OUR NETWORK

Cerita Alexander Buttner Tentang Kariernya di Manchester United

Tidak banyak pemain yang memiliki jalan karier yang unik seperti Alexander Buttner. Berawal dari klub kelas menengah Belanda yaitu Vitesse, laju karier pemain Belanda ini langsung mencuat ketika secara mengejutkan ia dibeli oleh Sir Alex Ferguson.

Entah apa yang merasuki relung hati Sir Alex Ferguson. Perekrutan Buttner saat itu bisa dibilang tanpa rencana karena United sebenarnya lebih memusatkan perhatian mereka untuk mencari sosok gelandang dan pemain depan. Buttner sendiri sebenarnya sudah punya ancang-ancang ke Inggris namun tujuannya adalah klub promosi, Southampton.

Buttner pun mengenang momen-momen ketika bayangan dia mengenakan jersey merah-putih khas Southampton berubah menjadi merah seluruhnya yaitu merah United dengan pola kotak-kotak.

“Saya berbicara dengan banyak klub di Inggris setelah menjalani musim yang baik di Belanda. Lalu suatu hari Ferguson memanggil agen saya dan membahas Manchester United. Jika Anda bisa memilih untuk bermain di United, maka itu pilihan yang baik. Hanya dua hari berada di Inggris, agen saya berkata kalau saya adalah bek kiri kedua di United setelah Patrice Evra,” tuturnya kepada Manchester Evening News.

“Hari pertama saya di Manchester, Robin van Persie juga baru datang dan saya selalu bersamanya setiap hari. Namun setelah satu minggu, setiap pemain bahu membahu untuk membantu pemain muda seperti saya. Pemain-pemain seperti Scholes dan Giggs membuat adaptasi saya menjadi tidak sulit.”

Seperti yang ia utarakan sebelumnya, pembelian Buttner memang ditujukan untuk mengisi kekosongan Patrice Evra yang pada musim-musim sebelumnya bisa bermain hingga 40 pertandingan tanpa istirahat. Sosoknya dianggap jauh lebih tepat untuk menjadi pelapis ketimbang Fabio yang lebih lama berada di United.

Fergie menilai Buttner sebagai sosok yang kecil, berani, tekun, dan seorang petarung. Atribut-atribut yang juga berada dalam diri seorang Patrice Evra. Inilah yang membuatnya rela meminjamkan kembaran Rafael tersebut ke QPR dan mengisi kekosongan dengan Buttner.

“Satu atau dua hari saya di sana penuh intimidasi. Anda bisa bayangkan ketika Anda duduk di sebelah Nemanja Vidic dan Wayne Rooney. Lama kelamaan saya mulai berlatih secara biasa dan belajar dari mereka. Beruntung saya punya Patrice Evra yang membantu saya setiap hari. Ketika Anda punya guru seperti Evra, Anda bisa menjadi pemain yang jauh lebih baik.”

“Dia pria yang baik. Liga ini memang liga yang sulit, jadi dia membantu saya dan setelah latihan saya memilih untuk dekat dengannya dan melakukan beberapa latihan tambahan, jadi saya memiliki segalanya untuk membantu saya.”

“Bahkan ketika saya bermain dan dia tidak bermain, dia masih mau membantu saya.”

Gol Debut Bersejarah

Dari 28 pertandingan yang dijalani Buttner bersama Setan Merah, dia hanya mencetak dua gol. Namun kisah dari dua gol tersebut sangat berkesan. Gol pertamanya dibuat dalam laga debutnya bersama United. Gol keduanya bahkan datang pada pertandingan terakhir Sir Alex Ferguson. Dua gol itu yang membuat namanya semakin dikenal.

“Segera setelah saya melakukan debut bersama Manchester United dan mencetak gol ke gawang Wigan Athletic, semua orang kemudian mulai mengenali saya. Saya pikir hal itu sangat bagus bagi perasaan saya.”

Tidak hanya mencetak gol, namun Buttner juga mendapat predikat sebagai man of the match. Mendapatkan gelar pemain terbaik laga bersama tim sekelas Manchester United jelas merupakan sebuah pencapaian tertinggi yang membuat citra seorang Buttner semakin berkilau.

“Ketika orang mulai mengenali Anda dan ingin berfoto bersama Anda, maka itu pertanda kalau Anda sudah melakukan pekerjaan dengan baik.”

“Klub ini klub yang besar. Anda bisa merasakan sejak tiba. Ketika saya datang, orang-orang sudah mengenali saya bahkan sebelum saya tanda tangan kontrak. Sepakbola adalah kehidupan di Inggris dan saya senang bsia menjadi bagian mereka.”

Musim Penuh Gejolak Bersama David Moyes

Namun seperti yang sudah kita ketahui bersama kalau peran Buttner benar-benar menonjol hanya pada musim pertamanya berbaju merah. Ketika klub beralih dari Sir Alex Ferguson ke David Moyes, seketika itu juga prestasi United mulai mengalami penurunan.

Hasil-hasil di lapangan mulai tidak berpihak. Beberapa individu pun mengalami penurunan dari segi permainan. Salah satunya adalah Buttner. Musim keduanya berjalan buruk. Tidak ada lagi pujian seperti sebelumnya, yang ada hanyalah rasa gemas para penggemar ketika melihat ia berada di atas lapangan. Tidak ada lagi umpan-umpan silang atau aksi overlap yang memukau. Crossing antar galaksi kini yang ia perlihatkan di depan Old Trafford.

“Saya tidak tahu apa yang salah pada musim kedua saya. Jika tim tidak bermain bagus, maka itu bukan hanya kesalahan pelatih. Namun Anda juga harus melihat dalam diri Anda. Ferguson pelatih hebat, begitu juga dengan Moyes. Kami memang memiliki pertandingan yang sulit tapi saya sangat suka bermain di bawah arahannya.”

Dikenang Sebagai Juara

Musim pertama Buttner berjalan epik. Tidak hanya karena mencetak gol dalam debut dan mencetak gol dalam laga ke-1500 Sir Alex Ferguson. Namun ia juga mendapat trofi Premier League. Satu-satunya gelar tertinggi yang pernah ia dapat sepanjang karier.

Saat itu, Buttner hanya menjalani lima laga saja di Premier League. Premier League memiliki syarat kalau seorang pemain harus mendapatkan caps minimal 10 di liga untuk mendapatkan medali kejuaraan. Namun atas permintaan khusus Sir Alex Ferguson, Buttner mendapatkan medali tersebut.

Yang menarik, namanya bisa menjadi bahan bagi akun-akun penyedia jasa troll di sepakbola. Apa yang diraih Buttner tidak bisa diraih pemain lain. Steven Gerrard adalah salah satunya yang hingga akhir karirnya ia tidak bisa mengangkat trofi Premier League sekali saja. Buttner jauh lebih dikenang sebagai pemenang ketimbang Gerrard.

“Saya bangga hal itu (juara Premier League dan mengalahkan Gerrard). Jika Anda memenangkan gelar Premier League, itu adalah momen yang besar. Momen terhebat saya karena Gerrard adalah pemain yang luar biasa dan salah satu yang terbaik di dunia.”

“Itulah sebabnya saya senang dengan karier saya di United. Bermain di sana dua tahun, memainkan banyak pertandingan untuk pemain seperti saya yang datang dari liga Belanda. Tidak boleh ada yang mengambil kebahagiaan itu seperti saya.”

Comments

Loading...