Foto: ManUtdNews

Seluruh pemain sepakbola di belahan dunia manapun tidak ada yang mau mengalami cedera. Istirahat panjang karena cedera bisa merenggut semua yang diiginkan pemain sepakbola. Kepercayaan pelatih, tim nasional, hingga karier, semuanya akan dipertaruhkan ketika si pemain harus merasakan rasa sakit yang luat biasa karena cedera.

Sayangnya, cedera menjadi makanan sehari-hari bagi Eric Bailly. Meski sudah fit, namun ia tetap tidak bisa menembus tim utama. Alasannya ya karena faktor kebugaran yang rentan tersebut. Inilah yang membuat jumlah penampilannya bersama United mentok di angka 113.

“Saya belum bermain sepakbola sejak menderita cedera lutut sejak April. Sulit sekali. Saya kesakitan, saya berjalan pakai tongkat. Saya tidak pernah menjalani operasi seperti ini. Sangat membingungkan memang ketika Anda bekerja sangat keras, tubuh Anda ternyata mengecewakan Anda,” kata Bailly saat menceritakan cedera parahnya di The Player’s Tribune.

Ya, cedera kini menjadi bagian dari lika-liku perjalanan seorang Eric Bertrand Bailly.

***

Sejak kecil, Eric Bailly sudah dihadapkan dengan lika-liku kehidupan yang sangat rumit. Ia dipaksa untuk memilih yaitu melanjutkan sekolah dengan serius atau bermain sepakbola. Pilihan yang sangat membingungkan untuk Eric yang saat itu masih berusia sembilan tahun. Sekolah adalah sebuah kewajiban, sedangkan sepakbola adalah kegemaran. Sayangnya, ia harus memilih salah satu.

“Berhenti sekolah adalah masalah di Pantai Gading. Jika Anda tinggal di rumah kayu yang kecil, maka pendidikan itu memiliki harga yang sangat tinggi. Karena itulah satu-satunya cara menuju kehidupan yang lebih baik. Kehidupan dengan tempat tidur hangat dan makanan di atas meja.”

Eric kecil menjalani kehidupan yang sama seperti bocah seusianya di desa kecil bernama Bingerville. Pergi ke sekolah pada pagi hari dan main sepakbola selepas pulang sekolah. Ia juga tidak lupa membantu orang tua. Membersihkan koridor, perabotan, hingga TV adalah tugas dari Eric kecil.

Ia memang menyebut kalau sekolah itu penting, tapi dalam lubuk hatinya ia ingin bermain sepakbola. Namun itu tidak bisa dilakukan. Selain karena orang tuanya menginginkan pendidikan yang tinggi bagi anak-anaknya, ayah Eric juga bekerja sebagai guru SD. Akan tetapi, Eric merasa kalau sepakbola bisa memberikan banyak hal. Sepakbola tampak sudah dihapus dari pikirannya sejak ia meninggalkan Bingerville dan pindah ke Abidjan karena ayahnya bekerja di sana.

Ketika usia Eric menginjak 13 tahun, ia akhirnya memilih dengan mantap kalau ia ingin menjadi pemain sepakbola. Ayahnya mengizinkan. Namun hal itu juga disebabkan karena keluarga mereka bertambah satu orang yaitu Arthur, adik Eric. Disinilah momen kalau orang tua Eric butuh uang yang sangat banyak untuk bisa mengurus rumah tangganya terlebih memberi makan Arthur yang baru saja lahir.

“Saya bersyukur dengan izin dari ayah. Saya harus mengambil keuntungan dari ini. Tidak peduli apakah saya bisa sampai ke Eropa atau tidak, yang penting saya menjadi pemain profesional, agar bisa menjadikannya sebuah pekerjaan dan membantu keluarga saya.”

Langkah awal Eric terbuka ketika ia diundang ke sebuah turnamen di Burkina Faso yang letaknya tidak jauh dari Pantai Gading. Ketika itu, Eric berusia 16 tahun. Turnamen ini digagas oleh Promoesport, yang terhubung dengan beberapa pemandu bakat dari berbagai kesebelasan-kesebelasan di Eropa. Sebuah pengalaman baru yang akan dijalani Eric dimulai dari dalam pesawat.

“Saya belum pernah naik pesawat. Hidup saya dipertaruhkan di dalam sana. Saya gugup. Petugas mengatakan untuk mengikat sabuk pengaman, tapi bagaimana caranya. Tidak ada tombol. Lalu dia berkata, ‘angkat kursi.’ Angkat? Angkat dengan apa?”

“Ketika pesawat naik, saya hanya berpikir apakah suara mesin pesawat yang melengking ini adalah normal? Saya melihat ke sebelah dan ternyata ada anak seusia saya yang juga pergi ke turnamen tersebut dan sama-sama belum pernah naik pesawat. Dia bahkan lebih takut daripada saya karena duduk di dekat jendela. Saya mencengkeram kursi dan hanya bisa menatap lurus. Saya tidak bergerak sama sekali.”

“Ketika take off, saya melihat kalau Abidjan sudah menghilang. Saya mencoba melihat di mana rumah kami dan jalan tempat saya dulu menjual rokok. Tapi yang saya lihat hanyalah landasan bandara, tempat di mana saya mengucapkan selamat tinggal kepada ayah. Penerbangan yang akan mengubah segalanya.”