OUR NETWORK

Manchester United yang Kebingungan

Setiap manusia pasti memiliki persepsi yang berbeda dalam menilai sesuatu. Apa yang menurut sebagian orang baik, belum tentu baik menurut yang lainnya. Musik, wanita cantik, pemandangan, adalah beberapa objek yang menuntut kita memiliki sebuah persepsi untuk menilai tergantung pola pikir yang digunakan. Termasuk diantaranya ketika menilai sebuah pertandingan sepakbola.

***

Tidak ada raut wajah tegang dari Ole Gunnar Solskjaer setelah memimpin anak asuhnya bermain melawan AZ Alkmaar. Padahal, mereka hanya bermain imbang tanpa gol dari juara liga Belanda edisi 2008/09 tersebut. Skor imbang masih dianggap sebagai pencapaian yang positif karena lawan yang mereka hadapi saat itu adalah tim yang hebat.

“Ini adalah satu poin berharga mengingat kami menghadapi lawan yang cukup bagus di atas lapangan yang tidak begitu bagus. Sebagai perbandingan, mereka mengalahkan Feyenoord 3-0 saat tandang, jadi kami perlu mengantisipasi hal ini. Saya senang dengan penampilan para pemain, Kami datang ke laga tandang dengan performa yang baik,” ujarnya.

Entah apakah Solskjaer benar-benar gembira atau hanya sekadar bermulut manis belaka. Apakah ia sedang mensejajarkan timnya dengan Feyenoord, kita juga tidak pernah tahu. Yang jelas itulah persepsi dari pria Kristiansund tersebut. Ia juga menambahkan kalau seri di laga tandang tidak akan jadi soal kalau di Old Trafford MU selalu menang.

Namun tidak semua mau mengikuti perspektif Solskjaer. Mereka yang menolak beranggapan kalau United tetap dalam filosofinya yaitu bermain total dan mengharapkan kemenangan terlepas seperti apa skuad yang dimiliki. Bukan hanya bergantung kepada permainan lawan dan puas dengan hasil seri. Lagipula, esensi sepakbola adalah bermain untuk menang. Bahkan tim penghuni zona degradasi pun menginginkan setiap laga selalu diakhiri dengan kemenangan.

Wajar bagi mereka yang merasa heran melihat ucapan eks manajer Cardiff tersebut. Sepanjang 90 menit, United seperti tidak tahu harus memainkan sepakbola seperti apa. Nol tendangan ke gawang menjadi rekor baru sepanjang sejarah klub di kompetisi Eropa.

Mereka bahkan tidak punya dasar menyerang yang jelas. Penggemar yang sudah jauh-jauh datang ke Den Haag hanya diberikan pemandangan berupa bola yang berputar-putar dengan sirkulasi bola yang tanpa arah plus beberapa momen lain seperti sepakan bebas Rashford dan cederanya Lingard.

Kebingungan Solskjaer dalam menyikapi laga ini sebenarnya sudah terlihat sejak awal laga. Entah mendapat bisikan dari mana, ia memainkan Daniel James sebagai striker. Posisinya pun cenderung statis yang semakin menguatkan kalau dia benar-benar dimainkan sebagai target man alih-alih diberi peran false nine. Di sisi lain, James justru dilayani oleh Mason Greenwood, pemain yang disebut sebagai finisher terbaik yang pernah ia punya. Pada akhirnya, skema tersebut tidak berjalan dengan baik yang membuat Solskjaer kembali menukar posisi keduanya.

Ketika ditukar pun penampilan tim tidak banyak berubah karena suplai bola dari lini tengah begitu terbatas. Kebingungan masih dimiliki oleh beberapa pemain terutama trio Matic, Fred, dan Juan Mata. Kreativitas mereka kembali terganjal rapatnya lini tengah dan lini belakang AZ sehingga bola hanya berkutat di kaki mereka yang memudahkan AZ menggagalkan build up play mereka. Tercatat, United kehilangan bola hampir di setiap menit mereka bermain.

Tidak adanya pergerakan tanpa bola dari para pemain depan juga memaksa United untuk terus memindahkan bola ke sisi sayap untuk mencari alternatif serangan. Diogo Dalot ditugaskan untuk memberi umpan silang ke kotak penalti yang sayangnya tidak ada satu umpan silangnya yang menemui sasaran.

Grafis serangan United pada babak pertama. Tidak bisa menyerang lewat tengah dan hanya mengandalkan sisi sayap

Bahkan akun penyedia statistik United, @UtdArena dibuat bingung karena hingga 30 menit terakhir pertandingan, tidak ada satu pun statistik yang bisa ia unggah terkait penampilan tim secara keseluruhan. Sampai-sampai mereka membuat data yang terkesan random dan tidak perlu untuk diunggah.

“Tidak ada yang bisa saya laporkan sehingga saya akan membuat statistik random yaitu United membuat 13 kali percobaan lemparan ke dalam, namun hanya dua lemparan saja yang diarahkan ke lini depan,” tuturnya. Ia pun akhirnya memilih untuk mengangkat data per pemain saja karena tidak ada yang bisa diulas dari penampilan United kemarin.

Babak kedua berjalan tidak jauh berbeda pada babak pertama. United tidak bisa membangun serangan dengan baik meski Rashford dan Lingard dipercaya untuk bisa meningkatkan agresivitas dan kekuatan di lini serang. Sayangnya, masuknya dua pemain ini tidak diiringi dengan perubahan taktik dari Solskjaer. Ia bahkan menarik keluar Mata dan menggantinya dengan McTominay yang secara tidak langsung mengurangi satu pemain yang beroperasi di lini depan. Masuknya Tominay juga tidak banyak berarti.

AZ sendiri sebenarnya sama dengan United. Sirkulasi bola mereka beberapa kali tidak berjalan dengan baik. Kesalahan dalam melakukan umpan dan penguasaan bola sering mereka lakukan. Yang membedakan adalah, mereka masih bisa mencari serangan ketika memasuki sepertiga akhir pertahanan MU. Hal ini yang tidak bisa dilakukan oleh Solskjaer meski ia dibekali dengan pemain berharga mahal dan beberapa pemain peraih gelar juara ketika bersama klub lamanya.

***

Selain rekor tidak bisa menendang ke arah gawang untuk pertama kalinya, Solskjaer juga memperpanjang rekor tidak menang di laga tandang yaitu 10 kali sejak ia dipermanenkan sebagai manajer United.

Secara keseluruhan, Solskjaer baru memenangi 5 pertandingan dari 22 laga yang sudah ia jalani. Dikutip dari @UtdArena, dengan rata-rata penampilan seperti ini, United punya potensi untuk mengakhiri musim paling bagus pada posisi ke-14 atau yang terburuk finis sebagai satu dari tiga tim yang terdegradasi di akhir musim.

“Manchester United harus berhati-hati. Penuh cedera, miskin gol, lemah, skuad tipis, dan bermain buruk di Europa League. Menjadi Manchester United saja tidak memberi jaminan Anda akan finis di top enam,” tutur Mark Ogden, jurnalis ESPN.”

Sebuah tekanan yang semakin memusingkan Ole Gunnar Solskjaer.

Comments

Loading...