Foto: Manchester Evening News

 

Manchester United akhirnya baru meraih kemenangan lagi melawan AC Milan pada 2007. Inilah kemenangan pertama Sir Alex atas anak asuh Carlo Ancelotti tersebut setelah dua tahun sebelumnya selalu menjadi pecundang.

Saat itu, situasinya berbalik. Milan memang masih istimewa. Namun saat itu, mereka sedang terjebak dengan skandal Calciopoli yang menyerang pada awal musim. Rossoneri memulai liga dengan angka minus 8 setelah tadinya sempat mendapat minus 15 poin.

Di sisi lain, United hadir dengan skuad lebih berpengalaman. Ronaldo dan Rooney sudah matang, Scholes dan Giggs ternyata masih oke di usia 30-an. Begitu juga Ferdinand-Vidic yang mulai menjadi bek kelas dunia. Hasil 7-1 melawan AS Roma membuat mereka diunggulkan sebagai juara saat itu.

Namun Milan masih punya Kaka. Meski United menang 3-2 saat itu, sinar Kaka justru lebih terang melalui aksi individunya yang membuat Milan memiliki dua gol tandang. Salah satunya adalah gol keduanya di Old Trafford yang membuat Evra dan Heinze bertabrakan.

Milan saat itu memang memusatkan diri mereka di Liga Champions karena dominasi Inter yang sulit dibendung di Serie A. jelang leg pertama, 6 pemain inti diistirahatkan Ancelotti. Sebaliknya, Ferguson sempat mengaku kalau dia hanya punya 12 pemain yang bugar jelang leg kedua. Ini yang mungkin membuat Milan bisa memasukkan dua gol karena Heinze terpaksa menjadi bek tengah karena United kehilangan Ferdinand-Vidic akibat cedera. Beruntung, United masih bisa menang setelah Rooney mencetak gol penentu pada menit terakhir.

Pada akhirnya, dua gol tandang yang dimiliki Milan memiliki peranan besar ketimbang tiga gol United. Milan balik mengalahkan United 3-0 pada leg kedua. Lagi-lagi, Kaka menyumbang satu dari tiga gol tersebut. Di sisi lain, Ronaldo justru menjalani salah satu pertandingan terburuknya bersama Setan Merah.

“Ini menjadi malam mengecewakan untuk Cristiano. Saya hanya bisa berharap yang terbaik untuknya karena dia masih muda dan masih bisa berkembang. Milan adalah tim yang berpengalaman dan mereka adalah indikator untuk menilai mana kesebelasan yang bagus saat ini di Eropa,” ujar Ferguson.

F***ing Wake Up Jonny!

San Siro tampak menjadi kuburan bagi United. Enam laga melawan Milan dan Inter di sana, mereka tidak bisa mencetak gol. Kutukan ini kemudian pecah pada 2010 ketika keduanya bertemu pada babak 16 besar Liga Champions.

Kali ini, United jauh lebih siap. Ancelotti sudah diganti oleh Leonardo. Para bintang kini mulai meredup karena usia. Kaka bahkan sudah diisukan pindah ke Real Madrid. Kota Milan juga mulai berubah warna menjadi biru karena dominasi Inter. Meski begitu, Milan masih tetap menjadi magnet pemain kelas dunia seperti Ronaldinho dan Beckham yang bermain di sana meski kualitasnya memang sudah menurun.

Samba Ronaldinho sempat membuka keunggulan bagi Milan yang membuat Ferguson mengeluarkan kalimat “F**king wake up Jonny” kepada Jonny Evans yang beberapa kali menjadi titik lemah. Saking kesalnya, Fergie sempat beberapa kali ditenangkan oleh Mike Phelan. Beruntung, United bisa menang saat itu dengan gol Scholes serta brace dari Wayne Rooney.

Glazer, LUHG, dan Park Ji-Sung

Tiga minggu kemudian, Old Trafford kedatangan tamu yaitu keluarga Glazer. Hal ini memantik amarah para pendukung United dan memulai misi mereka dengan membuat stadion didominasi warna hijau-kuning khas LUHG (Love United Hate Glazer).

Leg kedua ini menjadi penegas kalau United tidak lagi inferior melawan Milan. Mereka menang 4-0 dengan Rooney mencetak dua gol yang disusul gol Park Ji-Sung dan Darren Fletcher.

Rooney menjadi bintang lapangan, tapi sorotan kali ini menjadi milik Park Ji-Sung. Kehadirannya di lapangan sukses mematikan kreativitas Andrea Pirlo. 90 menit, Pirlo dibuat pusing oleh pemain Korea Selatan tersebut.

“Ferguson adalah pria sempurna, tapi dia merendahkan reputasinya kepada saya. Dia melepaskan Park untuk membayangi saya. Dia mencoba mengintimindasi saya. Saya tidak tahu untuk apa dia mengikuti saya. Meski dia pemain terkenal, tapi saat itu ia tampak seperti anjing penjaga,” kata Pirlo.

Beckham hadir sebagai pemain pengganti pada menit ke-64. Kontribusinya tidak terlalu banyak, hanya tendangan voli yang bisa ditahan oleh Van der Sar. Namun, momen berkesan bagi para suporter United itu hadir ketika peluit panjang dibunyikan.

Becks mengambil syal hijau-kuning khas LUHG yang dilemparkan oleh pendukung United lalu melingkarkannya di lehernya. Sontak, hal itu disambut gemuruh oleh mereka yang membenci Glazer dan seolah mendapat dukungan secara tidak langsung dari mantan pemainnya. Itulah momen terakhir laga United melawan Milan sebelum keduanya akan kembali bertemu dini hari nanti.