in

Ini Alasan Kesebelasan Inggris Selalu Gagal di Liga Champions Menurut Mourinho

Manchester United kembali berlaga di Liga Champions musim ini. Meski para penggemar dan pemain memasang targer meraih trofi “Si Kuping Lebar” di akhir musim, tapi Jose Mourinho punya pandangan berbeda.

Mou bukannya tak yakin United bisa menjuarai Liga Champions musim ini, tapi ia menyadari bahwa kesebelasan asal Britania Raya masih akan kesulitan untuk memenangkannya. Chelsea merupakan kesebelasan Premier League terakhir yang menjuarai Liga Champions pada 2011/2012 silam. Setelah itu, prestasi terbaik kesebelasan negeri Ratu Elizabeth itu hanya mampu lolos melewati babak 16 besar setiap musim hingga saat ini.

United menjadi salah satu kesebelasan Inggris yang sempat mencapai babak perempat final pada musim 2013/2014, ketika dibesut oleh pelatih David Moyes; musim pertama setelah pensiunnya manajer legendaris Sir Alex Ferguson. Sialnya, musim berikutnya United malah tak lolos untuk pertama kali setelah 18 tahun, dan Moyes dipecat jelang akhir musim. Sedangkan gelar juara sendiri terakhir kali direbut tim Setan Merah pada 10 tahun silam, tepatnya pada musim 2007/2008. Musim berikutnya, United kembali masuk final. Begitu pula di musim 2010/2011. Namun, keduanya gagal meraih trofi.

Lalu, mengapa kini Mourinho beranggapan bahwa klub-klub asal Inggris masih akan kesulitan untuk menjuarai Liga Champions seperti dalam lima musim terakhir? Ternyata, jadwal pertandingan di Premier League yang sangat padat menjadi alasan utama sang manajer berjuluk The Special One tersebut. Menurutnya, tidak adanya jeda pada musim dingin di kompetisi domestik membuat tim-tim asal Inggris gagal berprestasi di Liga Champions dalam lima musim terakhir. Masa itu dikenal dengan istilah periode boxing day di Inggris, di mana liga-liga lain sedang libur Natal dan Tahun Baru.

Mourinho sendiri sebenarnya menyukai periode boxing day tersebut. Namun menurutnya, hal itu sangat menganggu perjalanan klub-klub Inggris di kompetisi level Eropa, terutama di Liga Champions di mana persaingannya berlangsung sangat ketat.

Pelatih berkebangsaan Portugal itu pun sempat merasakan beratnya masa-masa tersebut pada musim lalu, saat United berkompetisi di Liga Europa. Mourinho pun menyampaikan kritik kepada penyelenggara Premier League saat itu, karena timnya harus menghadapi jadwal padat di level domestik jelang menghadapi babak penting di Liga Europa.

Pelatih berusia 54 tahun itu menyebut sama sekali tak ada perlindungan bagi klub yang berkompetisi di Eropa oleh penyelenggara Premier League. Menurutnya, hal itu sangat jauh berbeda dengan liga-liga besar lainnya di ‘benua biru’ yang memberikan perlindungan bagi klub-klub mereka.

Makanya, Morinho meyakini hal tersebut yang membuat tim asal Inggris selalu kesulitan. Dia mencontohkan bagaimana Real Madrid atau Juventus bisa menghadapi laga-laga terakhir di liga domestik dengan tenang, demi menyiapkan kekuatan terbaik untuk menghadapi laga pamungkas di Liga Champions.

“Satu hal yang bisa saya katakan, tahun lalu Madrid memainkan laga bulan terakhir di La Liga dengan menurunkan tim kedua. Mereka bisa melakukan itu dan berlaga di final Liga Champions dengan tim dalam kondisi terbaik.”

“Sedang Juventus sudah jadi juara di Italia tiga bulan lebih cepat sehingga bisa menurunkan tim terbaik di perempat final, semifinal, dan final. Bagi tim Inggris, normalnya, hal itu mustahil terjadi. Tidak ada jeda musim dingin seperti di negara lain, tapi saya harus mengakui, saya menyukai periode Natal di sepakbola Inggris,” ungkap Mourinho seperti dilansir Goal Internasional.

“Negara-negara lain melindungi klub mereka. Sebagai contoh, Benfica main di hari Jumat. Mereka selalu melakukannya di Portugal dan Italia. Paris Saint-Germain bermain di hari Jumat. Itu selalu terjadi. Tapi tidak ada keluhan. Kami punya suatu skuat, jika Anda melihat pemain yang kelelahan maka Anda harus memainkan yang lain,” pungkas Mourinho seakan pasrah dengan kondisi tersebut.

Oleh karena itu, pada musim ini dia berusaha mematangkan timnya dengan komposisi dan kualitas yang merata pada setiap pemain, sehingga bisa dengan muda melakukan rotasi di Liga Champions.

Facebook Comments
Loading...

Written by Ade Marza

Ade Marza

Penikmat kopi dan sepakbola.