OUR NETWORK

MU vs Liverpool yang Membosankan

6 Oktober 1991 adalah kali terakhir duel antara Manchester United menghadapi Liverpool berakhir imbang tanpa gol. Hampir 28 tahun berselang, skor serupa kembali terjadi saat Iblis Merah menjamu rival abadinya tersebut dalam Northwest Derby ke-230. Hasil yang membawa Liverpool kembali ke atas sekaligus hasil yang merugikan bagi tuan rumah karena harus keluar dari zona Liga Champions.

Sepanjang 90 menit, pertandingan berjalan tidak sesuai ekspektasi para penggemarnya. Tidak ada jual beli serangan, tidak ada adu taktik antara dua pelatih muda yang berbeda pengalaman, tidak ada intrik-intrik menarik layaknya adu cekik Gary Neville melawan Jamie Carragher di masa lampau.

Padahal laga berlangsung cukup keras. Ada 32 pelanggaran yang terjadi. Empat kartu kuning keluar dari saku Michael Oliver. Namun kerasnya tensi pertandingan tidak diiringi dengan aksi menghibur kedua kesebelasan. Mereka justru menampilkan permainan yang cenderung hati-hati. Hanya ada empat tendangan ke gawang saja dari dua kesebelasan (3 milik United dan 1 milik Liverpool) yang menandakan bingungnya dua tim yang mengaku sebagai kolektor gelar terbanyak di Inggris saat ini.

Setan Merah turun dengan formasi 4-3-1-2 dan bertahan dengan pola 4-4-2. Strategi ini berhasil meredam perlawanan Chelsea pada Piala FA enam hari sebelumnya. Perubahan besar terjadi ketika Matic diberitakan mengalami cedera yang cukup parah saat latihan. Tempatnya kemudian digantikan oleh Scott McTominay. Formasi diamond di lini tengah dipakai dengan Mata yang bergerak sebagai Attacking Midfielder.

Sementara Liverpool memainkan 4-3-3 dengan Jordan Henderson, Fabinho, dan Giorginio Wijnaldum sebagai pemain tengah. Pengubahan menarik dibuat Klopp dengan memainkan James Milner sebagai fullback kanan ketimbang Trent Alexander-Arnold.

Diganggu Cedera

Seperti biasa, United akan mencoba mengeksploitasi sayap dari lawannya dengan melakukan serangan balik cepat. Dalam hal ini, sisi kiri serangan United masih menjadi tumpuan utama. 47,2% serangan United musim ini datang dari posisi yang kali ini diisi oleh Paul Pogba bersamaan dengan Luke Shaw.

Namun Klopp nampaknya sukses meredam serangan United. Keberadaan Milner membuat sisi kiri penyerangan United menjadi mati kutu. Tidak ada satu pun umpan silang yang datang dari sisi ini. Pressing dari Fabinho, Wijnaldum, dan Henderson di lini tengah juga sukses mengacaukan proses build up serangan United.

Sulitnya United menembus Liverpool justru diperparah dengan tumbangnya satu per satu pemain mereka. Ander Herrera keluar pada menit ke-21. Empat menit kemudian, Juan Mata menyusul Herrera. Dua menit sebelum babak pertama kelar, giliran Jesse Lingard yang harus ke ruang perawatan. Apesnya, Lingard sebenarnya baru saja masuk menggantikan Mata. Cedera juga yang mengurangi agresifitas seorang Marcus Rashford.

Yang menarik, United justru mendapat beberapa peluang selepas kehilangan tiga pemainnya. Salah satu yang membahayakan adalah umpan terobosan Lukaku kepada Lingard yang masih diblok oleh Alisson. Itulah satu-satunya kesempatan berbahaya United sepanjang 45 menit pertama.

Pertahanan Solid Menolong United

Pada babak kedua, United tetap tidak bisa berbuat banyak. Mereka kesulitan melakukan build up dari lini tengah karena jarak antar pemain yang terlalu jauh. Terpisahnya jarak yang cukup menganga ini memudahkan para pemain Liverpool untuk memutus aliran serangan mereka. Belum lagi melihat Marcus Rashford yang gampang sekali kehilangan bola karena terus menerus dipepet serta kondisi kakinya yang sudah tidak optimal.

Tidak leluasanya Rashford membuat United mengubah alur serangan mereka ke sisi sayap sebelah kanan. Ashley Young langsung mengirimkan bola-bola panjang ke arah Romelu Lukaku yang bermain melebar.

United sendiri beberapa kali sukses memanfaatkan terlambatnya Andy Robertson kembali dari tugasnya menyerang. Tak ayal. dari sisi inilah United justru lebih banyak membuat key pass salah satunya umpan Lukaku yang luput dari kaki Smalling. Sudah lelahnya Rashford membuat serangan United berujung tidak efektif.

Satu hal yang membuat United bermain pragmatis adalah jarak para pemain tengah dengan pemain depan yang cukup jauh. Hal ini diperparah dengan kemampuan McTominay dan Pereira yang tidak terlalu bagus dalam membangun serta mengubah alur serangan layaknya Matic dan Herrera. Apalagi Fabinho yang bermain baik dengan 10 kali memulihkan penguasaan bola yang membuat build up Setan Merah langsung terputus di tengah yang membuat United lebih fokus mengurus lini pertahanan ketimbang lini serang.

Sayangnya, kesuksesan lini belakang dan tengah Liverpool tidak diimbangi dengan lini depan mereka yang terkunci rapat oleh pemain bertahan United. Inilah satu-satunya hal yang bisa dibanggakan United dari laga semalam. Luke Shaw sukses mengunci pergerakan Mohamed Salah yang dalam beberapa pertandingan terakhir menjadi tempat mereka mendulang peluang.

Blok rendah United membantu mereka dari tidak kebobolan. Meski kalah penguasaan bola, namun serangan Liverpool tidak terlalu membahayakan David De Gea. Masuknya Divock Origi, dan Xherdan Shaqiri juga tidak terlalu banyak membantu karena United yang kadung bertahan sangat dalam hingga membuat seluruh skuad Liverpool bermain kebingungan. Akan tetapi, tetap saja solidnya pertahanan United tidak diimbangi dengan kualitas serangan mereka yang membuat jalannya laga ini terasa membosankan.

Kesimpulan

Hasil imbang tanpa gol terbilang cukup adil jika melihat permainan kedua kesebelasan. Kedua kesebelasan sama-sama tidak bisa menyerang lawannya karena dua hal yang berbeda. Liverpool terkendala defense United yang bermain rapi dan solid, sementara pertahanan Liverpool tertolong oleh build up serangan United yang tidak terlalu membahayakan karena kehilangan banyak sekali pemain pilar.

Yang menarik adalah bagaimana melihat respon seorang Ole ketika skuadnya berada dalam situasi gawat. Herrera, Matic, Mata, Lingard, dan Martial, diprediksi belum akan sembuh dalam waktu dekat. Bahkan cedera hamstring bisa membutuhkan waktu yang cukup lama untuk penyembuhan. Dalam momen seperti inilah, kapasitas seorang Ole Gunnar Solskjaer dalam meracik timnya diuji. Hal ini bisa menjadi tes kelayakan apakah dirinya pantas dipermanenkan atau tidak. Namun yang pasti, pada pertandingan melawan Crystal Palace nanti, United akan tampil dengan wajah yang berbeda.

Selain itu, kejadian di Old Trafford kemarin menjadi contoh kalau skuad United saat ini memang tidak memiliki pemain pelapis yang sepadan. Pemain cadangan yang bisa bermain sama baiknya dengan para pemain utama.

Comments

Loading...