OUR NETWORK

Bruno Fernandes dan Kisah Penolakan Pemain oleh Manchester United

Dalam bursa transfer, ditolak oleh pemain incaran mungkin sudah biasa. Namun akan sangat menarik jika ternyata pihak klub yang menolak mendatangkan pemain yang “disebut-sebut” sebagai incaran mereka.

***

Ketika bursa transfer musim panas 2019 dibuka, Manchester United langsung diisukan untuk mendatangkan seorang gelandang Portugal bernama Bruno Fernandes. Pemain berusia 24 tahun itu bahkan sudah memberi sinyal kalau ia bisa saja berganti seragam pada musim kompetisi 2019/20.

“Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku ingin hengkang karena aku bahagia di sini (Sporting). Meski demikian, Anda tentu tidak bisa mengatakan tidak jika ada penawaran bagus. Aku akan pergi jika Sporting menyetujuinya. Aku sangat bermimpi bisa bermain di Inggris,” tuturnya kepada Calciomercato awal Juni lalu.

Seketika rumor transfer United tidak bisa lepas dari pemain yang pernah mengawali karier di Serie A tersebut. Beberapa angin segar sempat datang saat segelintir media mengumumkan kalau United selangkah lagi mendatangkan Bruno. Bayang-bayang kalau lini tengah United akan kuat dengan trio McTominay, Pogba, dan Bruno pun mulai terngiang-ngiang di telinga para penggemarnya.

Catatan Bruno sangat mentereng musim lalu. Ia membuat 20 gol (runner-up setelah Haris Seferovic) dan 13 asis (runner-up setelah Pizzi), meraih tiga gelar pemain terbaik bulanan (Desember, Februari-April), dan menguasai gelar gelandang terbaik selama enam bulan beruntun. Torehan tersebut membuktikan kalau dia adalah pemain yang punya kualitas.

Setelah menunggu hingga akhir bursa transfer, United ternyata tidak kunjung mendatangkan Bruno. Ia disinyalir tidak masuk dalam buruan utama Ole Gunnar Solskjaer yang sudah puas dengan komposisi skuad di lini tengah. Menurut Daily Mail, Bruno tidak didatangkan karena para pemandu bakat United menilai kalau permainan mantan pemain Sampdoria ini penuh dengan risiko.

Gaya main Bruno dianggap tidak cocok dengan skema milik Solskjaer. Bruno dinilai terlalu sering kehilangan penguasaan bola. Di sisi lain, Solskjaer memang menginginkan gelandang yang bisa memegang bola dengan baik. Hal ini yang membuat United akhirnya menolak untuk mendatangkan Bruno.

Tidak hanya itu, kubu United juga kesal dengan pemberitaan media yang terus mengaitkan mereka dengan Bruno. Hal tersebut dianggap sangat berlebihan yang kemudian membuat United perlahan mundur teratur dari potensi kesepakatan dengan Sporting karena harganya yang kemudian menjadi overprice.

Benarkah Bruno Lebih Sering Kehilangan Bola?

Para pencari bakat United mungkin punya pendapat lain terkait penampilan Bruno. Meski ia adalah pemain dengan nilai tertinggi di whoscored, namun ada beberapa aspek yang mungkin dirasa tidak akan cocok dengan skema United. Salah satunya mungkin adalah akurasi operan. Musim lalu, akurasi operannya hanya berada di angka 75%. Bruno dianggap masih sering salah melakukan umpan.

Di Premier League sendiri, akurasi umpan Bruno masih kalah dengan rekan senegaranya seperti Joao Moutinho atau Bernardo Silva. Bahkan catatan ini lebih buruk dari Paul Pogba yang oleh penggemar United dinilai belum menampilkan permainan terbaiknya bersama sejak dibeli pada 2016.

Namun akurasi rendah tersebut bisa menjadi tidak berarti jika melihat jumlah asisnya yang mencapai 13 di kompetisi domestik. Pemain yang berposisi sama dengan Bruno seperti Christian Eriksen saja hanya memiliki 12 asis meski akurasi umpannya jauh lebih tinggi dibanding dirinya. Belum lagi jika melihat kelebihan Bruno yang bisa berperan di empat titik di lini tengah yaitu sebagai attacking midfielder, central midfielder, left winger, dan second striker. Umpan-umpan yang tidak akurat tersebut bukan tidak mungkin muncul ketika ia tidak dimainkan di posisi favoritnya yaitu gelandang serang.

Dia memang menjadi pemain dengan penguasaan bola terburuk di kompetisi Liga Portugal musim lalu. Tercatat ada 71 kali ia kehilangan bola dan 61 kali salah penempatan posisi. Jumlah ini menempatkan Bruno pada urutan ke-5 untuk pemain di sektor gelandang. Di kubu United, hanya Paul Pogba gelandang yang paling sering kehilangan bola. Namun kembali lagi, menilai Bruno sebagai pemain yang buruk hanya karena sering kehilangan bola juga tidak proporsional mengingat ia sering dimainkan sebagai seorang penyerang.

Dalam tubuh United sendiri masih banyak pemain yang lebih sering kehilangan bola dibanding Bruno meski hanya bermain di satu posisi. Sebut saja Paul Pogba, Marcus Rashford, Anthony Martial, hingga Alexis Sanchez. Selain itu, tidak tertariknya United kepada Bruno mungkin disebabkan karena Ole Gunnar Solskjaer yang dalam transfer musim lalu hanya mencari pemain-pemain Britania. Jika hal itu yang terjadi, maka target utama United sebenarnya adalah Sean Longstaff.

Dari Isco Hingga Matthijs de Ligt

Penolakan membeli pemain oleh para pemandu bakat United sebenarnya bukan kali ini saja terjadi. Pada 2013 lalu, United punya kesempatan untuk merekrut Isco yang ketika itu masih bermain untuk Malaga. Beberapa kali perwakilan United menonton pemain Spanyol ini hingga akhirnya mereka memutuskan untuk tidak membelinya. Alasannya sederhana: kepala Isco terlalu besar.

“Dia adalah pemain bagus, tetapi tidak cukup cepat dan kepalanya terlalu besar untuk tubuhnya,” tutur Andy Mitten, salah satu penulis kondang yang akrab dengan Manchester United.

Selain Isco ada duet Matthijs de Ligt dan Frenkie de Jong yang pernah ditolak oleh United. Namun yang membedakan adalah, De Ligt dan De Jong justru ditolak oleh manajemen United. Saat itu, Derek Langley, pemandu bakat Setan Merah yang sudah bekerja selama 16 tahun menawarkan kedua pemain ini. Akan tetapi, rekomendasi Langley ditolak yang kemudian membuat ia dan Woodward berseteru hingga akhirnya Langley dipecat oleh United.

Santer beredar kalau De Ligt ditolak United karena ia memiliki ayah yang kegemukan. Pihak United khawatir kalau faktor kegemukan tersebut akan menurun ke si pemain. “Belum lama ini, ayah saya dibilang terlalu gemuk, itulah sebabnya ada sebuah klub tidak menginginkan saya. Sangat menyebalkan mengingat momen itu,” tuturnya.

Di usianya yang baru 20 tahun, De Ligt memiliki tinggi 189cm dengan berat badan 89 kg. Sebagai sebuah pembanding, Maguire memiliki tinggi 194cm dengan berat badan 100 kg. Dari sini sebenarnya terlihat kalau berat badan bukan menjadi masalah utama bagi United untuk tidak merekrut De Ligt.

Comments

Loading...