestasi, maka sifatnya hanya sementara saja.

Pada tahun 1993, saya mengontrak 8 pemain muda untuk tim senior MU. Penampilan mereka dua tahun berturut-turut di Piala FA junior meyakinkan saya, bahwa saya tidak keliru merekrut mereka ke tim utama. Tetapi yang menarik perhatian saya adalah kegigihan mereka untuk berusaha mendapat tempat di tim senior.

Di antara mereka ada yang transisinya cukup cepat. Ryan Giggs adalah salah satunya. Lalu ada Nicky Butt, Paul Scholes, Gary dan Phil Neville, Keith Gillespie dan David Beckham. Mereka semua saya andalkan besama para seniornya seperti Denis Irwin, Roy Keane, David May dan Brian McClair ketika bermain melawan Port Vale yang dimenangkan United 2-1 melalui dua gol Paul Scholes.

Perkembangan para pemain muda itu berlangsung sangat cepat. Disitulah saya harus memonitor perkembangan mereka secara hati-hati. Saya selalu menjaga mereka. Salah satunya adalah dengan tidak memberikan beban yang berlebihan pada mereka. Pengalaman ini saya dapatkan sejak melatih St Mirren dan Aberdeen.

Saat itu, banyak pemain muda yang bagus dan berbakat namun layu sebelum berkembang. Rata-rata karena mereka mendapat beban yang sangat berlebihan. Pelajaran ini yang tidak akan saya lupakan.

Pemain muda saya ibaratkan sebagai sesuatu yang bisa terbang tapi memiliki sayap yang tipis, seketika bisa tiba-tiba jatuh dan tidak tertolong. Biasanya, karena pelatih tergiur dengan penampilan mereka sehingga mereka ingin memainkannya secara terus-menerus. Itu adalah sesuatu yang berlebihan. Akibatnya, mereka jatuh terlalu dini.

Comments

Loading...