OUR NETWORK

Adaptasi Taktik Ole Menangkan Manchester United

Manchester United tampaknya harus merevisi target mereka musim ini. Dari sekadar menyasar peringkat keempat, Setan Merah justru punya peluang yang cukup besar untuk merebut tempat ketiga. Tentu akan menjadi prestasi yang cukup lumayan mengingat musim lalu, United finis pada urutan kedua.

Selisih poin United dengan Tottenham Hotspur kini terpisah tiga angka saja. Hal ini tidak lepas dari hasil imbang Spurs menghadapi Arsenal dua jam sebelum pertandingan United melawan Southampton berakhir. Setan Merah bahkan nyaris tidak bisa kembali ke peringkat keempat apabila mereka gagal mengalahkan anak-anak didik Ralph Hasenhuttl tersebut.

United butuh perjuangan ekstra untuk mengalahkan Southampton. Mereka bahkan harus tertinggal terlebih dahulu melalui Yan Valery sebelum Andreas Pereira dan Romelu Lukaku membalikkan keadaan. Saat pertandingan tersisa 15 menit, James Ward-Prowse menyamakan kedudukan. Beruntung United punya Romelu Lukaku yang keluar menjadi pahlawan.

Formasi

Ole Gunnar Solskjaer membuat dua pergantian dari laga melawan Crystal Palace. Marcus Rashford bermain sejak awal bertandem dengan Lukaku dan Alexis Sanchez. Di lini tengah, Fred diistirahatkan dan posisinya digantikan oleh Andreas Pereira. Masuknya pemain Brasil ini diharapkan menambah variasi serangan United untuk sisi sebelah kanan mengingat Pogba akan bergerak melebar ke sebelah kiri. United memainkan pola 4-3-3 namun ketika menguasai bola, persebaran pemain akan membentuk formasi 4-1-2-1-2 dengan Sanchez bermain sebagai false nine sementara Lukaku dan Rashford akan melebar ke sisi sayap apabila sedang tidak menguasai bola.

Sementara Ralph Hasenhuttl tidak mengubah satu pun susunan pemainnya dari pertandingan melawan Fulham. Ryan Bertrand dimainkan sebagai winger di sebelah kiri untuk mengirimkan bola-bola kepada Charlie Austin. Selain Bertrand, Ralph juga memainkan Redmond. Kedua pelari ini diharapkan bisa mengeksploitasi sisi sayap pertahanan United yang kerap lemah ketika diserang.

Kerepotan Menghadapi Serangan Cepat Lawan

Manchester United sebenarnya bisa membuat tiga gol dalam kurun lima menit pertama. Romelu Lukaku dan Andreas Pereira sama-sama mempunyai peluang untuk mencetak gol. Akan tetapi, tiga peluang tersebut digagalkan oleh penampilan cemerlang seorang Angus Gunn.

Setelah tiga peluang tersebut, permainan menjadi kurang efektif bagi tuan rumah. United yang memanfaatkan salah satu sisi sayap untuk menyerang lawan mereka, justru kesulitan ketika berusaha menembus dalamnya lini belakang Soton.

Ketika bola berada di lini pertahanan United, tiga pemain depan Soton akan melakukan pressing kepada para pemain belakang. Hal ini yang membuat United tidak bisa melakukan build up serangan ke lini tengah dan lebih banyak menguasai bola di lini belakang (55% penguasaan bola, 39% lebih banyak di lini belakang).

Ketika diserang, Soton akan menurunkan garis pertahanannya dan bermain dengan skema 4-5-1. Ryan Bertrand dan Nathan Redmond akan turun membantu kerja para fullback dan gelandang bertahan untuk memutus aliran serangan United yang selalu dimulai dari sisi sayap.

Pendekatan Hasenhuttl ini sukses mematikan peran Paul Pogba pada babak pertama yang kesulitan mengatasi penjagaan Yan Valery yang kerap dibantu oleh Pierre Emile-Hobjerg. Tekanan-tekanan mereka membuat United tidak bisa mengembangkan permainan mereka yang mengandalkan umpan-umpan pendek. Pogba dan Andreas Pereira delapan kali kehilangan bola yang menandakan bagaimana berhasilnya pressing para pemain tamu. Keberadaan tiga gelandang Soton (Hojbjerg, Romeu, dan Ward Prowse) juga memaksa United tidak bisa memanfaatkan peran Alexis Sanchez yang terisolasi hingga ia mengalami cedera.

Arah umpan pemain Manchester United pada babak pertama. Tidak bisa menembus lewat tengah (Utd Arena)

Keberadaan lima pemain tengah juga memudahkan Soton untuk membuat situasi overload. Hal ini menjadi penyebab keberhasilan Yan Valery mencetak gol terlebih dahulu. Diawali dari kegagalan Ashley Young melakukan lemparan ke dalam, Austin memberikan umpan kepada Valery yang tidak terjaga. Hal ini juga disebabkan dengan tidak disiplinnya para pemain United dalam menjaga posisinya.

Alexis Sanchez dan Diogo Dalot Mengubah Alur Permainan

Seandainya Alexis Sanchez tidak mengalami cedera, United mungkin tidak akan melakukan pergantian cepat. Pemain asal Cile ini keluar pada menit ke-52 dan menjadi pemain terburuk United dengan rating 2 yang diberikan oleh Manchester Evening News.

Mengganti peran Sanchez, Ole memasukkan Diogo Dalot. Fullback asal Portugal ini ditempatkan di sisi kanan sekaligus menggeser posisi Marcus Rashford ke sisi kiri dan mengembalikan Romelu Lukaku sebagai center forward. Keberadaan Dalot juga ditujukan agar membantu Ashley Young di lini belakang seperti saat mereka mengalahkan Crystal Palace.

Yang menarik, Ole juga mengubah strateginya di lini tengah. Paul Pogba diminta mundur menemani Sccott McTominay yang kesulitan menjalani perannya sebagai DM sendirian. Tugas menyerang diberikan oleh Andreas Pereira. Perubahan taktik kecil ini langsung memberikan dampak besar dengan gol Pereira dan Lukaku beberapa saat setelah Dalot masuk. Dalot hanya butuh lima detik untuk membuat asis dibanding Sanchez yang tidak bisa melakukan apa-apa selama 53 menit.

Namun United punya masalah besar dalam hal konsistensi permainan. Setelah unggul, United kembali ke mode awal yaitu kelabakan mengatasi serangan balik Soton. Mereka kemudian bisa menyamakan skor melalui sepakan bebas James Ward-Prowse. Ole kemudian melakukan penyegaran dengan memainkan Fred menggantikan Andreas Pereira. Fred menginisiasi gol ketiga sekaligus gol kemenangan bagi United.

Kesimpulan

Manchester United kesulitan menghadapi pressing tinggi Southampton hingga akhirnya tertinggal melalui gol Yan Valery. Namun pendekatan berbeda ala Ole dengan memainkan Diogo Dalot langsung mengubah peruntungan Setan Merah. Diubahnya peran Andreas Pereira dari DM menjadi Attacking Midfielder adalah titik awal dari keberhasilan United meraih tiga poin.

Hasil pertandingan ini menunjukkan bagaimana Ole Gunnar Solskjaer pantas diberikan kontrak permanen. Beberapa kali Ole melakukan adaptasi taktik yang membuat Setan Merah kerap meraih kemenangan dengan cara yang berbeda-beda.

Akan tetapi, United belum bisa dikatakan sempurna. Lini tengah masih menjadi masalah. Scott McTominay dan Andreas Pereira masih dipertanyakan konsistensinya. Di sisi lain, Diogo Dalot nampaknya sudah harus dipertimbangkan untuk lebih banyak bermain di sisa musim ini.

Comments