OUR NETWORK

Mood, Mourinho, dan Manchester Derby

Oleh: Himawan Teguh Pambudi*

Mood adalah sebuah kondisi emosional yang biasa kita alami dalam beberapa menit sampai beberapa minggu. Kondisi mood seseorang mempengaruhi cara berespons seseorang pada stimuli atau rangsangan.

Misalnya jika seseorang dalam kondisi mood depresi akan merespons negatif pada segala sesuatu yang tampaknya menyerang. Atau bila seseorang dalam kondisi mood senang akan lebih mudah merespons sesuatu yang sifatnya kritik dengan positif.

Tampaknya, mood yang tidak terlalu baik dirasakan oleh seorang Jose Mourinho menjelang Manchester Derby.  Dalam jumpa pers yang biasanya dilakukan sehari sebelum pertandingan, Mourinho agaknya memilih untuk tidak banyak omong.

“Motivasi saya adalah untuk finish di posisi kedua. Saya masih mempunyai motivasi untuk finish di top four. Secara matematis itu belum terlaksana. Adalah jarak yang cukup bagus (dengan Chelsea di peringkat kelima) tetapi belum dapat dipastikan jadi pastilah itu tujuan yang pertama. Tujuan saya untuk besok adalah untuk mempunyai poin supaya dapat finish di posisi kedua,” dengan lugas dan tepat guna Mou menjawab.

“Untuk finish di posisi kedua, ketiga atau keempat sebenarnya intinya adalah sama. Anda tidak mememangkan gelar tetapi masuk ke Liga Champions. Namun tentu saya lebih suka pada posisi kedua daripada ketiga, ketiga daripada keempat.”

“Kami sudah berada di posisi kedua selama beberapa bulan, jadi tujuan kami adalah bertarung untuk hal tersebut dan untuk itu kami membutuhkan poin yang penting. Tujuan saya untuk besok adalah untuk mempunyai poin supaya dapat finish di posisi kedua,” tutup manajer yang musim lalu menghadirkan trofi Europe League yang pertama bagi United.

Kemudian ketika jurnalis bertanya tentang apakah ia merasa mengalahkan City dalam transfer Alexis Sanchez, dengan tajam dia menjawab. “Apakah kami begitu? Bukankah itu pendapatmu (jurnalis)? Apakah mereka mengeluarkan uang di Januari? Apakah kamu bisa mengkonfirmasikan hal itu? Saya tidak tahu. Saya tidak punya ide apakah mereka tertarik (kepada Sanchez) atau tidak, saya tidak tahu.”

Puncaknya adalah ketika ia diberodong pertanyaan terkait dengan penampilan lawannya hari Sabtu nanti, Manchester City. Saat ditanya tentang permainan City lawan Liverpool, Mou dengan ketus menukas, “Saya bukan pundit, saya tidak akan mengkomentari permainan.”

Lalu, merespons pertanyaan “Apakah permainan City melawan Liverpool memberimu ide bagaimana pendekatan anda dalam permainan?” Mou sekedar menjawab “tidak”.

Terakhir ketika ditanya “Apakah anda mempunyai pemain-pemain yang cukup untuk melukai City? Mouriho merespons singkat: “ya kami punya.”

Tentu saja respons Mou amatlah wajar, mengingat pertanyaan-pertanyaan yang diajukan bukanlah mengenai persiapan timnya atau pemain United. Namun malah terkait dengan penampilan rival yang akan dihadapinya besok.

Baca juga: Taktik Dilematis yang Harus Dipilih Jose Mourinho

Bisa kita tengarai agaknya mood Mourinho sedang tidak dalam kondisi terlalu menggembirakan, terlebih ketika berhadapan dengan media. Sepanjang musim dikritik karena pendekatannya yang terlalu pragmatis dan defensif. Ia dipertanyakan media terkait hubungannya dengan Pogba. Bahkan di derby yang sebelumnya di Old Trafford harus mengalami kekalahan. Belum lagi tercium adanya insiden yang melibatkannya dengan pemain-pemain City di ruang ganti, adalah kondisi yang bisa membuat mood Mou tak terlalu bagus.

Tetapi harus dipahami, bahwa kondisi mood bukanlah kondisi yang menetap. Orang yang berkepribadian kuat akan bisa mengatasi mood negatifnya dan tetap memaksimalkan potensi yang ada. Kita sudah melihat Mou melewati musim-musim dan berbagai situasi yang sulit. Kepribadiannya yang kuat membuatnya mampu bertahan di tengah badai kritikan dan tetap meraih prestasi.

Baca juga: Derby Manchester, Antara Pertaruhan Juara dan Harga Diri

Malam ini adalah malam yang sangat penting bagi Manchester United. Tentu saja yang terpenting adalah tiga poin untuk segera mengamankan posisi kedua. Lalu yang kedua adalah gengsi. Bila City bisa mengalahkan United, maka City bisa menjadi tim yang memecahkan rekor United sebagai klub yang mengunci gelar tercepat (di musim 1999/2000) dengan sisa empat pertandingan.

Tentu kondisi ini tidak diinginkan fans United. Luka yang diberikan City musim lalu di Old Trafford dengan kekalahan 1-2, dan musim ini juga di laga Home dengan skor yang sama, masih tergiang di benak para fans United. Semoga kepribadian kuat Mou, respons taktikal yang tepat, dan performa top dari pemain-pemain United bisa menggairahkan malam Minggu pendukung United serta memberikan secicip kebahagiaan untuk menghadapi minggu yang akan datang.

Baca juga: Menelusuri Kemampuan Psikologis Jose Mourinho

*Penulis adalah penggemar Manchester United yang menjadikan tulisan dan sepakbola sebagai oase di tengah ributnya kehidupan masyarakat modern. Berakun twitter di @himawantpambudi

Comments

Loading...