OUR NETWORK

Mana Rasa Empatimu Scholes?

Selamat pagi Paul Scholes. Saya harap kamu sedang tidak memiliki kegiatan agar bisa membaca keluh kesah saya ini. Semoga Anda mau menerima tulisan saya ini sebagai teman minum teh sekaligus menemani sarapan Anda bersama keluarga.

Sebenarnya saya adalah penggemar Anda. Saya selalu dibuat kagum oleh pertunjukkan umpan-umpan baik pendek maupun panjang yang sangat akurat. Jangan lupa, sepakan jarak jauh mu yang bisa membuat saya geleng-geleng kepala.

Beberapa waktu lalu, saya dibuat heran oleh penampilanmu di acara golf bersama penggemar nomor satu Setan Merah, Rory Mcllroy. Dengan bola berada di pasir, Anda berhasil memasukannya ke dalam lubang hanya dalam sekali pukul sehingga membuat saya berkata, “form is temporary, class is permanent.”

Akan tetapi, saya langsung dibuat terkejut oleh Anda beberapa saat setelah final Liga Champions 2018 berakhir. Ya, saya akui kalau saya juga senang karena rival kami kalah dari Si Raja Eropa dengan skor 3-1. Saya juga tertawa melihat penjaga gawang mereka yang entah kenapa bisa melakukan dua kesalahan konyol di turnamen final tertinggi antar klub Eropa. Sebelum dia datang ke Inggris, dia adalah penjaga gawang terbaik kedua di Jerman setelah Manuel Neuer.

Tapi saya kaget ketika mendengar komentar Anda terkait cedera yang diderita Mohamed Salah dan Dani Carvajal. Anda mengkritik sikap mereka yang menangis saat keluar lapangan sebagai tindakan yang berlebihan. Lalu, tiba-tiba anda mengatakan kalau pemain sekarang jauh lebih sensitif dan mudah tersentuh sehingga gampang sekali menangis.

Paul, beberapa pendukung United justu menyebut Anda sebagai pria yang tidak punya hati. Mereka tidak membela Salah maupun Carvajal, tetapi mereka mengkritik ucapan Anda. Saya paham kalau semua manusia boleh memiliki pendapat yang berbeda. Tetapi, benarkah dalam hati kecil Anda tidak ada lagi rasa empati kepada dua pemain tersebut?

Apakah laki-laki tidak boleh menangis? Tidak juga. Tapi, laki-laki memang tidak mudah untuk menangis. Apabila mereka menangis, mungkin itu dikarenakan mereka kehilangan sesuatu yang paling berharga. Baik Carvajal maupun Salah terancam kehilangan sesuatu yang tidak ternilai dalam karier mereka yaitu bermain di Piala Dunia.

Mesir bukan negara kuat di dunia sepakbola. Kekuatan mereka baru sebatas tingkat benua dengan memegang status pemenang Piala Afrika terbanyak. Kapan terakhir kali mereka bermain di Piala Dunia? Tahun 1990 saat Jerman masih terpisah menjadi dua.

Butuh 28 tahun bagi rakyat mereka untuk menunggu negara mereka kembali tampil di pesta bola terbesar dunia tersebut. Keberhasilan mereka lolos ke Russia dikarenakan ketenangan Salah saat mengeksekusi penalti melawan Kongo pada menit terakhir.

Nama Mesir terangkat berkat Salah. Di jalanan kota Liverpool, tidak sedikit orang yang mengenakan rambut palsu dan jenggot palsu agar mirip dengan Salah. Rakyat Mesir sampai menuliskan nama Salah pada pemilu mereka beberapa waktu lalu. Bahkan ada yang menyebut kalau hanya butuh satu Salah untuk membuat para pendukung Liverpool menjadi mualaf.

Lantas, wajar rasanya jika melihat Salah menangis di laga final kemarin. Para pendukung Mesir juga akan kaget. Sosok bintang mereka terancam digantikan oleh Mohamed lain yang bernama belakang Elneny.

Scholes, tahukah Anda kalau kejadian yang menimpa Carvajal sama persis saat dirinya bermain di Liga Champions dua tahun sebelumnya? Ketika itu, ia juga mengalami cedera yang membuat dirinya gagal bermain di Euro 2016 yang akan menjadi turnamen besar pertama Carvajal.

Carvajal jelas merasa sedih. Hanya dalam dua tahun ia terancam kehilangan kesempatan bermain di dua ajang besar berskala Internasional. Kejadian pada tahun 2016 mungkin terbayang kembali dalam pikiran Carvajal saat ia berjalan keluar dari NSC Olimpiskiy Arena. Hal itulah yang membuat dirinya menangis.

Itulah alasan kuat mengapa mereka menangis Paul. Lalu anda membandingkan situasi keduanya dengan situasi yang anda alami saat terkena akumulasi kartu di final Liga Champions 1999 yang menurut saya tidak ada hubungannya sama sekali.

Saat semifinal melawan Juventus, anda terkena kartu kuning karena menekel Didier Deschamps. Dalam tayangan ulang, tekel Anda mengenai tulang kering Deschamps dan pantas untuk diberikan kartu kuning.

Gagal bermain di final Liga Champions memang menyakitkan, tetapi bobot Liga Champions yang selalu ada setiap tahun jelas berbeda dibanding Piala Dunia yang hanya empat tahun sekali. Maka wajar apabila mereka menangis karena baik Salah maupun Carvajal sama-sama sedang berada dalam usia emas sebagai pesepakbola yaitu 26 tahun. Dan belum tentu mereka masih bisa mempertahankan performa saat ini ketika usia mereka menginjak 30 tahun pada 2022.

Scholes, tahukah kamu persamaan antara Eusebio, Gianluigi Buffon, Cristiano Ronaldo, dan Paul Gascoigne selain sama-sama pemain bola? Ya, keempat pemain ini pernah menangis karena kehilangan sesuatu yang paling bernilai di mata mereka. Eusebio kehilangan final Piala Dunia 1966, Buffon kehilangan Piala Dunia terakhirnya, CR7 sesenggukan saat dalam dua musim ia kehilangan Piala FA 2005 dan Piala Eropa setahun sebelumnya. Sementara Gazza mengalami hal yang sama dengan Eusebio.

Surat ini saya akhiri dengan harapan kalau apa yang Anda ucapkan hanya sebatas rasa iri karena karier Internasional Anda yang tidak terlalu baik dibanding level klub. Dua Piala Dunia yang Anda mainkan berjalan biasa-biasa saja bahkan tidak berkesan sama sekali karena strategi konyol pelatih negara Anda.

Oh iya Scholes, di Indonesia ada grup band terkenal bernama Armada yang salah satu hits terbaiknya berjudul Buka Hatimu. Lagu itu bercerita mengenai seorang Pria yang memohon kepada Wanita yang disukainya untuk membuka hatinya sedikit saja agar si Pria punya kesempatan untuk menjadi kekasihnya.

Saya berharap anda mau mendengarkan lagu tersebut saat waktu luang sambil membayangkan bagaimana Salah dan Carvajal memohon kepada federasi sepakbola mereka masing-masing agar tidak mengeluarkan mereka dari skuad.

Comments

Loading...