OUR NETWORK

Gambaran Rasisme di Serie A Menurut Chris Smalling

Rasisme merupakan masalah “abadi” yang sampai saat ini masih berlangasung di Italia. Yang terbaru bahkan sempat terjadi kepada mantan pemain Manchester United Romelu Lukaku saat Inter berlaga melawan Cagliari beberapa pekan lalu. Hal ini mengundang respon dari bek United yang dipinjamkan ke AS Roma, Chirs Smalling, untuk angkat bicara tentang pandangannya mengenai rasisme di Serie A.

Pemain asal Inggris itu menggambarkan bahwa rasisme sebagai masalah yang “tidak dapat diterima” dan “menyedihkan”, yang selalu mempengaruhi semua aspek di dalam sepakbola. Namun menurutnya, rasisme tidak akan lagi bertahan lama, dan mulai berkurang di tahun-tahun mendatang. Ia berbicara tentang masalah ini selama konferensi pers sebagai pemain Roma, setelah bergabung dengan dari Manchester United dengan kesepakatan pinjaman selama musim dan bayaran sekitar 3 juta euro (2,7 juta paun).

Smalling sendiri tampak tegas dalam menanggapi persoalan rasisme ini, apalagi setelah Romelu Lukaku –mantan rekan setimnya di United– menjadi sasaran nyanyian rasis ketika ia mengambil penalti untuk Internazionale dalam kemenangan 2-1 di Cagliari beberapa pekan lalu. Setelah kejadian tersebut, Serie A kemudian meluncurkan investigasi atas insiden yang terjadi. Namun, Lukaku malah mendapatkan sedikit tamparan dari ultras Inter dengan sebuah surat terbuka, di mana mereka bersikeras bahwa nyanyian monyet di Italia tidak bisa dikatakan rasis.

Berbicara tentang rasisme di depan pers, Smalling lalu menanggapi hal tersebut dengan mengatakan bahwa rasisme adalah sebuah tindakan yang tidak dapat diterima dan tidak boleh diperjuangkan. Baginya, perlu ada perubahan yang signifikan untuk membuat rasisme hilang dari sepakbola. Ini semua agar para generasi penerus akan memiliki sebuah perspektif baru (soal apapun di sepakbola) tanpa rasis.

“Saya pikir rasisme tidak dapat diterima dan tidak boleh diperjuangkan. Ini bukan masalah hanya di Italia, tapi di seluruh dunia. Perlu ada perubahan, signifikan agar para generasi muda mulai memiliki perspektif yang berbeda. Tapi itu pasti sulit, dan pasti hal ini akan terulang kembali. Sekali lagi, tidak hanya di Italia, tetapi di seluruh dunia, dan sangat menyedihkan bahwa hal semacam itu masih terjadi di zaman modern,” tutur Chris Smalling dikutip dari The Guardian.

Di sisi lain, Chirs Smalling sendiri akan memulai debutnya untuk Roma melawan Sassuolo setelah jeda internasional nanti. Sebelumnya, ia sempat menyaksikan laga derby Roma vs Lazio yang berakhir imbang 1-1 dari bangku cadangan. Maka menanggapi hal ini, bek tengah yang telah membuat lebih dari 200 penampilan untuk United, merasa yakin bahwa ia bisa sukses di Serie A setelah ia ingin bermain di divisi teratas Italia untuk beberapa waktu mendatang.

“Ada banyak tanggung jawab pada aspek pertahanan secara keseluruhan di Italia, dan bek tengah punya tugas untuk itu. Ini adalah sesuatu yang saya nikmati. Saya suka mendorong tempo, bermain sedikit ke atas, dan menjaga kestabilan lini belakang. Manajer (AS Roma) ingin saya memainkan pola-pola itu. Saya adalah seorang bek dan saya suka bertahan. Jadi saya pikir Serie A adalah jalan sepakbola yang sempurna bagi saya, dan mudah-mudahan memungkinkan saya untuk menunjukkan kualitas saya yang sebenarnya,“ pungkas Smalling.

“Saya pikir Serie A selalu menjadi tujuan saya untuk bermain dalam satu hari, karena sebagai bek, jika Anda mendapatkan kesempatan untuk bermain di Serie A, Anda pasti ingin mewujudkannya. Saya pikir saya telah banyak bermain di Premier League, dan sekarang saya bisa membawa kualitas saya yang telah saya pelajari ke Italia, dan itu adalah sesuatu yang benar-benar saya tunggu-tunggu.”

Sementara itu, ketika Chris Smalling ditanya mengenai program amal dan pola makan vegannya, ia mengatakan bahwa ia sudah memberi tahu semua pihak klub Roma sebelum ia pindah dari United soal hal itu. Meskipun nantinya tampak agak aneh karena pria 29 tahun itu akan punya menu spesial sendiri, namun ia bersikeras jika dirinya tidak akan khawatir soal hal-hal semacam itu, dan lebih memilih fokus untuk prioritas yang lebih krusial.

“Ketika saya berbicara dengan klub, mereka tahu saya punya pekerjaan amal, dan juga saya punya gaya hidup vegan. Klub sudah tahu, dan jawaban mereka membuat saya merasa nyaman. Saya sudah berbicara tentang koki dan ahli gizi, dan kami sedang melihat berbagai menu untuk apa saja yang saya konsumsi. Saya tidak khawatir tentang hal itu. Klub ini hebat, mereka bahkan membantu semua yang saya butuhkan dari berburu rumah ke hal yang lainnya. Respon mereka membuat saya nyaman,” ungkap pemain kebangsaan Inggris tersebut.

“Saya suka menjalani hidup saya tanpa penyesalan, jadi saya berharap untuk membangun perjalanan ini dan memanfaatkannya sebaik mungkin. Dan dua minggu jeda internasional ini merupakan kesempatan sempurna bagi saya untuk mengenal para pemain di sini, dan saya akan belajar untuk mengetahui gaya permainan yang diinginkan manajer. Itu semua berguna untuk saya agar bisa bersiap ketika pertandingan Serie A dimulai lagi.”

Catatan redaksi: kutipan diambil dari The Guardian

Comments

Loading...