OUR NETWORK

Di Canio Berlari, Barthez Hanya Berdiri

Sepanjang sejarah kedua kesebelasan, Manchester United telah bertemu 144 kali melawan West Ham United. Dari jumlah tersebut, 12 pertandingan terjadi pada ajang Piala FA. Catatan United ketika bertemu The Hammers pada ajang piala cukup baik. Mereka menang lima kali. Selain itu, United juga tidak pernah kalah dalam lima pertemuan terakhir di Piala FA melawan West Ham.

Kekalahan terakhir yang diterima United atas West Ham pada Piala FA terjadi pada musim kompetisi 2000/2001. Ketika itu pertandingan terjadi pada babak keempat di Old Trafford. Tidak ada yang menyangka kalau United tersingkir karena Setan Merah tidak pernah kalah dari West Ham sejak 1992. Selain itu, penampilan West Ham saat itu juga inkonsisten karena sempat berada di papan bawah.

Pertandingan itu tidak hanya dikenang sebagai momen tersingkirnya United, melainkan juga momen memalukan bagi penjaga gawang mereka, Fabien Barthez. Bagi banyak pihak, gol yang dibuat Paolo Di Canio tersebut bisa saja digagalkan jika Barthez siap dan tidak hanya berdiri menunggu peluit wasit.

Pada menit ke-76, bek kanan West Ham, Sebastien Schemmel menggiring bola. Mendekati kotak penalti ia kemudian memberikan bola tersebut kepada Frederick Kanoute. Di lini pertahanan, Paolo Di Canio mengincar jebakan offside yang coba dibangun kuartet bek United. Kanoute kemudian melepaskan umpan terobosan tersebut kepada Di Canio.

Karena pergerakannya yang begitu cepat, Di Canio sukses lolos dari penjagaan pemain belakang Setan Merah. Di sini kebingungan mulai terjadi. Empat pemain United yaitu Dennis Irwin, Jaap Stam, Roy Keane, dan  Gary Neville mengangkat tangan meminta offside karena menganggap Di Canio lebih lambat dari mereka.

Yang lucu adalah, Barthez juga ikut angkat tangan. Alih-alih menempatkan diri sebagai pemain terakhir, ia memilih berdiri lalu mengangkat tangan dan berharap akan adanya peluit offside. Tiga sampai lima detik menanti ternyata bunyi peluit tidak ada. Di Canio yang tidak mendengar adanya peluit tentu meneruskan langkahnya mendekati Barthez yang anteng saja tidak mengganggu Di Canio. Striker Italia ini dengan tenang mencetak gol yang diikuti rasa jengkel pemain United karena masih ngarep minta offside.

“Dia mencoba membuat otak saya bingung. Tapi saya main bola sudah 15 tahun dan punya pengalaman melawan situasi ini. Lebih baik cetak gol dulu baru melihat asisten wasit ketimbang penjaga gawang langsung menilai benar atau salah,” kata Di Canio yang seolah menyindir Barthez.

Apes bagi United karena mereka tidak bisa membalas gol tersebut. United tersingkir di kandang sendiri akibat koordinasi yang buruk dan aksi Barthez yang menjadi momen ikonik sepanjang sejarah Piala FA. Penjaga gawang botak ini mengaku ingin menggertak Di Canio dengan harapan dia akan berhenti berlari. Namun, benar seperti apa yang dikatakan Di Canio, kalau memang tidak ada peluit yang berbunyi, teruskan saja langkah kita sampai gawang.

“Saya yakin kalau Di Canio offside. Jadi saya angkat tangan. Jujur, saya hanya ingin menggertaknya tapi dia memilih terus cetak gol hingga semuanya berakhir,” ujar Barthez.

Akibat kejadian ini, Barthez menjadi olok-olok suporter West Ham. Chant “Let’s all do the Barthez!” menjadi nyanyian wajib ketika keduanya bertemu. Hingga pandemi mengharuskan pertandingan tanpa penonton, beberapa kali chant tersebut masih terdengar.

Momen tersebut juga memberi pelajaran kepada kita semua yang suka bermain sepakbola untuk terus bermain sampai terdengar bunyi peluit dan tidak sedikit-sedikit ngarep kalau wasit akan menghentikan permainan.

Comments

Loading...