OUR NETWORK

Alexis Sanchez (2): Si Periang yang Terisolasi

Karier Sanchez di United berakhir dengan ironis. Ia hanya membawa lima gol saja dari 45 penampilan. Jumlah ini sama dengan catatan Teemu Pukki yang hanya membutuhkan tiga laga Premier League saja untuk menyamai torehan Sanchez yang ia buat di semua kompetisi.

Pada awal kedatangannya, Sanchez mengungkapkan kalau dia akan membuat bahagia seluruh pendukung United dengan permainan sepakbolanya. “Saya akan mencoba untuk bahagia dengan sepakbola cara saya. Ibu saya suka mengatakan untuk menikmati sepakbola karena itu adalah permainan yang saya sukai.”

Namun alih-alih bahagia, Sanchez justru mendapat bencana. Ia tersingkir dari skuad. Ketika dimainkan, tidak jarang ia kerap tidak bisa menguasai bola. Masih ingat pertandingan derby Manchester pada bulan April lalu ketika ia mendapat 1,3 miliar rupiah (bonus penampilan) dari MU meski hanya satu kali menyentuh bola.

“Jika aku jarang menyentuh bola, maka aku tidak bisa untuk mengeluarkan permainan terbaikku,” tutur Sanchez. “Bagaimana bisa aku menunjukkan permainan saya jika setiap pekannya saya hanya menjadi starter di satu pertandingan, lalu menjadi pemain cadangan pada permainan selanjutnya. Saya sudah terbiasa dengan bermain.”

Seperti disinggung pada bagian pertama. Sanchez tidak benar-benar diinginkan oleh United, terutama oleh Ole Gunnar Solskjaer, yang diharapkan bisa memberikan kejayaan untuk klub pada masa depan. Meski kerap menyebut kalau ia butuh ketajamannya di lini depan, namun pria asli Norwegia ini lebih memilih poros depan diisi oleh kuartet Pogba-Lingard-Martial-Rashford dengan satu pemain alternatif dari bangku cadangan, Mason Greenwood. Hal ini yang membuat mantan pemain Udinese nampak terisolasi di kota Manchester.

“Dia (Solskjaer) belum banyak berbicara kepada saya tentang apa yang harus saya lakukan di lapangan. Tapi saya merasa kalau saya sudah tahu apa saja yang harus saya lakukan dan apa yang tidak boleh saya lakukan, karena saya adalah pemain yang sudah memiliki pengalaman,” ujarnya menambahkan.

Tidak hanya secara taktikal, Sanchez juga dikabarkan terisolasi secara sosial. Cukup ironis sebenarnya mengingat di United ada beberapa pemain yang bisa berbahasa Spanyol dan bahkan berasal dari Amerika Latin. Menurut penuturan jurnalis Manchester Evening News, Samuel Luckhurst, beberapa penggawa United tidak percaya ketika Sanchez masih nongol ketika tim mengadakan acara makan jelang musim 2019/2020 dimulai.

“Setiap Sanchez mendapat jatah libur, dia selalu kembali ke London dari stasiun Wilmslow. Bahkan beberapa pemain United terkejut ketika Sanchez masih menghadiri acara makan bersama tim di Spinningfields tiga minggu lalu. Beberapa rekan setimnya berasumsi kalau mereka tidak akan melihat Sanchez lagi,” tutur Samuel.

“Sanchez terisolasi setelah Lukaku pindah ke Inter Milan. Pasangan ini mencari hiburan satu sama lain ketika tim berlatih terpisah pada awal bulan ini. Kedua pemain ini masih berhubungan dan Lukaku beberapa kali melobi pelatih Inter, Antonio Conte untuk menyatukan mereka.”

Ketika beberapa media berkumpul pada awal Agustus lalu, Sanchez dan Lukaku sudah menjalani pemotretan 30 menit lebih awal sebelum pemain lain datang. Namun rekaman tersebut tidak digunakan. Selain itu, Sanchez memilih untuk menolak diwawancara menurut penuturan salah satu saksi mata di sana.

“Sanchez yang sekarang berbeda dibanding awal Februari 2019 ketika ia muncul di Carrington dengan riang, melambaikan tangan ke arah para jurnalis yang mengajukan beberapa pertanyaan dari luar ruang pers,” ujarnya menambahkan.

Selain itu, ia juga mengungkapkan kalau Solskjaer kerap tidak yakin meski ucapannya selalu bernada optimis jika diberikan pertanyaan terkait Sanchez. Hal ini yang mempertegas kalau pemain yang ditukar dengan Henrikh Mkhitaryan benar-benar berusaha untuk disingkirkan meski secara performa dan taktik, ia tidak cocok dengan skema Solskjaer.

“Solskjaer menyebut Sanchez sebagai pemain berkualitas, pemain bagus, dan bermain apik saat laga tertutup melawan Sheffield United. Namun penyampaiannya tidak terlalu meyakinkan. Sanchez sebenarnya bisa ikut ke Oslo (vs Kristiansund) dan Cardiff (vs Milan) dan bermain pada laga melawan Chelsea, Wolves, dan Crystal Palace. Solskjaer mengklaim kalau setiap pemain akan mendapat kesempatan namun ia tetap tidak kunjung mendapatkannya.”

***

Sanchez datang dengan video penyambutan yang meriah yaitu memainkan piano. Postingan tersebut mendapat respons yang luar biasa di media sosial. Bahkan interaksinya 75 persen lebih banyak dibanding saat Neymar pindah ke PSG. Jersey nomor tujuhnya langsung mengalami peningkatan pesat hingga tiga kali lipat.

Namun cerita Sanchez seolah berhenti di sektor ini. Selebihnya, United tidak mendapatkan apa-apa selain keuangan mereka yang terus dikeruk oleh Sanchez melalui gaji dan bonus, yang sudah disepakati bersama agennya. Di tempat lain, Manchester City mungkin sedang bersyukur karena tidak jadi membelinya saat itu.

“Orang dalam City berkata kepada MEN kalau saat itu Sanchez diminta memilih apakah meraih piala atau mendapatkan uang. Sumber lainnya saat itu menyebut kalau City tidak memaksakan kedatangan Sanchez terjadi karena pendukung menginginkan target yang jauh lebih besar pada musim panas. Riyad Mahrez kemudian yang dipilih. Bukan nama besar namun City berhasil menyapu seluruh gelar domestik.”

“Sikap City akhirnya mendapat ganjaran karena perekrutan Sanchez membuat seluruh lini di United bertikai karena statusnya (pemain bergaji termahal). Pogba mulai berontak dan Anthony Martial tersingkir dari posisinya. Kelompok orang-orang berbahasa Prancis kemudian menjauhi Lukaku yang memilih untuk berteman dengan Sanchez.”

 

Comments

Loading...