OUR NETWORK

Patrice Evra (1): Tentang Semangat dan Gairah yang Hilang dari Manchester United

Patrice Evra adalah seorang yang periang. Jika tidak percaya, tengok saja instagramnya. Setiap postingannya selalu disertai dengan aksi-aksi konyol dan tawa yang kemudian dilengkapi dengan jargon “I Love This Game”.

Namun pada Selasa kemarin, Evra mendadak menjadi sosok yang serius. Tidak ada tawa, tidak ada guyonan, melainkan kritik-kritik dari mantan bek kiri AS Monaco terkait penurunan Manchester United. Di sini Evra mengeluarkan semua uneg-unegnya yang ia pendam sejak meninggalkan klub ini 2014 lalu.

Berikut adalah wawancara Patrice Evra dengan Gary Neville terkait kondisi Manchester United musim ini yang dikutip dari Sky Sports. Rekap hasil wawancara ini kami bagi dua. Pada bagian pertama berisi komentar Evra terkait Manchester United dan Alexis Sanchez.

Saya harus bicara

“Sulit bagi saya untuk berbicara tentang Manchester United. Alasan saya tidak pernah berbicara tentang Unitd adalah karena itu menyakitkan. Saya meninggalkan klub karena alasan pribadi. Itu adalah momen yang sulit dalam hidup saya, meskipun saya memiliki salah satu pengalaman terbaik ketika bersama Juventus.”

“Hari ini saya ingin berbicara karena banyak orang tidak mengerti mengapa saya diam. Tentu saja, saya membuat beberapa video untuk mencoba memberi motivasi kepada pemain, saya memanggil para pemain, dan saya beberapa kali telah menonton pertandingan bersama Ed Woodward.”

“Saya terluka dengan situasi klub, saya pikir itu menyakitkan dan saya tidak ingin para penggemar dan orang-orang berpikir kalau saya tidak peduli. Oleh karena itu, saya harus bicara.”

Apa yang harus diperbaiki di Old Trafford?

“Saya akan mengatakan kalau yang hilang saat ini adalah semangat dan gairah dalam klub. Saya tahu kalau saya akan berbicara hal-hal yang ‘old school’. Saya tidak ingin menyalahkan para pemain karena saya merasa ada beberapa pemain yang berada di sini. Namun ada beberapa dari mereka yang tidak tahu mengapa mereka ada di sini.”

“Mereka tidak memiliki kepemimpinan di ruang ganti untuk menunjukkan kepada mereka semua apa artinya bermain untuk Manchester United. Saya ingat kalau saya bermain selama sembilan tahun untuk United dan selama tujuh tahun saya tidak merasa kalau saya kalah dalam dua pertandingan berturut-turut.

“Ketika saya bertemu Sir Alex Ferguson dan David Gill di AS Monaco, saat mereka mewawancarai saya, mereka memberikan pertanyaan seperti ‘Apakah Anda siap untuk tidak kalah dalam pertandingan?’ dan ‘Apakah Anda siap untuk dikritik ketika Anda bermain biasa-biasa saja?’ Anda butuh figure seperti mereka agar tahu apa yang akan Anda wakili. Masalahnya sekarang adalah klub ini tidak bermasalah hanya di dalam lapangan melainkan juga di luar lapangan.”

Masalah apa itu?

“Saya harus jujur Gary, saya mencintai mereka semua. Saya sering melihat mereka ketika saya datang menyaksikan pertandingan. Saya beberapa kali mengunjungi mereka di ruang ganti dan memotivasi mereka. Mereka semua tahu betapa cintanya saya. Tapi sebutkan satu atau dua nama yang pantas bermain untuk Real Madrid, Juventus, atau Bayern Munich? Hanya ada beberapa. Tanpa mengurangi rasa hormat, hanya De Gea dan Pogba saja yang bisa.

Lalu bagaimana dengan Alexis Sanchez?

“Beberapa pemain saya rasa ke klub ini hanya untuk mencari uang. Saya tidak takut untuk berkata seperti itu. Saya tidak mempermasalahkannya, tetapi ketika Sanchez menjalin kesepakatan dengan gaji termahal, saat itu saya merasa kalau sejarah klub ini sudah menurun. Dia bisa ke Manchester City, yang menawarkan sedikit uang tetapi dengan sepakbola yang lebih baik daripada United. Saya minta maaf atas ucapan saya, tetapi City punya sepakbola yang lebih baik. Guardiola bisa meningkatkan permainannya.”

“Jadi saya ingin tahu apa alasannya memilih United. Jangan bilang hanya karena dia mencintai klub ini semasa kecil. Entah karena uang atau dia memang ingin menjadi yang nomor satu, makanya dia mengambil baju nomor tujuh dan menjadi bintang.”

Comments