Foto: Sportsmax.tv

Tidak ada yang lebih menyakitkan ketimbang menjadi suporter United di Indonesia. Rela bangun tengah malam dengan harapan tim kesayangannya akan menang, apa daya justru kekecewaan yang mereka rasakan.

Kedua kesebelasan datang dengan mengusung misi balas dendam. United bertekad untuk membayar kekalahan mereka di Old Trafford dari lawan yang sama sekaligus membuktikan kalau mereka bisa tampil baik demi bisa mengambil lagi kepercayaan suporter untuk tidak lagi mengkritiknya.

Di sisi lain, anak asuh Steven Gerrard geram karena timnya tidak beruntung pada pertemuan terakhir di Piala FA. Untuk itulah mereka ingin menjadikan laga ini sebagai momen tepat untuk membayar kekalahan tersebut.

Skenario sebenarnya sudah disusun United dengan baik. Mereka unggul cepat melalui Bruno Fernandes yang memanfaatkan kesalahan Emi Martinez. Sang penjaga gawang seperti mendapat karma atas aksi jogetnya di Old Trafford pada pertemuan pertama. Kesalahan Morgan Sanson pada babak kedua membuat United bisa unggul dua gol.

Sayangnya, kubu Villa yang tertawa paling akhir. Hanya butuh empat menit bagi mereka untuk mengejar ketertinggalan. Jacob Ramsey dan rekrutan baru Philippe Coutinho merusak ambisi United untuk mendapat tiga poin.

Tidak bisa dibantah kalau babak pertama melawan Aston Villa kemarin adalah babak pertama terbaik United setelah melawan Crystal Palace. United tidak lagi terburu-buru untuk melakukan counter, pertahanan mereka lebih rapi, dan tidak banyak melakukan delay. Sebisa mungkin pemain terdekat langsung mendapat bola dari rekan setimnya.

Sampai menit ke-70 United masih dalam trek mereka. Akan tetapi, United tidak bisa lagi mendapat kontrol yang mereka cari. Aston Villa mulai bisa melepas peluang sesering mungkin dan sempat menguasai bola hingga 75%. Gol pun seperti tinggal menunggu waktu dan apesnya dua gol langsung datang hanya dalam tempo empat menit.

“Kami menunjukkan karakter yang luar biasa, keberanian luar biasa, dan menyelesaikan pertandingan dengan kuat. Jika kami bisa tampil seperti babak kedua selama 90 menit penuh, saya yakin kami akan menjadi pemenang,” kata Gerrard.

Wajar apabila Gerrard begitu percaya diri. Pressing United mulai mengendur setelah unggul dua gol. Entah apa karena faktor kelelahan atau tidak namun yang jelas reaksi pemain United sudah tidak sengotot pada babak pertama hingga sebelum mencetak gol kedua. Mereka semua terlihat lesu.

Inilah yang membuat Villa dengan mudah membantai lini belakang United. Dua rekrutan baru mereka Lucas Digne dan Philippe Coutinho tampil kesetanan. Digne sukses mengobok-obok Dalot yang seharusnya mendapat proteksi dari Greenwood. Beberapa kali pemain Portugal ini kebingungan harus menjaga dua pemain dalam satu garis. Apes, dua bek tengah United juga hilang konsentrasi.

Parahnya lagi, intensitas pressing yang menurun juga berimbas ke lini depan. Mereka tidak bisa lagi membuat banyak peluang berkualitas ketika melakukan counter. Sinkronisasi antar pemain mulai tidak terlihat. Pada akhirnya United tidak punya jalan lain selain terus bertahan hingga akhir pertandingan.

Sebenarnya, United bisa saja membuat banyak gol apabila peluang-peluang bagus mereka bisa dieksekusi dengan baik. Peluang Elanga contohnya. Jika dia mau lebih sabar, Elanga bisa mengumpan ke Cavani yang tidak terkawal. Pengambilan keputusan dan sinkronisasi antar pemain lagi-lagi menjadi PR yang belum bisa dicari solusinya oleh para pemain ini.

Rangnick hanya punya sedikit waktu untuk membenahi itu semua. Namun, tanpa eksekusi yang baik dari para pemainnya, maka kehadirannya selama enam bulan ini bisa saja tidak menghasilkan apa-apa.

***

Manchester United belum mampu keluar dari suramnya awal tahun 2022. Hanya meraih satu kemenangan dari tiga laga terakhir, dan belum menang lagi di Premier League dalam dua pertandingan. Terjebak di peringkat tujuh, United terpaut 24 poin dari tetangga yang selalu dicap berisik oleh mereka.

Kebobolan dua gol membuat United sudah kemasukan 29 gol sejauh ini. Angka ini jauh lebih buruk dari raihan Burnley yang baru kebobolan 27 gol meski berada di posisi juru kunci. Selisih poin mereka kini juga terpaut satu angka dari Wolverhampton Wanderers. Menjadi juara liga sepertinya sudah tidak mungkin, empat besar pun sepertinya tidak akan bisa diraih jika masih tidak konsisten.

Dengan filosofi Rangnick yang belum bisa diserap dengan baik oleh para pemain, maka hasil-hasil seperti ini mau tidak mau harus kita nikmati sebagai pendukung. Imbasnya mungkin United akan kehilangan kesempatan main di Eropa atau yang lebih mengenaskan menyelesaikan kompetisi di peringkat yang jauh lebih buruk dibanding posisi yang pernah diraih United era Moyes.

Untuk sisa musim ini, ada baiknya kita menerima kalau United 2021/22 lebih banyak diisi dengan drama. Drama ngambek karena Rangnick, drama Rashford, dan yang terbaru drama Martial vs Rangnick.