OUR NETWORK

Haruskah Manchester United Membawa Pulang Wilfried Zaha?

Untuk menyambut musim 201920/20, Manchester United dikabarkan siap untuk melakukan perombakan besar-besaran dalam skuadnya. Meski fokus mereka masih berkutat pada lini belakang, namun tidak tertutup kemungkinan kalau mereka akan merekrut beberapa pemain depan. Beberapa nama berpotensi masuk dalam daftar jual agar bisa memberikan kepada tempat bagi para pemain baru. Salah satunya adalah Alexis Sanchez.

Pemain asal Cile ini dianggap gagal memakai nomor tujuh yang keramat di United. Kontribusinya tidak terlalu produktif selama setahun lebih memperkuat Setan Merah. Ia bahkan memicu kecemburuan kepada para pemain lain terkait gaji besar yang ia dapat. United berniat untuk menjualnya demi memberikan tempat. Tempat itu kemungkinan besar akan diisi oleh mantan pemainnya, Wilfried Zaha.

United memang dikabarkan akan mendatangkan salah satu mantan pemain mereka pada musim panas nanti. Lupakan Cristiano Ronaldo atau Gerard Pique, nama-nama yang beredar di berita justru Memphis Depay, Adnan Januzaj, dan Wilfried Zaha. Nama terakhir menjadi calon kuat karena sudah mengenal kultur Premier League.

Zaha adalah warisan terakhir Sir Alex Ferguson sebelum beliau pensiun. Fergie tertarik kepada permainannya terutama saat Zaha menjadi inspirator dalam kemenangan Palace melawan United pada perempat final Piala Liga semusim sebelumnya. Saat itu, Zaha diprediksi akan sukses dan menjadi pemain terbaik United.

“Bakat Wilf akan menghadirkan kemenangan di divisi teratas dan ia akan membantu Manchester United memenangi pertandingan bersama manajer anyar (David Moyes) musim depan. Sepakbola adalah permainan yang singkat, tapi bakat Wilf akan berada cukup lama di sini,” kata mantan pelatih Palace, Ian Holloway.

Peluang Zaha untuk bersinar terbuka lebar. Ia datang saat kondisi United tidak lagi memiliki pemain sayap tangguh seperti era David Beckham dan Ryan Giggs. Ketika ia tiba, Giggs sudah berada di penghujung karier. Sementara Nani, Ashley Young, dan Antonio Valencia kerap keluar masuk ruang perawatan. Saat meraih gelar liga terakhir mereka, Fergie bahkan memaksimalkan peran Rooney dan Kagawa sebagai pemain sayap.

Akan tetapi, harapan Holloway tidak kesampaian. Zaha justru tidak memberikan kontribusi apa pun kepada klub anyarnya tersebut. Penampilannya tidak sesuai ekspektasi yang menunjukkan kalau ia layak dihargai 10 juta paun. Ia bahkan dirundung beberapa pemberitaan negatif. Salah satunya adalah ketika ia diisukan memacari anak David Moyes sehingga membuatnya jarang mendapatkan kesempatan. Hal ini yang membuat dirinya tidak betah mendapat sorotan negatif. Ia bahkan menganggap kalau Manchester United lebih pantas disebut neraka alih-alih klub sepakbola.

“Masalah itu (memacari anak Moyes) menjadi semakin panas karena tidak ada seorang pun yang mengenal saya di United berusaha untuk menyelesaikannya. Jadi saya bertarung sendirian dengan rumor yang tidak benar itu. Saya masih 19 tahun dan saya tinggal sendiri di Manchester. Saya seperti tinggal di ‘neraka’ sendirian. Saya tidak kuat untuk melanjutkannya.

Kelahiran Kembali Zaha

Statistik Zaha pada musim 2018/2019 meningkat dibanding musim sebelumnya. Bermain 29 pertandingan, ia berkontribusi dalam 16 gol Crystal Palace di semua kompetisi (delapan gol dan delapan asis). Angka ini jauh lebih baik dibanding musim 2017/2018 ketika Zaha hanya berkontribusi dalam 14 gol saja. Mengingat musim ini belum berakhir, maka ia punya peluang untuk menambah pundi-pundi gol dan asisnya demi membawa The Eagles menempati posisi 10 besar.

Catatan ini bahkan jauh lebih baik dibanding para pemain United lainnya yang memiliki peran yang sama sebaga winger. Alexis Sanchez hanya membuat dua gol dan empat asis di semua kompetisi. Jesse Lingard hanya lima gol dan empat asis. Anthony Martial bahkan hanya membuat 12 gol dan empat asis. Selain Sanchez, para pemain United yang disebutkan tadi bermain dalam jumlah pertandingan lebih banyak dibanding Zaha.

Solskjaer sendiri dikabarkan tertarik untuk membawa Zaha kembali pulang. Keduanya pernah bekerja sama di Cardiff pada Januari 2014. Saat itu, keduanya adalah orang baru di Wales. Ole datang menggantikan Malky Mackay sementara Zaha dipinjam dari United. Meski kerja sama keduanya gagal saat itu, namun Ole yakin Zaha kali ini sudah berbeda dibanding saat di Cardiff dulu.

Zaha akan sangat berguna apabila United benar merekrutnya. Terutama dari segi pengalaman bermain di Premier League. Dibandingkan Adnan Januzaj dan Memphis Depay, Zaha tentu sudah makan banyak pengalaman mengatasi permainan level kompetisi. Selain itu, penampilannya jauh lebih konsisten dibanding Memphis Depay dan Adnan Januzaj pada musim ini.

Fokus di Crystal Palace

Akan tetapi, United nampaknya harus kerja keras untuk mendatangkan Zaha. Hal ini tidak lepas dari keinginan si pemain yang masih ingin bermain lebih lama lagi bersama si Elang. Ia masih mempunyai kontrak hingga 2023.

“Masa depan saya di Palace. Saya tidak memikirkan apa-apa lagi. Saya hanya ingin bermain sepakbola dan saya bisa melihat masa depan saya.

Komentar Zaha tersebut adalah balasan dari ucapan manajernya, Roy Hodgson beberapa waktu lalu. Ia menyebut kalau Zaha (dan Aaron Wan-Bissaka) bisa dijual pada akhir musim jika ada tawaran yang sesuai.

Melihat komentar Zaha, nampak ada rasa trauma yang membayangi dirinya. Ia mungkin khawatir kalau kembali bermain di United, ia tidak sanggup menahan beban ekstra yang digaungkan oleh para pendukung mereka. Belum lagi pemberitaan negatif yang bisa menyerangnya seperti yang pernah terjadi lima tahun lalu.

Para penggemar United mungkin tidak akan sudi untuk menerima Zaha kembali. Alasannya jelas karena ucapannya yang menyebut United sebagai ‘neraka’. Namun tetap saja, pilihan kini ada di tangan Solskjaer dan jajarannya karena mereka yang menentukan siapa saja yang layak untuk didatangkan pada musim depan.

Comments