OUR NETWORK

PSG vs Manchester United: Misi Melawan Kemustahilan

Ajax Amsterdam menjadi kesebelasan terakhir yang bisa membalikkan defisit kekalahan dua gol di kandang pada ajang Piala Champions Eropa. Saat itu, mereka kalah 1-3 di Olympich Stadion menghadapi Benfica. Pada leg kedua, Ajax sukses meraih kemenangan dengan skor serupa di Portugal. Mengingat belum adanya perpanjangan waktu, maka leg ketiga mau tidak mau diadakan di tempat netral yaitu Paris, dan Ajax menang 3-0.

Namun kejadian tersebut terjadi pada 1968/1969 atau hampir lima dekade lalu. Bertahun-tahun setelahnya, tidak ada lagi kesebelasan di Liga Champions yang bisa meraih kemenangan setelah kalah dengan selisih dua gol di kandang. Musim lalu, Juventus nyaris melakukannya di kandang Real Madrid sebelum apes akiibat penalti pada menit-menit terakhir.

Situasi inilah yang sedang dialami Manchester United jelang leg kedua menghadapi Paris Saint Germain. Setan Merah punya tanggung jawab yang cukup berat di Parc des Princes yaitu mencetak minimal dua gol atau lebih apabila ingin lolos ke perempat final. Tidak hanya mencetak gol, lini belakang juga harus memastikan gawang David De Gea pada Kamis dini hari nanti tidak kebobolan.

Sebuah badan analisis di Amerika Serikat, FiveThirtyEight, menyebut kalau peluang Setan Merah untuk bisa lolos hanya tinggal tiga persen saja. Hal ini jelas menandakan kalau United sudah hampir tidak punya harapan lagi di Liga Champions meski masih memiliki peluang.

“Kami punya pendukung yang bagus ketika bertandang. Kami tidak mau menyerah sebelum berjuang. Kami hanya ingin bertanding dan menikmati pertandingan. Kami tahu Paris menjadi tempat yang sulit. Kami bisa menang 4-2 dan lolos, oleh karena itu kami akan mencoba mengincar skor 2-0 terlebih dahulu. Jika kami bisa unggul 1-0 pada babak pertama, maka segala sesuatu bisa terjadi pada babak kedua,” tutur Ole Gunnar Solskjaer.

Membicarakan sesuatu yang positif adalah tipikal Ole Gunnar Solskjaer sejak menangani Manchester United. Hal ini cukup bagus untuk memberi kesejukan di ruang ganti. Termasuk ucapannya mengenai laga leg kedua. Benar kata Ole kalau segala sesuatu bisa terjadi di sepakbola. Ia merasakan sendiri bagaimana keajaiban di Camp Nou. Kalau United bisa menjuarai Liga Champions hanya dalam tempo tiga menit, maka United punya banyak sesuatu yang bisa dilakukan sepanjang 90 menit di Paris nanti.

Namun United punya banyak kendala. Yang paling utama tentu saja kehilangan 10 pemain andalannya. Sembilan diantaranya mengalami cedera yaitu Alexis, Herrera, Martial, Valencia, Lingard, Mata, Darmian, Matic, dan Phil Jones. Satu pemain lainnya adalah Paul Pogba yang terkena kartu merah pada pertemuan pertaman. Kehilangan Pogba tentu sangat merugikan Setan Merah mengingat tugas mengatur serangan ada di kakinya.

Kini, lini tengah hanya menyisakan Scott McTominay, Fred, dan Andreas Pereira. Ketiga pemain ini kemungkinan besar akan bermain mengisi lini tengah. Mereka bertiga memang tampil sangat baik dalam dua pertandingan terakhir United di liga primer, namun Liga Champions tentu menghadirkan tensi dan atmosfer yang berbeda.

Andreas Pereira akan menjadi tumpuan United sebagai pengganti Paul Pogba. Pertandingan melawan Southampton menjelaskan bagaimana ia adalah pemain yang cocok dimainkan sebagai gelandang serang. Namanya yang tidak sebesar Pogba diharapkan bisa mengecoh para gelandang bertahan PSG yang akan mengawal pergerakannya yaitu Marquinhos.

Menilik kekuatan United yang tersisa, Ole punya dua formasi yang bisa dimainkan. Pertama, ia bisa memainkan skema 3-4-1-2 dengan menugaskan Ashley Young dan Luke Shaw sebagai wing back. Formasi ini bisa memberikan keseimbangan terutama di sektor pertahanan yang menjadi titik lemah United pada leg pertama.

Formasi kedua adalah dengan bermain menggunakan skema yang biasa dipakai yaitu 4-3-3. Dalam dua pertandingan terakhir, Ole kerap memainkan Diogo Dalot sebagai penyerang sayap kanan. Hal ini sama seperti yang dilakukan Tuchel pada leg pertama. Dalot dibekali kemampuan overlap dan underlap yang sama bagusnya sehingga memudahkan kinerja sisi kanan untuk menghentikan Angel Di Maria.

Trauma Masa Lalu Menghantui PSG

Meski punya keunggulan dua gol, PSG pantang untuk meremehkan United. Thomas Tuchel khawatir United mendadak comeback seperti yang dilakukan Barcelona kepada mereka dua musim lalu. Trauma menyakitkan, menang 4-0 lalu kalah 6-1, masih membekas di beberapa pemain mereka.

“Kami perlu bermain tanpa rasa takut saat menjamu Manchester United dalam pertandingan kedua nanti. Namun kami perlu mengingat laga menghadapi Barcelona beberapa musim lalu. Kami menang 4-0 pada leg pertama dan tumbang 6-1 pada leg kedua. Jadi kami perlu selalu waspada,” tutur Tuchel.

Situasi PSG sebenarnya sama dengan United. Mereka sama-sama tidak bisa memainkan beberapa pilarnya. Neymar dan Edinson Cavani masih belum pulih dari cederanya. Namun kehilangan dua pemain ini bisa digantikan oleh Kylian Mbappe, Angel Di Maria, dan Dani Alves yang bermain bagus.

Jika ingin lolos, PSG hanya perlu untuk mempertahankan ritme permainan mereka layaknya leg pertama. United bisa jadi akan tampil ngotot karena ingin mengejar ketertinggalan. Pertahanan kokoh akan coba digalang Thiago Silva dan Presnel Kimpembe sebelum nantinya mengukum United melalui serangan balik memanfaatkan kecepatan Di Maria dan Kylian Mbappe.

Perkiraan Formasi

PARIS SAINT GERMAIN:

Gianluigi Buffon, Thilo Kehrer, Thiago Silva, Presnel Kimpembe, Thomas Meunier, Marco Veratti, Marquinhos, Julian Draxler, Angel Di Maria, Dani Alves, Kylian Mbappe

MANCHESTER UNITED:

David De Gea, Ashley Young, Victor Lindelof, Chris Smalling, Luke Shaw, Scott McTominay, Fred, Andreas Pereira, Diogo Dalot, Marcus Rashford, Romelu Lukaku

 

Comments