OUR NETWORK

Mengatasi Masalah dengan Membeli Aaron Wan Bissaka

Manchester United sudah resmi mengumumkan kalau Ole Gunnar Solskjaer akan menjadi manajer permanen mereka dalam tiga tahun kedepan. Keputusan ini jauh lebih cepat karena banyak rumor yang beredar kalau pria asal Norwegia tersebut baru akan diresmikan setelah musim 2018/2019 berakhir.

Diangkatnya Ole dua bulan sebelum musim berakhir, bukanlah tanpa alasan. Di sisa musim ini, Ole diharapkan bisa mengasah taktiknya yang dianggap masih belum mumpuni untuk tim sekelas Setan Merah. Selain itu, Ole punya waktu untuk mencari pemain mana saja yang akan ia rekrut untuk memenuhi ambisinya meraih Premier League pada musim depan.

Berbicara soal transfer United musim depan, Ole menginginkan segala transaksi sudah beres sebelum tim berangkat ke Perth untuk melakoni pra musim. Selain itu, ia dikabarkan akan memilih merekrut pemain muda berkualitas ketimbang mencari bintang di usia emas layaknya Louis van Gaal dan Jose Mourinho. Satu nama sudah dihubung-hubungkan akan menjadi buruan utama United. Dia adalah penggawa Crystal Palace, Aaron Wan-Bissaka.

Sektor bek kanan adalah tempat yang ingin diselesaikan oleh Ole. Sejak 2014, United sudah tidak memiliki bek kanan mumpuni. Beberapa nama silih berganti datang dalam wujud Giulermo Varela dan Matteo Darmian. Akan tetapi, dua nama ini tidak terlalu memuaskan sehingga posisi ini terpaksa kembali diisi oleh Ashley Young dan Antonio Valencia. Nama Wan Bissaka nantinya diproyeksikan sebagai bek kanan utama sembari menunggu Diogo Dalot yang pada musim ini penampilannya masih dalam taraf lumayan.

Tidak sulit nampaknya bagi United untuk merekrut pemain berusia 21 tahun tersebut. Meski masih terikat kontrak bersama Palace hingga 2022, Aaron hanya memiliki nilai di pasaran sebesar 40 juta poundsterling saja. Sebuah angka yang tidak terlalu mahal bagi klub sekaliber United yang berani membayar Marouane Fellaini lebih mahal dari harga aslinya.

Pemain kelahiran Craydon ini sebenarnya adalah seorang winger. Sejak usia 11 tahun, ia lebih sering menyerang melalui sisi tersebut. Badai cedera yang mendera Palace pada Februari 2018 membuat Roy Hodgson mulai memainkannya sebagai bek kanan. Tak disangka, Aaron selalu tampil bagus dalam tiga pertandingan awal melawan Spurs, United, dan Chelsea meski pada akhirnya Palace selalu kalah melawan tiga tim tersebut.

Tampil menjanjikan membuat Hodgson mulai mempertimbangkan untuk memainkannya sebagai bek utama. Ia kemudian menggusur Timothy Fosu Mensah yang sebelumnya adalah bek kanan utama Palace. Aaron ternyata lebih menjanjikan ketimbang pemain pinjaman United tersebut.

Sejak saat itu, namanya tidak tergantikan di sisi kanan. Puncaknya tentu saja pada musim ini ketika ia hanya absen dalam tiga pertandingan saja. Itu juga dikarenakan akumulasi kartu dan cedera hamstring. Betapa bagusnya penampilan Aaron bisa dilihat dari keberhasilannya memborong tiga kali berturut-turut gelar pemain terbaik klub pada bulan Agustus, September, dan Oktober.

Salah satu kelebihan Wan Bissaka adalah tekelnya yang cukup merepotkan penyerang lawan. Ia rata-rata membuat 3,9 tekel per laga. Di Premier League, catatan ini hanya kalah dari gelandang Everton, Idrissa Gueye soal rata-rata percobaan tekel. Namun akurasi keberhasilan tekel Aaron mencapai 73% atau yang terbaik di liga Inggris. Selain itu, ia sudah membuat 62 intersep, 162 kali memulihkan penguasaan bola, memenangi 210 duel satu lawan satu, 38 kali memenangi duel udara, dan membuat 93 sapuan.

“Selama dia bermain, ia baru membuat kesalahan pada menit ke-94, dan saya merasa lega karena saya mulai berpikir kalau dia adalah robot, kata Roy Hodgson.

Konsistennya penampilan Aaron tidak lepas dari pengalamannya menghadapi pemain-pemain kelas dunia. Berkutat di sisi kanan otomatis mempertemukan dirinya dengan pemain-pemain hebat seperti Eden Hazard, Marcus Rashford, dan beberapa pemain lainnya. Nama-nama tadi adalah korban dari keganasan Aaron.

Penulis tidak bisa melupakan ketika Aaron bermain melawan United pada musim lalu. Ketika itu, United yang selalu mengandalkan sisi kiri untuk menyerang tidak bisa menembus lini belakang karena pengawalan Aaron. Beberapa kali tekelnya membuat Rashford tidak banyak bergerak. Beruntung United bisa mencetak gol setelah memindahkan serangannya ke sisi kanan.

Dikutip dari Squawka pada Februari lalu, hanya ada tujuh pemain yang bisa melewati Aaron. Dia adalah Leroy Sane, Bernardo Silva, Sadio Mane, Felipe Anderson, Luciano Vietto, Johann Berg Gudmundsson, dan Stuart Armstrong. Segala catatan ini menegaskan kalau Aaron pandai dalam membaca pertandingan dengan baik. Selain kemampuan teknis, ia juga ditunjang fisik yang kokoh sehingga lawan tidak mudah untuk mengalahkannya.

Satu hal yang mungkin menjadi nilai minus seorang Aaron adalah aspek menyerangnya yang tidak terlalu bagus. Ia dikenal sebagai bek sayap yang jarang naik melakukan overlap. Musim ini, ia baru membuat tiga asis saja ketika mengalahkan Fulham, Burnley, dan West Bromwich Albion. Akan tetapi, itu semua tidak menghapus kehebatan Aaron ketika mengawal lini belakang.

Selain masuk dalam radar United, Aaron sudah dipantau untuk memperkuat tim nasional Inggris. Gareth Southgate beberapa kali kerap menyaksikan dirinya bertanding ketika membela Palace. Kehadirannya tentu memberikan variasi di sisi kanan yang sudah terlebih dahulu diisi Trent Alexander Arnold dan Kyle Walker.

Sosok Aaron saat ini belum terlalu banyak mendapat sorotan media. Hal ini memberikan kesempatan kepadanya untuk terus bekerja keras agar bisa menjadi pemain hebat di masa yang akan datang. Hal ini juga memudahkan United yang sejauh ini masih menjadi peminat utama pemain yang memiliki darah Kongo tersebut. Bagi Setan Merah, sosok seperti Aaron bisa mengatasi masalah mereka yang tidak memiliki bek kanan tangguh setelah Gary Neville.

Comments

Loading...