Foto: Pinterest

Dekade kedua pada abad ke-21 merupakan masa-masa yang sulit dalam hidup seorang Diego Forlan. Pada saat itu, karier sepakbolanya mulai menemui kata akhir. Setelah usianya memasuki 30-an dan mulai kesulitan bersaing dengan penyerang lebih muda, Forlan mulai mencari beberapa kesebelasan yang bisa memberinya kesempatan untuk terus tampil di level yang kompetitif.

Inter Milan sebenarnya menjadi pilihan. Namun, penampilannya juga tidak istimewa. Eropa sepertinya bukan tempat yang tepat untuk kariernya. Ia kemudian kembali ke Amerika Selatan dan memilih Brasil. Kebetulan, Internacional juga berminat kepadanya.

Ia menjadi mentor bagi para pemain muda di sana. Pada saat itu pula, Forlan bertemu dengan sosok yang kemudian mengikuti jejaknya sebagai pemain Setan Merah. Sosok itu adalah Fred.

Forlan ingat betul bagaimana Fred pada saat itu. Fisiknya sangat kecil dan massa ototnya belum sebaik sekarang. Meski begitu, Fred punya bekal berupa tekhnik yang bagus ala sepakbola Brasil. Yang menarik, Fred saat itu bermain lebih ke depan.

“Saya ingat debutnya ketika saya juga berada di Internacional. Kami bermain bersama mungkin hanya satu setengah tahun. Dia bermain sedikit ke depan di lini tengah. Saya tahu sekarang dia bermain sebagai gelandang tengah. Dia pemain yang bagus, kaki kiri yang bagus, dan punya teknik yang bagus,” kata Forlan pada situs resmi klub.

Dari delapan gol yang dibuat Fred, Forlan ingat satu berasal dari assist-nya ketika mereka melawan Palmeiras pada Oktober 2012. Pada bulan Mei berikutnya, Fred membalas servis Forlan dengan memberi assist ketika Internacional bertanding melawan Vitoria.

“Saya tahu kalau sekarang dia bermain bukan untuk mencetak gol tapi dia masih mencetak beberapa gol untuk United. Pada saat di Internacional, dia lebih dekat ke gawang sehingga dia memiliki beberapa gol untuk mereka,” tuturnya.

Beruntung bagi Fred karena yang berubah hanya posisinya dan bukan karakternya sebagai manusia. Forlan senang kalau saat ini Fred masih seperti yang dulu yang pemalu, pendiam, serta selalu tersenyum dalam keadaan apa pun.

“Fred adalah pria yang sangat baik.”

Meski lahir di Belo Horizonte, Internacional justru menjadi klub profesional pertama Fred. Awal kariernya, ia sempat berpindah-pindah akademi dari Atletico Mineiro lalu kemudian ke Porto Alegre. Pada usia ke-17 ia kemudian hengkang ke Internacional.

Perkembangan Fred sangat cepat pada saat itu. Ia membawa tim muda Internacional memenangkan enam gelar sepanjang 2010 termasuk Copa Santiago dan Copa FGF. Hanya butuh dua tahun bagi dirinya bisa merasakan debut tim utama ketika Internacional melawan Ceramica pada Campeonato Gaucho. Pada 18 Juli 2012, ia mencetak gol pertamanya saat melawan mantan klubnya semasa bocah dulu, Atletico Mineiro. Secara keseluruhan Fred bermain 55 kali dan membawa mereka menang Campeonato Gaucho dua kali pada 2012 dan 2013.

Pada musim panas 2013, Fred direkrut oleh tim besar Ukraina Shakhtar Donetsk senilai 15 juta Euro. Ia langsung menjadi pilar penting Shakhtar dan memenangkan sepuluh gelar termasuk tiga gelar liga Ukraina sebelum kemudian ditebus mahal oleh Manchester United selepas mewakili Brasil pada Piala Dunia 2018.