OUR NETWORK

Andy Mitten: Inkonsistensi Solskjaer Membuat Suporter Manchester United Khawatir

Manchester United kembali bangkit dari kekalahan dengan mengalahkan Everton dengan skor 3-1 di di Goodison Park pada pekan lalu. Namun, hasil positif ini sebetulnya memiliki kesan lain. Justru dengan kemenagan ini, penampilan United dinilai tidak konsisten di bawah manajer Ole Gunnar Solskjaer.

Bahkan menurut salah satu editor media sepakbola, Andy Mitten, inkonsistensi United di bawah asuhan Solskjaer akan terus membuat para suporter khawatir. Meskipun sebetulnya, setelah kekalahan beruntun dari Arsenal dan Istanbul Basaksehir, tim Solskjaer bangkit dan meraih kemenangan di kandang Everton.

Hal ini sempat mengurangi tekanan pada manajer Norwegia itu. Kemenangan atas Everton ini juga merupakan kemenangan tandang ketujuh berturut-turut United di Premier League. Tapi perlu diingat, performa buruk mereka di kandang sudah membuat mereka berada di urutan ke-14 klasemen sementara setelah tujuh pertandingan.

Hasil dari penampilan pasukan Setan Merah malah dinilai masih tidak konsisten. Ada indikasi bahwa inkonsistensi sudah menjadi sesuatu yang seolah terlalu akrab di bawah kepemimpinan Solskjaer. Meskipun pihak klub sendiri tidak memiliki rencana untuk mengganti manajer, tapi beberapa suporter United semakin frustrasi dengan itu semua.

“Saya tidak berpikir dia akan kehilangan pekerjaannya dari hasil apa yang bakal dia dapat di Goodison Park. Tetapi dia memang membutuhkan kemenangan. United mengalami minggu yang buruk dengan kekalahan kandang melawan Arsenal dan kekalahan di Istanbul,” ujar Andy Mitten kepada Sky Sports News.

“Itu adalah bentuk ketidakkonsistenan yang membuat khawatir suporter Manchester United. Tim yang bisa pergi ke Paris Saint-Germain dan menang di sana, lalu bisa begitu meyakinkan di kandang RB Leipzig, kemudian bisa kalah dalam dua pertandingan.”

“Jadi kekhawatiran itu belum hilang, dan itu juga membingungkan karena United telah memenangkan tujuh pertandingan tandang berturut-turut di Premier League sekarang. Hanya sayangnya, mereka tidak bisa menang di kandang,” tambah editor United We Stand tersebut.

“Mereka belum pernah menang selama tujuh pertandingan kandang, tapi jika mereka pergi bertandang malah itu tidak ada masalah. Saya pikir suporter United dapat terpecah belah karena Ole Gunnar Solskjaer masih menjadi pelatih klub. Dia masih mendapat banyak dukungan, tapi ada kekhawatiran dan mereka tidak akan naif dengan itu.”

Di sisi lain, Ole Gunnar Solskjaer sempat marah dengan mengkritik jadwal Premier League setelah United menang atas Everton. Ia dengan jujurnya mengklaim bahwa timnya “akan gagal” dengan jadwal itu. Karena baginya, United sudah melakukan perjalanan jauh (ke Turki) pada hari Rabu sebelum menghadapi Everton di Goodison Park pada awal akhir pekan.

Meskipun hasilnya positif dan Setan Merah berhasil membawa pulang tiga poin, tapi Solskjaer masih mengecam apa yang disebutnya sebagai “jadwal lelucon”. Jadwal yang juga membuat para pemainnya seperti Luke Shaw (hamstring), Victor Lindelof (punggung) dan Marcus Rashford (bahu) mengalami cedera.

Menanggapi ini, Andy Mitten menambahkan jika kemarahan Solskjaer itu wajar. Karena memang penetapan jadwal kick-off pertandingan United melawan Everton tidak seperti klub-klub lainnya. Pertandingan itu dimainkan di jam-jam makan siang, di mana waktu ini biasanya dipakai untuk istirahat.

“Poin Ole tentang jadwal itu adalah waktu kick-off. Dia secara pribadi mengomel tentang ini selama berminggu-minggu. Dia kembali dari Istanbul dan merasa tidak punya waktu untuk menempatkan para pemainnya melalui sesi latihan yang tepat. Itu adalah respon yang wajar,” pungkas Andy Mitten.

“Sebuah perbandingan juga terjadi pada Chelsea, yang juga pernah bermain di waktu tengah pekan. Hanya saja bedanya, kick-off Chelsea adalah pukul 5.30 sore. Mereka masih bisa menjalani sesi latihan penuh. Jika saya yang kembali dari Istanbul, maka saya hancur. Saya juga tidak bisa menghabiskan Rabu malam dengan mengejar-ngejar Demba Ba.”

Intinya, Manchester United saat ini masih berada dalam siklus naik turun. Inkonsistensi masih melekat pada mereka. Mungkin, kemenangan Setan Merah atas Everton setelah mengalami dua kekalahan beruntun memang bisa dinilai bagus. Apalagi kemenangan itu terjadi ketika Ole Gunnar Solskjaer sedang mendapat banyak tekanan.

Tapi apakah skenario seperti ini akan terus dan perlu terjadi lagi ke depannya?

Comments

Loading...