OUR NETWORK

Garis Finis Antonio Valencia

Antonio Valencia pernah masuk dalam jajaran pemain tercepat di dunia. Kecepatan merupakan salah satu atribut utama bagi pemain kelahiran Lago Agrio ini. Hal ini yang membuat Sir Alex Ferguson mendapuknya sebagai pengisi kekosongan Cristiano Ronaldo ketika sang mega bintang melangkah menuju Real Madrid.

“Antonio adalah pemain yang kami incar selama dua sampai tiga bulan terakhir. Terutama setelah menghabiskan dua musim terakhir bersama Wigan. Saya yakin kecepatannya dan kemampuannya memberikan kontribusi yang signifikan,” kata Sir Alex Ferguson.

Inggris benar-benar berpihak kepada Valencia. Jika tidak ada Wigan Athletic, maka kariernya akan berjalan biasa saja bersama Villarreal. Seandainya Sir Alex Ferguson tidak menemukan bakatnya, maka dia tidak bisa meraih mimpinya untuk bermain di klub besar seperti Manchester United dan mendapatkan trofi-trofi prestisius.

Selama 10 musim, segala hal pernah dirasakan pemain berusia 33 tahun ini. Dari nikmatnya mengangkat trofi Premier League, bermain pada final Liga Champions, bekerja sama dengan tiga pelatih kelas dunia, hingga gelar-gelar individu, semua sudah pernah ia raih.

“Rene Meulensteen (pelatih tim utama) mengatakan kepada saya kalau ini adalah Manchester United dan Anda harus bekerja keras untuk menang. Klub ini selalu identik dengan trofi. Saya lalu merasa kalau saya suka dengan tantangan seperti ini. Oleh karena itu, saya harus berlatih keras dan berjuang sekuat tenaga.”

Ada dua musim, dari sepuluh musim kebersamaan Valencia bersama United, yang menunjukkan betapa hebatnya Antonio Valencia. Yang pertama adalah musim pertamanya bersama United yaitu 2009/2010. Mengisi kekosongan Cristiano Ronaldo di sisi kanan, ia bermain 49 kali dan mencetak tujuh gol. Namanya masuk dalam PFA Team of the Year musim tersebut dan bersanding dengan pemain tengah macam Cesc Fabregas, Darren Fletcher, dan James Milner. Hanya dia satu-satunya pemain Ekuador yang bisa melakukannya.

Dua musim kemudian, Valencia kembali menunjukkan kapasitasnya sebagai pemain penting Manchester United. Meski hanya bermain 38 kali, namun ia adalah salah satu pemain United yang tampil konsisten sepanjang musim tersebut. Hal ini yang kemudian membuatnya dianugerahi tiga gelar individu level klub yaitu pemain terbaik, pemain terbaik pilihan rekan setim, dan gol terbaik. “Seharusnya ada 20 penghargaan karena seluruh skuad layak mendapatkannya,” ujar Valencia dengan nada merendah.

Valencia memang tidak punya atribut yang sama dengan Cristiano Ronaldo. Dia tidak bisa melakukan step over. Apalagi menendang tendangan bebas. Kaki kirinya bahkan jarang terpakai sampai-sampai Pangeran Siahaan dalam bukunya yang berjudul “The Big Pang Theory”, menyebut Valencia sebagai pemain yang mono-dimensional di dunia. Meski tidak jarang kaki kirinya membuat kita terkejut. Seperti golnya ke gawang Stoke City pada musim lalu.

Valencia punya ketangguhan fisik yang membuat para pemain belakangnya kesulitan untuk mengawalnya. Dia bagaikan kereta api yang melaju tanpa transit. Kalau tidak percaya, lihat lagi rekaman ketika United mengalahkan Liverpool pada September 2012. Dalam situasi bola tanggung, Valencia memenangi sprint hingga membuat Glen Johnson dan Daniel Agger terkapar karena bertabrakan satu sama lain.

Namun sehebat-hebatnya dan sekuat-kuatnya Valencia, ia pernah mengalami nasib naas. Yang paling menyedihkan adalah ketika engkelnya rusak saat bermain melawan Glasgow Rangers pada Liga Champions musim 2010/11. Cedera saat itu memaksanya untuk absen selama enam bulan. Beruntung, ia kembali prima setelah sembuh dan bermain dalam beberapa pertandingan termasuk final Liga Champions melawan Barcelona.

“Malam yang penuh rasa sakit. Saya terkapar setelah kejadian itu. Dua hingga tiga bulan pemulihan terasa membosankan. Itulah kali pertama saya tidak bermain untuk jangka waktu yang lama. Namun saya berhasil kembali dan saya merasa sangat senang.”

Transformasi Sebagai Bek dan Cedera yang Menggerogoti Kariernya

Meski tidak termasuk pemain hebat, namun Valencia dikenal akan etos kerjanya yang cukup tinggi. Ia tidak pernah mengeluh apabila jarang mendapatkan kesempatan. Bahkan ketika posisinya dipindah menjadi seorang pemain belakang, ia memilih untuk beradaptasi dan menjalani peran barunya tersebut.

Di era kepelatihan Jose Mourinho, Valencia lebih banyak bermain sebagai bek kanan. Posisi ini sebenarnya sudah pernah ia rasakan semasa era Ferguson dan Louis van Gaal. Namun di era Mourinho lah ia menjalani peran barunya secara reguler. “Saya senang bermain sebagai bek kanan. Namun saya sebenarnya lebih nyaman dengan posisi saya sendiri.”

Meski skema ini sering menimbulkan celah, salah satunya adalah sering terlambatnya Valencia dalam melakukan jebakan offside dan ketika melakukan transisi, namun ia sukses menjalani peran barunya. Oleh rekan setimnya, ia kembali dipilih sebagai pemain terbaik.

Sayangnya setelah itu perjalanan Antonio Valencia mulai menemui hambatan. Serangkaian cedera membuatnya kerap absen dalam beberapa pertandingan. Puncaknya terjadi pada musim ini saat ia menderita cedera lutut yang membuat tempatnya di sisi kanan diambil alih Ashley Young. Bahkan di era kepelatihan Ole Gunnar Solksjaer, dia juga jarang mendapat kesempatan hingga akhirnya ia memilih untuk mengakhiri kebersamaan sepuluh musim di kota Manchester.

Attitude yang Membuatnya Begitu Dicintai

Satu hal yang membuat Valencia pantas untuk dikagumi adalah Attitude-nya yang cukup bagus baik di dalam atau di luar lapangan. Berkat attitude-nya tersebut, Valencia beberapa kali didapuk sebagai wakil kapten dan baru diangkat sebagai kapten utama mulai musim ini.

“Hidup akan lebih indah jika semua pemain sepakbola seperti Antonio. Ia tenang, rajin, dan punya manner yang baik sebagai seorang pria,” kata Dave Whelan, Chairman Wigan ketika menggambarkan sikap pemainnya tersebut.

Tidak bisa juga kita lupakan saat Valencia meminta kembali nomor 25 yang menjadi ciri khasnya bersama United. Pada musim 2012/2013, ia mendapat nomor tujuh warisan dari Michael Owen. Akan tetapi, ia gagal menunjukkan penampilan terbaiknya sehingga ia menginginkan kembali nomor 25 yang sebelumnya ia pakai.

“Saya ingin berganti nomor menjadi 25 karena faktor psikologi atau mungkin karena saya tidak beruntung menggunakan nomor tersbut. Di Ekuador, kami mempercayai hal-hal semacam itu sebagai klenik,” tuturnya.

***

Laju cepat Antonio Valencia bersama Manchester United baru saja menemui garis finis pada pekan lalu. Penampilannya beberapa menit bersama Setan Merah menjadi penutup dari kebersamaan selama sepuluh musim. 339 penampilan, 25 gol, dan sembilan gelar menjadi penutup yang manis bagi kariernya selama sepuluh musim. Tidak ada yang bisa ia ucapkan selain rasa terima kasih atas dukungan yang membuatnya bisa bertahan hingga waktu yang sangat lama.

“Terima kasih atas dukungan yang diberikan tanpa henti kepada saya. Saya doakan yang terbaik kepada mereka semua untuk masa depan dan tim yang akan datang akan memberikan kemenangan yang hebat,” kata Valencia.

“Hati saya akan selalu untuk Manchester United. Saya akan selalu jadi penggemar klub. Manchester adalah rumah yang indah terutama bagi putri saya. Saya harap para penggemar terus memberikan dukungan kepada United agar mereka bisa meraih banyak trofi.”

Muchas Gracias, Antonio!

Comments