OUR NETWORK

Dilema Marcos Rojo

Hubungan Marcos Rojo dengan Manchester United itu bak sepasang kekasih yang sudah menyatakan ingin berpisah tapi masih menyimpan perasaan cinta satu sama lain. Ketika satu pihak mulai menunjukkan tanda-tanda ingin rujuk dan menjalin hubungan yang lebih intim lagi, dilema kini melanda sisi satunya apakah tetap pada pendiriannya atau memilih memperbaiki hubungan tersebut.

***

Ole Gunnar Solskjaer mengumbar banyak sekali pujian ketika timnya mengalahkan Partizan dengan skor telak 3-0 tengah pekan lalu. Satu yang ketiban untung adalah Marcos Rojo. Manajer kesayangan penggemar United ini memuji penampilan pemain Argentina tersebut dengan menyebutnya sebagai pemain yang berkualitas.

“Saya pikir dia bermain baik hari ini. Dia bermain sangat baik sejak dia memulai pra-musim. Mungkin, dia bermain lebih sering dari yang ia duga. Itu sebabnya dia masih di sini dan dia adalah pemain sepakbola berkualitas tinggi,” kata Solskjaer.

“Dia seorang pemenang, dia punya mental yang baik, dia bisa memberikan umpan dan bertahan. Sekarang adalah tentang bagaimana kami harus menjaga kebugarannya dan dia kini sudah bugar untuk jangka waktu yang lama. Anda dapat melihat kualitasnya,” tuturnya menambahkan.

Hubungan Rojo dengan MU sebenarnya tidak berjalan dengan baik. Setidaknya dalam kurun dua musim terakhir. Namanya selalu masuk dalam daftar pemain yang diharapkan penggemarnya untuk dijual. Faktor cedera menjadi salah satu pengaruh yang membuat peran Rojo kini mulai tidak nampak lagi bersama skuat Setan Merah. Sejak 2017/18, Rojo hanya membuat 26 penampilan. Musim lalu, ia bahkan hanya enam kali bermain saja di semua kompetisi.

Yang menarik, Manchester United seperti masih berharap kalau Rojo tetap tinggal di United. Segala upaya pun sudah dilakukan. Secara kontroversial, Rojo diberi perpanjangan kontrak baru pada Maret 2018 lalu ketika kebugarannya bermasalah. Ketika ia selangkah lagi menuju Everton pada musim panas lalu, pihak United memilih untuk tidak melepasnya dengan berbagai alasan. United dikabarkan hanya ingin melepasnya secara permanen. Namun ada juga yang mengabarkan kalau mereka takut kalau Everton akan semakin kuat setealah kedatangan Rojo dan mengganggu mereka dalam persaingan di top six.

Musim ini, Rojo nampak jauh lebih bugar dibanding sebelumnya. Ia kembali bisa bermain selama 90 menit penuh. Gaya mainnya pun tidak urakan seperti sebelumnya. Kali ini, ia tampil jauh lebih tenang meski tidak mengurangi agresivitasnya. Sejauh ini, jarang terlihat tekel-tekel konyol yang bisa merugikan tim.

Bagi Solskjaer, Rojo bukan sekadar pemain Manchester United. Dalam pandangannya, salah satu bek terbaik pada Piala Dunia 2014 ini bisa menjadi mentor bagi para pemain muda. Hal ini yang membuatnya berniat untuk menyimpan si pemain lebih lama lagi paling tidak sampai kontraknya benar-benar habis pada musim panas 2021 mendatang.

“Dia adalah pemain yang punya hasrat untuk sepakbola dan dia adalah seorang pemenang. Memilikinya dalah situasi kebugaran yang fit dan suasana hati yang baik adalah sesuatu yang bagus bagi kami. Pemain lain menyukainya dan kadang-kadang dia menyebarkan ketakutan dalam sesi latihan karena tekel-tekelnya. Dia salah satu yang peduli terhadap permainan ini,” kata Solskjaer menambahkan.

Pilihan ada di Tangan Rojo

Sepik-sepik Solskjaer terhadap Rojo bukannya tanpa sebab. September lalu, ia mengeluarkan ultimatum kalau dirinya akan pergi pada Januari nanti jika keadaan tidak sesuai dengan keinginan dia. Saat itu, ia menyebut kalau bulan Desember akan menjadi bulan yang penting karena disitulah ia bisa melihat kariernya apakah terbuka atau tertutup di Manchester United.

“Sulit untuk pergi ketika Anda berada di klub besar. Saya punya peluang pindah ke Everton, tetapi karena satu dan lain hal kepindahan itu tidak terjadi. Sekarang, aku harus berjuang sampai Desember nanti dan jika itu tidak berhasil, maka saya akan mencoba untuk pergi,” kata Rojo.

Nasib Rojo memang belum aman. Meski musim ini sudah bermain delapan kali, dua angka lebih banyak dibanding musim lalu, namun enam diantaranya hanya terjadi pada ajang piala saja yaitu Piala Liga dan Europa League. Di Premier League, ia baru bermain dua kali dengan salah satunya bermain sebagai pemain pengganti.

Memanfaatkan ajang-ajang piala jelas tidak cukup bagi seorang pemain yang berharap tetap menjadi pilihan reguler bagi tim nasionalnya. Dalam sebulan, Liga Europa paling banyak hanya memainkan laga dua kali saja. Begitu juga piala Liga yang baru akan dimulai kembali pada Desember nanti. Piala FA juga baru akan digelar pada bulan Januari sehingga peluang Rojo untuk bermain begitu terbatas. Lagipula, belum ada jaminan United bisa langgeng pada kompetisi piala tersebut sampai babak final.

Rojo pun juga bukan pilihan utama Solskjaer untuk sektor bek tengah. Ia berada pada urutan keempat setelah Maguire, Lindelof, dan Axel Tuanzebe. Solskjaer sebenarnya bisa memainkan Rojo dalam skema tiga pemain belakang. Dengan komposisi ini, ia punya kemampuan untuk mengisi celah yang ditinggalkan fullback kiri. Namun Solskjaer tidak menjadikan pola tiga pemain belakang sebagai formasi andalannya dan tetap mengandalkan 4-2-3-1. Lagipula, Solskjaer dikenal sebagai manajer yang reaktif alih-alih mempunyai satu skema taktik yang bisa dijalankan menghadapi siapa pun lawannya.

Untuk sementara, Rojo merupakan pilihan reguler Solskjaer di lini belakang Manchester United. Cederanya Axel Tuanzebe dan Victor Lindelof membuka peluangnya untuk bermain lebih sering. Namun kecilnya cedera Axel dan Victor membuat peluang Rojo untuk mempertahankan status regulernya bisa hilang sewaktu-waktu. Kondisi seperti inilah yang membuatnya beradala dalam situasi yang dilematis untuk memilih langkah selanjutnya dalam kariernya sebagai pesepakbola.

Comments

Loading...