Foto: Manchester evening News

Adnan Januzaj merasa kalau kegagalannya di Manchester United bukan karena salahnya sebagai pemain tapi karena manajernya yang dianggap tidak mengerti cara memaksimalkan perannya.

Tidak ada yang menyangka kalau kemenangan 2-1 Manchester United atas Sunderland pada 5 Oktober 2013 ditentukan oleh seorang bocah 18 tahun minim pengalaman bernama Adnan Januzaj. Ia memborong dua gol kemenangan tersebut melalui kualitas yang ia pertontonkan. Pergerakan tanpa bola yang baik pada gol pertama serta tendangan voli deras pada gol kedua.

Pada titik inilah karier Januzaj berubah. Dari yang sebelumnya dipandang biasa saja, beritanya mulai muncul dengan narasi kalau dia adalah calon pemain masa depan untuk klub tersebut. Glorifikasi di kalangan suporter muncul. Entah ini pemain akademi keberapa yang dilabeli rising star oleh mereka. Meski masih mentah, namun tidak ada yang peduli kalau Januzaj ini masih butuh bimbingan.

Hampir delapan tahun setelah peristiwa besar tersebut. Januzaj kini mulai berubah. Dari yang sebelumnya pemain muda, kini ia mulai menjadi pemain yang sudah matang dari segi permainan dan pengalaman. Ia bahkan berperan untuk keberhasilan negaranya pada Piala Dunia 2018. Namun, itu semua tidak ia raih bersama Manchester United.

Momen dua gol ke gawang Sunderland adalah satu dari sedikitnya momen-momen terbaiknya di kota Manchester. Semuanya terjadi pada satu periode yaitu ketika tampuk kepemimpinan dikuasai oleh David Moyes. Gelar pertama, starter, debut tim utama, debut timnas, gol pertama, assist pertama, semuanya ia dapatkan saat Moyes menjadi manajer.

Permainannya meredup ketika Louis van Gaal datang. Menit main merosot drastis, permainannya kurang terlihat. Satu-satunya peningkatan yang terlihat darinya adalah nomor punggungnya dari 44 menjadi 11. Alih-alih seperti Giggs, Januzaj justru menjadi pesakitan.

“Saya dulu punya Ferguson dan David Moyes yang percaya kepada saya. Lalu kemudian saya tidak memiliki pelatih yang tepat untuk mendorong saya. Misalnya Van Gaal, saya hanya main satu kali dari enam pertandingan. Ini sulit bagi saya,” ujarnya.

***

Sebenarnya, sosok Januzaj tidak ditemukan oleh Moyes. Namanya sudah mencuat ketika United masih dilatih oleh Sir Alex Ferguson. Pada laga ke-1500 sekaligus laga terakhir sang gaffer ia sudah duduk di bangku cadangan ketika mereka melawan WBA. Ada yang bilang kalau dia harusnya mendapat debut saat itu jika para pemain senior di lapangan tidak bermain buruk yang membuat keunggulan 5-2 menjadi 5-5.

Saat itu, Januzaj merupakan bocah kalem yang begitu pemalu. Saking terlalu baby face-nya Adnan, para staf pelatih enggan untuk berlagak menawarinya minum saat orang-orang seperti Albert Morgan, Fergie, hingga Mike Phelan mendentingkan gelasnya.

“Adnan ini pemain yang seimbang. Dia harus tumbuh terutama postur badannya. Tapi dia punya keseimbangan yang bagus, akselerasi yang bagus, dan teknik yang bagus,” kata Ferguson.

Adnan adalah seorang penyerang sayap yang memiliki kemampuan dalam akselerasi dan kecepatan. Skill individunya juga cukup bagus. Ia adalah pemain yang bisa berlama-lama menguasai bola.

Namun, kelebihan ini yang membuatnya menjadi kartu mati bersama Van Gaal. Sang meneer tidak suka pemain yang atributnya hanya satu dimensi. Inilah kenapa ia melepas Nani, Rafael, dan Javier Hernandez. Januzaj pernah ia coba sebagai pemain nomor 10 dan itu gagal total. Pemain yang ia mau adalah pemain yang multi fungsi dari segi taktis bukannya formasi. Inilah kenapa dia merekrut Daley Blind dan begitu suka memaksimalkan Fellaini.

Sayangnya, Januzaj terjebak situasi. Ia ingin pindah saat itu. Namun pihak klub sebelumnya sudah memberi kontrak jangka panjang. Sulit untuk mencari klub yang mau membeli pemain masih mentah seperti dirinya. Bangku cadangan ia rasakan.

“Jika saat itu saya bisa memilih untuk meninggalkan klub sebelum dia (Van Gaal) datang, maka saya lebih baik pergi. Tetapi, kontrak saya panjang saat itu dan saya yakin kalau saya bisa bertahan lama di sana. Jika saya tahu kalau orang-orang ini ternyata tidak percaya kepada saya, maka saya lebih baik pergi,” ujarnya.

Klaim Januzaj ini bertolak belakang dengan penuturan Van Gaal dan Thomas Tuchel. Menurut dua manajer hebat Eropa itu, karier Januzaj yang merosot merupakan kesalahannya sendiri. Van Gaal dengan enteng menyebut kalau sepanjang kariernya banyak pemain muda yang telah dapat kesempatan bersamanya, sedangkan Tuchel menyebut kalau Januzaj sudah tidak serius sejak hari pertama di Dortmund.

Sebenarnya, Dortmund bisa menjadi tempat yang bagus karena perhatian mereka kepada pemain muda. Namun, Januzaj berontak kalau dia hanya ingin dijual. Di Jerman, Dortmund beberapa kali dibuat tersinggung olehnya karena suka membanding-bandingkan mereka dengan United.

“Pikirannya sedari awal memang tidak ada di Dortmund. Kami tidak bisa membantunya karena dia selalu membandingkan apa yang ada dengan di United,” kata manajer Chelsea ini.

Pada momen ini, Januzaj begitu frustrasi. Tidak ada jaminan juga dia bakal dibeli Dortmund karena pinjamannya tidak disertai opsi permanen. Kalaupun ia main bagus, ia akan kembali ke United dan bertemu lagi dengan Van Gaal. Dia benar-benar ingin menghindari pria itu.

“Saat itu, saya hanya ingin pergi dan tidak mau jadi pemain pinjaman. Jika Anda tidak memiliki orang yang tepat, pelatih yang tepat, maka sulit bagi Anda untuk menunjukkan diri Anda di lapangan untuk mengekspresikan diri. Ferguson dan Moyes adalah orang yang memberi saya cinta dan kebebasan,” katanya.

***

Masuknya Jose Mourinho juga tidak membawa perubahan apa pun. Peminjamannya ke Sunderlansd adalah tanda kalau ia sudah tidak lagi dibutuhkan. Pada musim panas 2017, Adnan akhirnya bisa lepas dari kurungan setelah ia menandatangani kontrak dengan Real Sociedad.

Jumat dini hari nanti Real Sociedad akan menghadapi Manchester United pada 32 besar Liga Europa. Januzaj akan berjumpa dengan mantan klubnya. Ia bisa saja menjadikan laga ini sebagai ajang pembuktian kalau dia kini sudah jauh lebih baik meski tidak lagi bersama United. Namun dia merasa tidak perlu membuktikan apa-apa.

“Tidak ada yang perlu saya buktikan karena saya tahu kualitas saya. Saya tidak harus membuktikan seberapa bagusnya saya. Saya hanya perlu percaya pada diri sendiri,” ujarnya.

Kontrak Januzaj di Sociedad kini tinggal satu tahun. United juga masih memiliki opsi buy back. Mereka juga butuh pemain yang bisa beroperasi di sayap kanan dan Januzaj memenuhi kriteria itu. Akan tetapi, tampaknya opsi pembelian kembali ini tidak akan dipakai. Lagipula, Januzaj tampaknya sudah nyaman bermain untuk Real Sociedad. Kesebelasan yang mampu membuatnya bisa menikmati sepakbolanya kembali dengan penuh keangkuhan.

“Seorang pelatih harus melindungi pemainnya, terutama ketika mereka tahu kalau si pemain itu adalah pemain yang bisa memberi perbedaan bagi timnya,” kata Januzaj.