Foto: Manchester Evening News

Tidak ada kesebelasan yang jalan cerita di dunia sepakbola bagaikan sinetron drama selain Manchester United.

Awal musim kompetisi 2022/2023 berjalan sangat tragis bagi Manchester United. Dua pertandingan berakhir dengan dua kekalahan. Satu di kandang dan satu lagi berakhir telak dengan skor mencolok 4-0. Gawang mereka sudah kebobolan enam dan baru mencetak satu gol ke gawang lawan. Sialnya, satu gol itu juga bukan hadir dari pemain mereka. Makin sahih Manchester United menjadi tim terburuk di liga sejauh ini.

Setiap kali United kalah pertanyaan yang sama selalu muncul. Apa yang salah? Tentu banyak hal yang bisa dijadikan alasan, dari manajemen yang dianggap tidak fokus kepada kelangsungan hidup United, para pemain yang tidak punya mental atau formasinya yang salah.

Siapa yang salah? Dari sini banyak kambing hitam bermunculan. Apakah sederet masalah ini karena keluarga Glazer? Atau karena McTominay dan Fred yang selalu main? Atau Maguire yang dianggap tidak punya wibawa? Atau karena Ten Hag yang memaksakan filosofinya disaat pemain ini tidak punya kedisiplinan bagus untuk menjalankannya? Atau John Murtough yang membuat United lambat di lantai bursa untuk mencari pemain terbaik?

Dua minggu ini menjadi bukti kalau drama dalam tubuh Manchester United belum juga selesai. Masuknya Ed Woodward dan kehadiran Erik ten Hag ternyata tidak juga membuat suasana klub menjadi kondusif.

Rasanya, baru kemarin suporter United mendadak optimis ketika melihat United bisa menang 4-0 melawan Liverpool di Bangkok Century Cup. Ada yang merasa kalau kemenangan itu biasa saja. Tapi ada juga yang menganggap kalau kemenangan itu adalah titik perubahan kalau United bisa bersaing dengan Liverpool atau bahkan City. Sampai-sampai ada istilah “Tsunami Trofi” saking gembiranya melihat rival abadinya tidak bisa cetak gol sama sekali.

Lalu kemana permainan apik di Bangkok (dan Australia) itu? Sebenarnya filosofi sepakbola Ten Hag itu terlihat pada menit-menit awal melawan Brighton. Polanya tersusun dengan baik. Sayangnya, pemain yang tidak displin dan konsisten menjalankan taktik itu merusak semuanya. Ini yang membuat laju United berantakan. Kesalahan selalu dibuat bergantian dari para pemain mulai dari McTominay dan Fred, Dalot, lalu De Gea.

Lalu sebenarnya apa yang salah? Sulit untuk menyalahkan salah satu pihak karena semua memang terlibat. Pemilik United sudah kita ketahui bersama bagaimana bobroknya mereka dalam menjalankan klub. Sesuatu yang dilontarkan Gary Neville dengan penuh rasa benci ketika menjadi pundit di Sky Sports kemarin.

Tapi perlu diingat kalau para pemain adalah orang yang mengimplementasikan taktik manajer di atas lapangan. Pemain-pemain United yang ada saat ini bergaji tinggi, punya nama besar, berkualitas di klub-klub sebelumnya, tapi mereka semua bisa dikatakan ndableg. Harus manajer seperti apa yang bisa membuat mereka bermain bagus sebagai satu kesatuan. Tiap kali manajer baru datang, dengan segala plan yang dibawa, para pemain ini banyak yang tidak bisa menerima, paham, dan mencerna instruksi itu dengan baik.

Manajemen yang tampak belum paham bagaimana menjalankan sebuah klub sepakbola dengan baik dan benar, juga turut andil. Terlihat jelas dalam rekrutmen United yang seperti tidak jelas arahnya mau ke mana. United saat ini seperti sebuah klub yang hidup dalam lingkaran setan. Hampir di setiap jajarannya punya dosa yang sama besarnya.

Kehilangan Sir Alex Ferguson dan David Gill adalah awal dari kisah segala drama yang hadir saat ini. Saat keduanya mundur, klub tampak tidak siap untuk meneruskan warisan mereka. Dua nama itu pensiun di saat yang tepat meski beberapa musim sebelum Fergie pensiun, terlihat jelas United era Ferguson kesusahan berhadapan dengan tim yang taktiknya lebih modern.

Kalau sudah seperti ini, rasanya kasihan melihat Ten Hag. Ia punya ide dan filosofi sepakbola yang sebenarnya sangat bagus. Tapi Manchester United jelas beda dengan Ajax Amsterdam. Klub Belanda itu sudah memiliki struktur manajemen yang tepat dari atas hingga ke level bawah. Hal ini tentu saja memudahkan kerja Ten Hag yang kemudian membawanya sampai ke United.

Di sisi lain, United sendiri belum bisa menjadi tempat ideal bagi pelatih mana pun. Yang ada, United justru menjadi kuburan bagi mereka-mereka yang sebelumnya punya CV yang bagus.

Entah Siapa yang Salah!