OUR NETWORK

Akhir Manis Karier Yaya Toure

Gelandang senior Manchester City, Yaya Toure, merasa senang karena telah membantu merampas kejayaan Manchester United dari tempatnya. Ia menganggap jika hal seperti ini adalah sebuah pencapaian terbesarnya selama berada di Etihad.

Yaya Touré yakin bahwa pencapaian terbesarnya di Manchester City adalah membantu klub menyingkirkan MU sebagai unggulan di Premier League. Pria asal Pantai Gading itu diberikan kesempatan langka oleh Pep Guardiola pada tengah pekan lalu. Ia diturunkan dalam pertandingan menghadapi Brighton & Hove Albion yang merupakan pertandingan kandang terakhirnya sebelum meninggalkan klub musim panas ini.

Sejak bergabung dari Barcelona pada 2010 dengan harga transfer yang mencapai 24 juta paun, pemain berusia 34 tahun itu telah memenangi tiga gelar Premier League, Piala FA, dan dua Piala Liga. Secara total, Manchester City telah memenangi tujuh trofi utama selama delapan tahun bersama Touré. Dengan pencapaian seperti ini, mereka berhasil merusak kedigdayaan United sebagai tim yang paling sukses di Inggris.

“Jujur, menggeser United adalah pencapaian terbaik saya. Itu benar, ketika saya datang ke City, mereka adalah klub besar. Jadi saya harus menempatkan mereka dalam bayangan semu ketika saya datang. Mungkin City tidak dapat membandingkan dengan pencapaian piala mereka. Begitu banyak final Liga Champions yang telah mereka lewatkan. Tapi itulah tujuannya. Saya datang ke City untuk menempatkan United dalam bayang-bayang klub ini, meski itu selalu sulit,” tutur Yaya Toure.

Menggeser Kedigdayaan Manchester United

Tapi memang tak terbantahkan, jika City sudah melengserkan United dari puncak teratas tim dengan kekuatan besar di Premier League. Melihat hal ini, Touré lalu mengingat bahwa semifinal Piala FA pada 2011 adalah kunci penting City dalam pergantian kekuasaan dari United ke City.

“Semifinal Piala FA 2011 adalah bagian besar dari itu. Meski sebelumnya saya juga telah berhubungan baik dengan Rio Ferdinand, sebagai pemain ataupun sebagai rekan pribadi. Ketika saya mencetak gol kala itu, tentu saja dia marah kepada saya. Mereka tahu City akan datang untuk menghancurkan barisan tim mereka,” pungkas Yaya Toure.

“United berada di jalan yang kami rencanakan. Kami pun harus menyingkirkan mereka waktu itu. Mereka memiliki kekuatan menakutkan dengan skema yang datangnya masih dari Sir Alex Ferguson, dan mereka juga telah memenangkan liga di tahun itu. Mereka sangat memiliki kepercayaan diri, dan mereka pikir mereka bisa mengalahkan kami. Tapi nyatanya, sekarang tidak sama sekali.”

Dengan kepastian bahwa ia akan hengkang di akhir musim, Yaya Toure merasa jika ia akan sangat merindukan momen-momen yang telah ia alami selama bermain di Etihad. Namun meskipun begitu, perpisahannya dengan Manchetser City dirasa sangat spesial karena mereka berhasil memenangkan gelar Premier League, dan juga kembali menghancurkan kedigdayaan Manchester United di musim ini.

Baca juga: Bayang-Bayang Manchester City di Sepakbola Perempuan

“Saya tidak akan pernah melupakan momen-momen itu, karena United sering kehilangan peluang besar jika menghadapi kami. Bahkan sering sekali disaat istirahat tengah waktu, kami selalu hampir bertempur di ruang ganti. Itu adalah penanda momen bahwa kami harus pergi dan bermain seperti laki-laki atau pulang dengan tangan kosong,” kenang eks gelandang Barcelona tersebut.

“Saya akan merindukan momen-momen seperti itu, saya juga akan sangat kehilangan rekan-rekan setim saya. Saya juga bahkan akan merindukan si kecil Sterling dan Sane. Mereka terlihat seperti bayi bagi saya.”

Baca juga: Rio Ferdinand, Sanchez, dan Manchester City

 

Sumber: The Guardian

Comments

Loading...