OUR NETWORK

Pemain Afrika di Manchester United (Bagian I)

Dari Quinton Fortune hingga Hannibal Mejbri, sederetan pemain asal Afrika pernah datang dan menjadi bagian untuk klub ini. Sayangnya, tidak banyak dari mereka yang mencapai kesuksesan.

Piala Afrika telah dimulai pada 9 Januari lalu. Berbeda dari turnamen tiga tahun sebelumnya, kali ini Manchester United kembali mengirim pemainnya untuk memperkuat timnas mereka masing-masing. Dua nama itu adalah Eric Bailly (Pantai Gading) dan Hannibal Mejbri (Tunisia).

United tidak anti dengan para pemain Afrika. Meski begitu, jumlah mereka memang tidak sebanyak pemain dari Eropa. Sepanjang sejarahnya, tim ini hanya pernah diperkuat oleh sembilan nama saja yang datang dari benua tersebut. Akan tetapi, tidak banyak yang bisa dikategorikan sebagai pemain sukses ketika bermain untuk klub ini.

Pemain pertama Afrika milik United adalah Quinton Fortune. Bergabung dari Atletico Madrid pada Agustus 1999, Fortune memulai debutnya ketika United mengalahkan Newcastle United dengan skor 5-1. Fortune adalah pemain yang serba bisa. Ia mampu bermain sebagai bek sayap dan pemain tengah. Inilah alasan kenapa Ferguson terus mempertahankannya.

Ia menjadi bagian skuad peraih tiga gelar liga yaitu pada 2000, 2001, dan 2003. Akan tetapi, ia tidak pernah mendapatkan medali juara karena caps Premier League yang ia punya kurang dari 10 laga per musim. Beruntung, ia mendapat dispensasi untuk bisa mendapat medali juara pada 2003.

Meninggalkan United pada 2006, Fortune mengoleksi 11 gol dari 126 penampilan. Sempat kembali pada 2019 sebagai asisten pelatih U-23 United, kini ia menjadi pelatih tim utama klub League One, Reading.

Dibeli dari Lens pada musim panas 2003, Eric Djemba-Djemba bermain cukup apik ketika mengalahkan Arsenal pada Community Shield. Ia kemudian mendapat kepercayaan bermain di lini tengah United dan menjadi pahlawan saat mengalahkan Leeds United pada Piala Liga dengan perayaan golnya yang ikonik tersebut.

Akan tetapi, Eric tidak bisa menancapkan kakinya sebagai pemain reguler klub. Ia kalah bersaing dari Roy Keane, Paul Scholes, Kleberson, hingga wonderkid saat itu Darren Fletcher. Ia hanya bermain 39 kali bersama United sebelum dilepas klub ke Aston Villa pada Januari 2005.

Sejak kepindahannya itu, karier Eric diwarnai dengan bermain sepakbola di banyak negara seperti Qatar, Denmark, Israel, Serbia, Skotlandia, India, hingga Indonesia.

Kedatangan Eric ke Indonesia terjadi pada 2015. Ketika itu, ia didatangkan untuk memperkuat Persebaya yang beberapa tahun kemudian berganti nama menjadi Bhayangkara FC. Kedatangannya saat itu disambut baik mengingat latar belakangnya sebagai mantan pemain United. Akan tetapi, Eric tidak bisa melakukan debut mengingat Liga Indonesia saat itu dibekukan oleh FIFA akibat sanksi yang disebabkan adanya intervensi dari pemerintah.

Mateus Alberto Contreiras Goncalves atau yang akrab disapa Manucho datang ke Manchester United dengan modal yang cukup oke bersama timnas Angola. Pada Piala Afrika 2008, ia masuk dalam Best XI dalam turnamen tersebut.

Dinilai begitu tinggi pada awal kedatangannya, Manucho bisa dibilang datang dalam kondisi yang kurang ideal. Ia tiba saat lini depan United sudah sesak akibat kehadiran Rooney, Tevez, Berbatov, dan Cristiano Ronaldo. Jadilah ia hanya sebagai pilihan kelima dari empat pemain tersebut.

Kontribusinya dalam gol Danny Welbeck ketika melawan Stoke City menjadi satu-satunya aksi Manucho di Premier League. Penampilan lainnya hanya terjadi pada Piala Liga. Ia kemudian dipinjamkan ke Hull City dan menjadi pahlawan saat mencetak gol pada menit terakhir ketika melawan Fulham.

Merasa tidak punya masa depan di Manchester, Manucho memutuskan hengkan ke Spanyol untuk bermain bersama Real Valladolid sebelum melanglang buana untuk bermain bersama Bucaspor, Manisaspor, Rayo Vallecano, dan Cornella sebelum akhirnya pensiun pada tahun 2019.

 

 

Comments

Loading...