OUR NETWORK

Melesat Bagai Kilat, Menukik dengan Cepat

Ole Gunnar Solskjaer kecewa ketika mendengar Darron Gibson mengalami cedera. Ketika itu, Ole masih menjadi manajer tim reserve Manchester United dengan Gibson menjadi pemain andalannya di lini tengah. Cedera itu didapat setelah Gibson membuat gol pertamanya di Premier League. Tendangan kencang dari luar kotak penalti ke gawang Hull pada akhir musim kompetisi 2008/2009.

Gibson adalah pemain yang spesial. Setidaknya menurut Ole. Dia menyebut kalau Gibson layaknya sebuah mobil Ferrari yang sangat mubazir jika diajak ngebut di jalanan yang berat seperti Premier League. Ia mau Ferrari tersebut dibawa pelan sebelum tenaganya benar-benar siap dibawa ngebut di banyak kompetisi.

Sayangnya, di atas Ole masih ada Sir Alex Ferguson. Target utama pemain muda di bawah kepelatihan Ole adalah bisa dilatih Fergie secepat mungkin. Itulah yang sukses diraih oleh Gibson. Sejak muda, pemain ini sudah menunjukkan perkembangan yang luar biasa cepatnya bagai kilat.

Masuk akademi United pada 2004, Gibson langsung mendapat caps pertamanya di United pada Oktober 2005. Musim itu, Gibson menjadi pemain akademi yang paling menonjol karena sukses membawa akademi United meraih treble dan mendapat gelar Jimmy Murphy Young Player of the Year. Bekalnya banyak. Dia bisa bertahan, bisa menyerang, dan punya tendangan jarak jauh yang memungkinkan dia membuat gol spektakuler.

“Darron itu pemain yang bisa mencetak gol-gol hebat dari luar kotak penalti. Dia punya kekuatan luar biasa dalam hal membidik sasaran,” kata Ferguson.

Dua kali peminjaman ke Royal Antwerp dan Wolverhampton Wanderers berjalan dengan baik. Inilah yang membuat Fergie kemudian berkata “cukup” dan membuat Gibson langsung mendapat peran di tim utama. Disinilah kita bisa melihat kapasitas seorang Gibson mengenai kelebihannya tersebut. Enam dari 10 golnya bersama United dibuat dari luar kotak. Bahkan, ia juga beberapa kali mencetak gol-gol penting.

Selain ke gawang Hull, dua kali Tottenham Hotspur ia kalahkan dari luar kotak penalti. Yang paling spesial sudah pasti golnya ke gawang Bayern Munich pada perempat final Liga Champions 2009/2010 dan golnya ke gawang Schalke pada leg kedua semifinal Liga Champions 2010/2011 yang membawa Setan Merah melaju ke final.

“Anda bisa lihat penampilan Gibson melawan Bayern. Itu adalah gol yang tidak bisa diabaikan. Ini kontribusi yang biasa kami dapatkan dari Paul Scholes. Dia sering memberikan saya 12 sampai 14 gol dari lini tengah sepanjang waktu dan sekarang kami memiliki pemain seperti itu untuk sementara waktu,” kata Sir Alex Ferguson.

Namun, karier Gibson di Manchester United lebih banyak menjadi pemeran pembantu ketimbang pemeran utama. Ia sama sekali tidak bisa menggeser nama-nama seperti Michael Carrick atau Paul Scholes. Bahkan Fergie lebih memilih untuk memainkan Tom Cleverley alih-alih dirinya ketika Scholes sudah pensiun. Pada 13 Januari 2012, ia kemudian dilepas ke Everton. Sebuah keputusan berat yang pernah dilakukan Ferguson.

“Darron Gibson adalah contoh pemain yang membuat kita berada di persimpangan apakah dia menjadi pemain utama atau tidak. Dia punya kualitas yang berbeda dari pemain tengah lainnya. Keputusannya berat diantara dia dengan Tom Cleverley. Fisik Cleverley tidak bagus, tapi ia berani dan tampil seperti singa dan kakinya juga bagus untuk mencetak gol. Saya akhirnya memilih Cleverley,” ujar Fergie dalam otobiografinya.

Pindah memang menjadi jalan yang perlu dipilih oleh Gibson. Tidak hanya agar ia bisa mendapat kesempatan main lebih banyak, melainkan demi kariernya juga bersama timnas Republik Irlandia. Giovanni Trappatoni juga yang mendorong Gibson untuk keluar dari Old Trafford meski Gibson sebenarnya ogah untuk hengkang ke klub yang peluang menjadi juara di tiap kompetisi tidak sebesar United.

“Tidak masuk akal jika saya harus pindah ke tim selain United. Saya tidak mau untuk pindah ke tim lain meski mendapat menit main tapi tidak memiliki peluang juara,” kata Gibson. Sebuah kalimat yang tidak berlaku lagi sejak Januari 2012 karena Fergie sah memiliih Cleverley.

Riwayat Cedera dan Sikap Tidak Disiplin

Setelah hijrah ke Everton, karier seorang Darron Gibson perlahan-lahan meredup karena cedera. Pada musim ketiga bersama Everton, ia menderita cedera ligamen yang membuatnya absen sangat panjang. Sayangnya, cedera Gibson juga diikuti dengan sikap tidak disiplinnya di luar lapangan. Sebuah kombinasi yang lengkap untuk membuat karier sepakbolanya menjadi terhambat.

Ia pernah menjadi tersangka tabrak lari dan menerima hukuman larangan menyetir selama 20 bulan karena menabrak tiga pengemudi sepeda akibat mengendarai mobil di bawah pengaruh alkohol pada tahun 2015. Hal ini kemudian membuatnya kehilangan tempat di skuat Everton asuhan Ronald Koeman dan bahkan sempat terdampar di tim cadangan.

Beruntung karier sepakbolanya diselamatkan oleh David Moyes yang saat itu melatih Sunderland. Moyes pula yang merekerut Gibson dari United ketika ia masih menjadi manajer di Everton. Namun, pemain yang sekarang berusia 32 tahun ini kembali berulah. Pada pra-musim melawan Celtic, ia menyebut kalau timnya ‘f***ing s**t’ karena menderita kekalahan.

Pada Maret 2018, ia diskorsing oleh klubnya karena didakwa mengemudi dengan kondisi mabuk yang mengakibatkan kecelakaan hingga mobil Mercedes yang ia kendarai rusak parah. Pada akhir musim kompetisi 2017/2018, ia dilepas oleh The Black Cats. Ia juga pernah terlibat adu mulut dengan suporter Sunderland dalam kondisi mabuk setelah timnya dipastikan terdegradasi semusim sebelumnya. Ia kemudian memperkuat Wigan Athletic, namun kariernya hanya bertahan satu musim sebelum kemudian menganggur selama enam bulan hingga akhirnya ia dikontrak oleh Salford.

Sikap tidak disiplinnya Gibson sebenarnya sudah tercium saat masih membela Manchester United. Pada laga terakhir bulan Desember 2011, tepat di hari ulang tahun Sir Alex Ferguson, Gibson tidak dimainkan pada laga melawan Blackburn meski ia sebenarnya tidak mengalami cedera apa pun dan lini tengah United sedang mengalami masalah.

Setelah diselidiki, ternyata Gibson keluyuran pada malam sebelum laga dan berpesta sampai mabuk bersama Jonny Evans. Beberapa media Inggris berspekulasi kalau Wayne Rooney juga terlibat meski kemudian dibantah langsung oleh Sir Alex Ferguson.

Gibson bukannya pemain yang buruk. Sebaliknya, dia punya talenta yang seharusnya bisa membawanya berada sejajar dengan pemain-pemain elite dunia. Sayangnya, bakat itu tidak diimbangi dengan sikap disiplin di dalam maupun di luar lapangan yang membuat nasibnya kerap penuh dengan ketidak jelasan dan membuat namanya tenggelam dengan cepat.

Bersama Salford, ia sekarang mencoba untuk mengais kembali sisa-sisa permainan terbaiknya pada masa lalu. Kebetulan, orang yang melatih dia sekarang adalah Paul Scholes yang rekam jejak prestasinya di United seharusnya diteruskan olehnya.

Tulisan ini dibuat untuk merayakan hari ulang tahun Darron Gibson pada 25 Oktober kemarin.

Comments

Loading...