OUR NETWORK

McFred: Sebuah Dilema

Oleh: Aldy Rasyid

Bagi penggemar setia Manchester United, “McFred” merupakan istilah yang tidak asing di telinga. Kata tersebut merupakan singkatan dari nama Scott McTominay dan Fred. “McFred” sebagai duet di lini tengah sangatlah kontroversial. Banyak yang menyukai kedua pemain ini, dan banyak pula yang menganggap mereka tidak layak untuk mengawal lini tengah United.

McTominay merupakan produk asli akademi United yang telah dibina oleh klub sejak usia lima tahun. McTominay merupakan pemain yang sangat disukai oleh Sir Alex Ferguson. Banyak yang mengatakan hal ini hanya karena keduanya sama-sama berasal dari Skotlandia. Namun lebih dari itu, Sir Alex sangat menyukai permainan McTominay sampai-sampai ia menyarankan Jose Mourinho, pelatih United saat itu, untuk memberikan debut kepadanya pada musim 2016/2017.

Sejak menjalani debutnya, McTominay terus mendapat menit bermain yang konsisten hingga sekarang menjadi pilihan utama. Yang menarik, McTominay tidak memulai karirnya sebagai seorang gelandang. Di Akademi United, ia lebih sering bermain sebagai striker murni yang memanfaatkan postur tubuhnya untuk mencetak gol. Ternyata, posturnya yang di atas rata-rata membuat para pelatih merasa ia mampu bermain lebih dalam sehingga akhirnya posisinya diubah menjadi gelandang.

Sementara itu, Fred merupakan pemain yang didatangkan United dari Shakhtar Donetsk. Ia adalah seorang pemain berkebangsaan Brasil berkaki kiri. Ia lantas disama-samakan dengan Anderson, pemain asal Brasil yang pernah menjadi andalan Sir Alex Ferguson.

Bersama Shakhtar, Fred merupakan tipikal gelandang box-to-box modern. Ia diberikan keleluasaan untuk membawa bola dari lini tengah ke depan, baik untuk mengoper kepada para penyerang dan bahkan menembak langsung ke gawang.

Kedatangannya ke United pada musim 2018/2019 cukup mengherankan. Bukan karena kualitasnya, karena terbukti bahwa Fred juga diincar oleh Manchester City. Belakangan, muncul berita yang mengatakan bahwa Mourinho “terpaksa” mendatangkan Fred karena hanya Fred satu-satunya gelandang yang boleh didatangkan dengan izin Ed Woodward, CEO United. Dengan kata lain, datangkan Fred atau tidak sama sekali.

Awalnya, McFred bukan merupakan pemain utama. Namun Paul Pogba yang sering cedera, Nemanja Matic yang semakin menua, dan Ander Herrera yang pergi secara bebas transfer mengubah kondisi yang ada.

Sejak Ole Gunnar Solskjaer ditunjuk menjadi manajer permanen, McFred menjadi pilihan utama yang tidak tergantikan. Secara taktikal, peran McFred cukup sederhana. Mereka mengisi posisi double pivot dalam pakem 4-2-3-1 andalan Ole.

United di bawah asuhan Ole lebih banyak bermain dengan serangan balik: menyerap serangan lawan, bertahan dengan compact, lalu Fred atau McTominay dengan cepat memberikan bola pada para penyerang.

Cara bermain seperti ini sempat dirasa efektif karena United mampu mencuri kemenangan melawan tim-tim besar. Namun, United kerap kali kesulitan saat melawan tim lebih lemah yang bertahan dengan low block.

Hal ini disebabkan karena kemampuan mengoper McFred yang di bawah rata-rata. Keduanya juga kurang nyaman menerima bola di lini tengah sehingga kedua bek tengah sering langsung memainkan bola-bola atas yang tidak terarah. Masalah ini sejatinya sangat jelas terlihat setiap United bertanding. Namun, Ole dan staf-nya seperti tidak menyadari hal tersebut dan tetap memainkan McFred.

Sebenarnya, McTominay dan Fred bukan merupakan pemain yang jelek. Permasalahan utama terletak pada fakta bahwa keduanya memiliki karakter dan gaya permainan yang sama persis. Keduanya merupakan pemain yang sama-sama lebih efektif jika dimainkan lebih ke depan dan diberikan keleluasaan untuk membantu serangan.

Ketika melawan Arsenal di Old Trafford musim ini, Fred bermain lebih ke depan dan berhasil masuk ke kotak penalti untuk memberikan asis kepada Bruno. Beberapa pekan berselang, McTominay bermain bersama Matic dan diberikan keleluasaan untuk menyerang. Hasilnya, ia mampu mencetak gol.

Pelatih anyar United, Ralf Rangnick, sepertinya mulai memahami jawaban dari dilema ini. United akan bermain lebih baik jika McTominay dan Fred tidak dimainkan bersama. Salah satu di antara mereka lebih cocok dimainkan bersama gelandang bertahan seperti Matic. Dengan begitu, lini tengah United akan jauh lebih seimbang karena terdapat pembagian tugas yang jelas antara gelandang bertahan dan gelandang menyerang.

Sayangnya, Matic saat ini sudah memasuki usia 33 tahun. Hal ini berarti ia tidak dapat dimainkan 90 menit penuh dalam setiap pertandingan. Dengan kondisi seperti ini, tidak dapat dielakkan bahwa Rangnick akan terpaksa memainkan McFred lagi pada saat tertentu.

Sebenarnya, solusi dari dilema ini sangat jelas. United wajib mendatangkan seorang gelandang bertahan. Berbagai nama ramai dibicarakan di media, mulai dari Declan Rice, Aurelien Tchouameni, Denis Zakaria, Boubacar Kamara, Amadou Haidara, hingga Ruben Neves.

Siapapun dari 6 pemain ini jelas akan meningkatkan lini tengah United secara signifikan. Hanya saja, United dikabarkan tidak akan mendatangkan pemain pada bursa transfer Januari ini. Hal ini karena status Rangnick sebagai manajer sementara membuatnya sulit untuk membawa pemain. Karena bisa saja pemain yang didatangkan tidak disukai oleh manajer United selanjutnya.

Pada akhirnya, fans United hanya bisa menunggu. Jika memang United tidak akan mendatangkan gelandang bertahan bulan ini, maka kita akan tetap menyaksikan McFred hingga akhir musim.

Comments

Loading...