OUR NETWORK

Fitnah, Dengki, dan Kecemburuan (1)

Perjalanan Manchester United pada musim 2021/2022 resmi berakhir. Sayangnya, akhir dari kampanye musim ini bisa dibilang sangat buruk. United finis dengan poin terendah sepanjang sejarah Premier League dan memiliki selisih gol 0.

Musim ini memang tidak lepas dari banyaknya hal buruk yang mengitari. Salah satunya adalah gesekan di ruang ganti yang menjadi akar dari pencapaian saat ini. Salah satu wartawan Samuel Luckhurst, menulis dalam Manchester Evening News tentang apa saja yang terjadi sepanjang musim ini. Dari tulisannya inilah diketahui bahwa United memang tidak sedang baik-baik saja dengan satu tim diisi dengan banyaknya fitnah, dengki, kecemburuan, hingga ketidakpercayaan.

***

“Apa pendapatmu tentang Rangnick?” Begitulah salah satu wartawan bertanya kepada mantan anggota staf senior Manchester United. Balasannya adalah emoji facepalm. Baru-baru ini, sang mantan staf itu juga menyebut kalau United berada dalam masalah yang begitu besar.

Musim Manchester United sebenarnya sudah berakhir ketika Ole Gunnar Solskjaer dipecat. Segalanya kemudian tidak membaik meski menunjuk manajer interim.

Seorang pemain Everton memberi tahu orang kepercayaannya kalau permainan United saat itu mengingatkan dia dengan hasil 4-0 yang mereka raih di tempat yang sama pada 2019. Beberapa pemain Everton lain terkejut kalau ternyata United bisa seburuk itu mainnya. Sebuah reaksi yang tidak perlu dilebih-lebihkan karena setelahnya United mendapat kekalahan yang lebih buruk lagi yaitu 4-0 dari Brighton.

Setelah kekalahan memalukan itu, Cristiano Ronaldo memilih untuk sendirian di ruang ganti United selama 20 menit. Ronaldo saat itu diminta untuk cepat keluar karena sopirnya sudah menunggu tapi ia memilih kembali masuk ke dalam ruangan. Di sisi lain, pemain United lain sudah buru-buru pulang karena ingin mengincar libur satu hari yang diberikan klub dan mereka pergi secara terpisah.

Ronaldo memilih memisahkan diri dari teman-temannya. Ia memilih untuk merenung dan mencoba merasakan kemarahan suporter United saat itu yang mengeluarkan chant “Kamu tidak layak mengenakan kaus itu.”

United memang tidak lagi memiliki sosok berkarakter di ruang ganti yang bisa membuat manajer sementara mereka bekerja dengan baik. Dalam hal ini adalah Rangnick. Tapi hal itu bukan hal yang langka karena otoritas manajer United pun selalu mudah terkikis pada bulan-bulan terakhir masa jabatannya seperti yang dialami Mourinho hingga Solskjaer. Bahkan Solskjaer dianggap lebih cocok jadi guru oleh beberapa pemain dan itu juga yang menimpa Rangnick sekarang ini.

Oleh karena itulah Rangnick menjadi frontal dengan beberapa kali menyebut kalau United saat ini layaknya orang yang sedang menderita sakit jantung parah sehingga harus dioperasi secara terbuka. Hal ini tidak lepas dari banyaknya pemain United yang tidak percara dengan metode kepelatihan Rangnick.

Rangnick pun bingung. Ia kemudian lebih banyak berbicara dengan Mike Phelan. Sayangnya, kedua orang ini tidak bisa bekerja dengan baik sepanjang musim ini. Ada jurang yang terpisah antara kubu Rangnick dengan kubu Phelan sehingga keduanya sulit untuk bersatu.

Saat kalah dari Brighton beberapa waktu lalu, Phelan memilih bercengkrama dengan Danny Welbeck. Di sisi lain, Rangnick sibuk bersama Armas dan Ewan Sharp.

Bersambung

Comments

Loading...